Contoh Asuhan Keperawatan (ASKEP) Dengan CA Saluran Kemih

ASUHAN KEPERAWATAN Dengan CA Saluran Kemih


A. PENGKAJIAN
a.Identitas pasien
b.Riwayat keperawatan
�Riwayat penyakit sekarang
�Riwayat penyakit masa lalu
�Riwayat kesehatan keluarga, penyakit yang pernah diderita anggota keluarga yang menjadi faktor resiko.
�riwayat psikososial dan sepriritual
�kondisi lingkungan rumah
�Kebiasaan sehari-hari (pola eliminasi bak,pola aktivitas dan latihan,pola kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan (rokok,ketergantungan obat,minuman keras)
c.Pemeriksaan fisik
Nyeri /ktidak nyamanan : nyeri tekan abdomen,nyeri tekan pada area ginjal pada saat palpasi,nyeri dapat digambarkan sebagai acut,hebat,tidak hilang dengan posisi atau tindakan lain.
B.RENCANA KEPERAWATAN
Perubahan kenyamanan nyeri b/d trauma jaringan
Kriteria hasil :
Individu akan
1.Memperlihatkan bahwa orang lain membenarkan nyeri itu ada.
2.Memperlihatkan pengurangan nyeri setelah melakukan tindakan penurunan rasa nyeri yang memuaskan.
3.Anak-anak akan, berdasarkan usia dan kemampuannya :
a.Mengidentifikasi sumber-sumber nyeri.
b.Mengidentifikasi aktivitas yang akan meningkatkan dan menurunkan nyeri.
c. Menggambarkan rasa nyaman dari orang-orang lain selama mengalami nyeri.
Intervensi :
1.Tingkatkan pengetahuan
a.Jelaskan sebab-sebab nyeri kepada individu, jika diketahui.
b.Menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung, jika diketahui.
c.Jelaskan pemeriksaan diagnostik dan prosedur secara detail dengan menghubungkan ketidaknyamanan dan sensasi yang akan dirasakan, dan perkiraan lamanya terjadi nyeri.
2.Berikan informasi yang akurat untuk mengurangi rasa takut.
3.Hubungkan penerimaan anda tentang respons individu terhadap nyeri.
a.Mengenali adanya rasa nyeri.
b.Mendengarkan dengan penuh perhatian mengenai nyeri.
c.Memperlihatkan bahwa anda sedang mengkaji nyeri karena anda ingin mengerti lebih baik (bukan untuk menentukan apakah nyeri tersebut benar-benar ada).
4.Kaji keluarga untuk mengetahui adanya kesalahan konsep tentang nyeri atau penanganannya.
5.Bicarakan alasan-alasan mengapa individu dapat mengalami peningkatan atau penurunan nyeri (mis; keletihan meningkatkan nyeri, distraksi menurunkan nyeri).
a.Berikan dorongan anggota keluarga untuk saling menceritakan rasa prihatinnya secara pribadi.
b.Kaji apakah keluarga menyangsikan nyeri dan bicarakan pengaruhnya pada individu yang mengalami nyeri.
c.Anjurkan keluarga untuk tetap memberikan perhatian walaupun nyeri tidak diperlihatkan.
6.Berikan kesempatan kepada individu untuk istirahat selama siang dan waktu tidur yang tidak terganggu pada malam hari.
7.Bicarakan dengan individu dan keluarga penggunaan terapi distraksi, bersamaan dengan metode lain untuk menurunkan nyeri.
8.Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut, bernapas dengan teratur.
9.Ajarkan penurunan nyeri noninvasif
a.Relaksasi
�Intruksikan teknik-teknik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri.
�Tingkatkan relaksasi pijat punggung, masase, atau mandi air hangat.
�Ajarkan teknik relaksasi khusus (mis; bernapas perlahan, teratur, dan napas dalam-kepalkan tinju-menguap)
b.Stimulasi kutan
�Bicarakan dengan individu berbagai metoda stimulasi kulit dan efek-efeknya pada nyeri.
�Bicarakan setiap metoda berikut ini dan tindakan kewaspadaannya:
1.Botol air panas
2.Bantalan pemanas listrik
3.Mandi rendam air hangat
4.Kantung panas lembab
5.Hangatnya sinar matahari
6.Selimut dari plastik diatas area yang sakit untuk menahan panas tubuh (mis;lutut, siku)
�Bicarakan setiap metoda berikut dan tindakan kewaspadaannya:
1.Handuk dingin (diperas)
2.Rendaman air dingin
3.Kantung es
4.Kantung jeli dingin
5.Masase es
6.Jelaskan manfaat terapeutik dari preparat mentol dan masase/pijat punggung.
10.Berikan individu pengurang rasa sakit yang optimal dengan analgesik.
11.Setelah pemberian pengurang rasa sakit, kembali 30 menit kemudian untuk mengkaji efektifitasnya.
12.Berikan informasi yang akurat untuk meluruskan kesalahan konsep pada keluarga (mis; ketagihan, ragu-ragu tentang nyeri).
13.Berikan individu kesempatan untuk membicarakan ketakutan, marah, dan rasa frustrasinya di tempat tersendiri, pahami kesukaran situasi.
Berikan dorongan individu untuk membicarakan pengalaman nyerinya.

Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan melemahnya daya tahan penjamu sekunder terhadap terapi radiasi
Kriteria hasil
Individu akan :
1.Memperlihat teknik cuci tangan yang sangat cermat.
2.Bebas dari proses infeksi nosokomial selama perawatan di rumah sakit
3.Memperlihatkan kemampuan tentang faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan infeksi dan melakukan tindakan pencegahan yang tepat untuk mencegah infeksi
Intervensi
1.Identifikasi individu yang berisiko terhadap infeksi nosokomial
a.Kaji terhadap prediktor
�Infeksi (prabedah)
�Operasi abdomen atau thoraks
�Operasi lebih dari 2 jam
�Prosedur genitouranius
�Instrumentasi (ventilator, pengisap, kateter, nebulizer, trakeostomi, alat pemantau invasif)
�Aestesia
b.Kaji terhadap faktor-faktor yang mengacaukan
�Usia lebih muda dari 1 tahun, atau lebih tua dari 65 tahun
�Obesitas
�Kondisi-kondisi penyakit yang mendasari (PPOK, DM, penyakit kardiovaskuler)
�Penyalahgunaan obat terlarang
�Status nutrisi
�Perokok
2.Kurangi organisme-organisme yang masuk ke dalam tubuh
a.Cuci tangan dengan cermat
b.Teknik antiseptik
c.Tindakan isolasi
d.Diagnostik yang perlu atau prosedur terapeutik
e.Pengurangan mikroorganisme yang dapat ditularkan melalui udara
3.Lindungi individu yang defisit imun dari infeksi
a.Instruksikan individu untuk meminta kepada seluruh pengunjung dan personil untuk mencuci tangan sebelum mendekati individu.
b.Batasi pengunjung bila memungkinkan
c.Batasi alat-alat invasif (IV, spesimen laboratorium) untuk yang benar-benar perlu saja.
d.Ajarkan individu dan anggota keluarga tanda dan gejala infeksi
4.Kurangi kerentanan individu terhadap infeksi
a.Dorong dan pertahankan masukan kalori dan protein dalam diet (lihat Perubahan nutrisi).
b.Pantau penggunaan atau penggunaan berlebihan terapi antimikroba.
c.Berikan terapi antimikroba yang telah diresepkan dalam 15 menit dari waktu yang dijadwalkan
d.Minimalkan lamanya tinggal di rumah sakit
5.Amati terhadap manifestasi klinik infeksi (mis; demam, urine keruh, drainase purulen)
6.Instruksikan individu dan keluarga mengenal penyebab, risiko-risiko dan kekuatan penularan infeksi.
7.Laporkan penyakit-penyakit menular.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme:Kanker
Kriteria hasil
Individu akan :
1.Mengidentifikasi faktor-faktor yang menurunkan toleransi aktifitas
2.Memperlihatkan kamajuan (ketingkat yang lebih tinggi dari mobilitas yang mungkin)
3.Memperlihatkan penurunan tanda-tanda hipoksia terhadap aktifitas (nadi, tekanan darah, pernapasan)
4.Melaporkan reduksi gejala-gejala intoleransi aktivitas
Intervensi
1.Kaji respon individu terhadap aktivitas
a.Ukur nadi, tekanan darah, pernapasan saat istirahat
b.Ukur tanda vital segera dan 3 menit setelah istirahat.
c.Hentikan aktivitas klien bila :
�Keluhan nyeri dada, dispnoe, vertigo, kekacauan mental
�Frekwensi nadi menurun
�Tekanan sistolik menurun
�Tekanan diastolik meningkat 15 mmHg
�Frekwensi pernapasan menurun
d.Kurangi intensitas, frekwensi, lamanya aktivitas bila
�Frekwensi nadi lebih dari 3 menit untuk kembali frekwensi awal (atau 6 denyut lebih cepat dari frekwensi awal).
�Frekwensi pernapasan meningkat berlebihan setelah aktivitas.
�Terdapat tanda-tanda hipoksia.
2.Meningkatkan aktivitas secara bertahap
a.Untuk klien yang pernah tirah baring lama, mulai melakukan rentang gerak sedikitnya 2 kali sehari.
b.Rencanakan waktu istirahat sesuai dengan jadwal sehari-hari klien.
c.Berikan kepercayaan kepada klien bahwa mereka dapat meningkatkan status mobilitasnya.
d.Beri penghargaan pada kemajuan yang dicapai.
e.Beri kesempatan klien membuat jadwal aktivitas dan sasaran pencapaian.
f.Tingkatkan toleransi dengan membiarkan klien melakukan aktivitas yang lebih lambat, lebih banyak istirahat, atau dengan banyak bantuan.
g.Secara bertahap tingkatkan aktivitas diluar tempat tidur 15 menit setiap hari, tiga kali sehari.
h.Izinkan klien untuk mengatur frekwensi ambulasi.
i.Anjurkan klien untuk memakai alas kaki yang nyaman.
3.Ajarkan klien metoda penghematan energi untuk aktivitas.
a.Luangkan waktu untuk istirahat.
b.Lebih baik duduk daripada berdiri saat melakukan aktivitas, kecuali hal ini memungkinkan.
c.Saat melakukan suatu aktivitas, istirahat setiap 3 menit selama 5 menit untuk membiarkan jantung pulih.
d.Hentikan aktivitas jika keletihan atau terlihat tanda-tanda hipoksia.
4.Instruksikan klien untuk konsulasi kepada dokter atau ahli terapi fisik untuk program latihan jangka panjang.
Rujuk kepada perawat komunitas untuk tindak lanjut jika diperlukan.
Perubahan pola elimunasi urinarius berhubungan dengan penurunan kapasitas
kandung kemih sekunder terhadap kanker
Kriteria hasil:
Individu akan
1.Menjadi kontinen (terutama selama siang hari, malam, 24 jam)
2.Mampu mengidentifikasi penyebab inkontinens dan rasional untuk pengobatan
Intervensi
1.Pertahankan hidrasi optimal
a.Tingkatkan hidrasi 2000-3000 ml/hari, kecuali ada kontraindikasi.
b.Bagi jarak cairan setiap 2 jam
c.Kurangi masukan cairan setelah jam 19.00
2.Pertahankan nutrisi yang adekuat
3.Tingkatkan berkemih
a.Pastikan privasi dan rasa nyaman.
b.Gunakan fasilitas toilet, jika mungkin, daripada bedpan
c.Berikan klien pria kesempatan berdiri.
d.Bantu individu dengan bedpan untuk memfleksikan lututnya.
4.Tingkatkan integritas personal dan berikan motivasi untuk meningkatkan kontrol kandung kemih.
5.Tunjukkan pada individu bahwa inkontinens dapat disembuhkan atau sedikitnya dikontrol untuk mempertahankan martabat.
6.Harapkan pada individu untuk menjadi kontinen (mis; sarankan menggunakan pakaian ketat, jangan sarankan menggunakan bedpan)
7.Tingkatkan integritas kulit
a.Identifikasi individu yang berisiko mengalami ulkus akibat tekanan.
b.Cuci area, bilas, dan keringkan dengan baik setelah episiode inkontinens.
c.Gunakan salep pelindung, jika diperlukan.
8.Jadwalkan masukan cairan dan waktu berkemih.
9.Jadwalkan program keteterisasi intermitten
10.Ajarkan pencegahan ISK
a.Beri dorongan pengosongan kandung kemih secara teratur.
b.Pastikan masukan cairan yang adekuat.
c.Jaga keasaman urine, hindari jus jeruk nipis, co
BAB III
PENUTUP

A.KESIMPULAN
Kanker kandung kemih adalah papiloma yang tumbuh didalam lumen kandung kemih,meskipun pada pertumbuhannya mungkin menginfiltrasi sampai dinding kandung kemih.
Factor yang mempengaruhi terjadinya karsinoma kandung kemih adalah zat karsinogen,baik eksoghen dari rokok atau bahan kimia atau endogen dari hasil metabolisme.
Penyebab lain diduga akibat dari pemakaian analgetik,sitostatik,dan iritasi kronik oleh batu,sistosomiasis (infeksi parasit karena iritasi kandung kemih),atau radiasi.
Penatalaksanaan: Terapi endoscopik, radiasi, Pembedahan

B.SARAN

Untuk semua untuk berhati-hati dan selalu hidup sehat menjauhi faktor-faktor uang dapat mempengaruhi terjadinya kanker.

DAFTAR PUSTAKA


Burner and Suddarth 1984. Medikal Surgical Nursing. Philadephia : Jb Cippincot Compy

Carpenito, Lynda juall. 2000. Buku Saku Diagnosa keperawatan. Edisi 8. Jakarta : ECG

Doeges, M.E dan Moorhouse M.F Geissler A.C. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta ECG

Harjono. 2000. Kapita Selekta Neurologi. Yogjakartta : GMU. P

0 Response to "Contoh Asuhan Keperawatan (ASKEP) Dengan CA Saluran Kemih"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel