10 Perubahan Anatomi serta Fisiologi Yang Terjadi Pada Ibu Hamil

Pada kehamilan terdapat perubahan pada seluruh tubuh wanita, baik anatomik maupun fisiologik mengalami perubahan khususnya pada alat genitalia eksterna serta interna serta pada payudara (mammae). Dalam hal ini hormone somatomammotropin, estrogen, serta progesteron memiliki peranan penting. 


Berikut perubahan yang terdapat pada wanita hamil antara lain:

1. Perubahan pada uterus

Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama dibawah pengaruh estrogen serta progesteron yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada dasarnya disebabkan oleh hipertropi otot polos uterus, disamping itu, serabut-serabut kolagen yang adapun menjadi higroskopik akibat meningkatnya kadar estrogen sesampai uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin.

Berat uterus normal kurang lebih 30 gram; pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus menjadi 1000 gram, dengan panjang lebih kurang 20 cm serta dinding lebih kurang 2,5 cm. Pada bulan-bulan pertama kehamilan bentuk uterus seperti buah advokad, agak gepeng. Pada kehamilan 4 bulan uterus berbentuk bulat. Selanjutnya pada akhir kehamilan kembali seperti bentuk semula, lonjong seperti telur. Hubungan antara besarnya uterus dengan tuanya kehamilan sangat penting diketahui, antara lain untuk membuat diagnosis apakah wanita tersebut hamil fisiologik, atau hamil ganda, atau menderita penyakit seperti molahidatidosa, dsb.

Pada kehamilan 28 minggu fundus uteri terletak kira-kira 3 jari diatas pusat atau sepertiga jarak antara pusat ke prosessus Xifoideus. Pada kehamilan 32 minggu fundus uteri terletak diantara setengah jarak pusat serta prosessus xifoideus. Pada kehamilan 36 minggu fundus uteri terletak kira-kira 1 jari di bawah prosessus Xifoideus.

2. Perubahan pada servic uteri

Serviks uteri pada kehamilan juga mengaklami perubahan karena hormone estrogen. Jika korpus uteri mengandung lebih banyak jaringan otot, maka serviks lebih banyak mengandung jaringan ikat, hanya 10% jaringan otot. Jaringan ikat pada serviks ini lebih banyak mengandung kolagen. Akibat kadar estrogen meningkat serta dengan adanya hipervaskularisasi maka konsistensi serviks menjadi lunak.

Kelenjar-kelenjar diserviks akan berfungsi lebih serta akan mengeluarkan sekresi lebih banyak. Kadang-kadang wanita yang sedang hamil mengeluh mengeluarkan cairan pervaginam lebih banyak. Keadaan ini sampai batas tertentu masih merupakan keadaan yang fisiologik.

3. Perubahan pada vagina serta vulva

Vagina serta vulva akibat hormon estrogen mengalami perubahan pula. Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina serta vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan. Tanda ini disebut tanda Chadwick. Warna porsio pun tampak livide.

4. Perubahan pada ovarium

Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditis sampai terbentuknya plasenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu. Korpus luteum graviditis berdiameter kira-kira 3 cm. Kemudian, ia mengecil setelah plasenta terbentuk.

5. Perubahan pada mammae atau payudara

Mammae atau payudara akan membesar serta tegang akibat hormone somatomammotropin, estrogen, serta progesteron, akan tetapi belum mengeluarkan air susu. 

Pada kehamilan 12 minggu ke atas dari putting susu dapat keluar cairan berwarna putih agak jernih, disebut kolostrum. Kolostrum ini berasal dari kelenjar-kelenjar asinus yang mulai bersekresi. Sesudah partus, kolostrum ini agak kental serta warnanya agak kuning. Meskipun kolostrum telah dapat dikeluarkan, pengeluaran air susu belum berjalan oleh karena prolaktin ini ditekan oleh PIH (prolacting Inhibiting Hormone)

6. Perubahan pada sirkulasi darah

Sirkulasi darah  ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh-pembuluh darah yang membesar pula, mamma serta alat-alat lain yang memang berfungsi berlebihan dalam kehamilan. Volume darah akan bertambah banyak, kira-kira 25%, dengan puncak kehamilan 32 minggu, diikuti dengan cardiac out put yang meninggi sebanyak kira-kira 30%.

7. Perubahan pada sistem respirasi

Seorang wanita hamil pada kelanjutan kehamilanya tidak jarang mengeluh tentang rasa sesak serta pendek nafas. Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu ke atas oleh karena usus-usus tertekan oleh uterus yang membesar kearah diafragma, sesampai diafragma kurang leluasa bergerak.

8. Perubahan pada traktus digestivus

Pada bulan-bulan pertama kehamilan terdapat perasaan enek (nausea0. mungkin ini akibat kadar hormone estrogen yang meningkat. Tonus-tonus otot traktus digestifus menurun sesampai motilitas seluruh traktus digestifus juga berkurang. Makanan lebih lama berada dalam lambung serta apa yang dicernakan lebih lama dalam usus-usus. Hal ini mungkin baik untuk resorpsi, akan tetapi menimbulkan pula obstipasi, yang memang merupakan salah satu keluhan utama wanita hamil.

9. Perubahan pada traktus urinarius

Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kemih tertekan oleh uterus yang mulai membesar, sesampai timbul sering kencing. Keadaan ini hilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus gravidus keluar dari rongga panggul. Pada akhir kehamilan, bila kepala janin mulai turun kebawah pintu atas panggul, keluhan sering kencing akan timbul lagi karena kandung kencing mulai tertekan kembali.

10. Perubahan pada kulit

Pada kulit terdapat deposit pigmen serta hiperpigmentasi alat-alat tertentu. Pigmentasi ini disebabkan oleh pengaruh melanophone stimulating hormone (MSH) yang meningkat. MSH ini merupakan salah satu hormon yang juga dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis. Kadang-kadang terdapat deposit pigmen dahi, pipi, serta hidung, yang dikenal sebagai kloasma gravidarum

Itulah 10 perubahan anatomi serta fisiologi pada ibu hamil yang akan dialami oleh setiap ibu, semoga seluruh ibu-ibu yang akan hamil atau tengah hamil dapat memahami serta beradaptasi dengan perubahan yang terjadi selama kehamilan.

0 Response to "10 Perubahan Anatomi serta Fisiologi Yang Terjadi Pada Ibu Hamil"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel