Laporan Pendahuan Ca (Karsinoma) Buli-buli / Tumor Buli-buli Lengkap, Download Pdf serta Doc

Teman-teman perawat seluruh Indonesia, kali ini kami bagikan laporan pendahuluan Ca buli-buli lengkap yaitu tinjauan teori sampai konsep asuhan keperawatan tentang Ca buli-buli.

Bagi teman-teman yang membutuhkan laporan pendahuluan ca buli-buli, berarti kalian datang pada halaman yang tepat, karena pada postingan kali ini kami coba share laporan pendahuluan ca buli-buli lengkap dengan format pdf serta doc.

Laporan pendahuluan buli-buli ini telah kami susun selengkap mungkin, sesampai memudahkan teman-teman dalam pembuatan tugas keperawatan baik makalah maupun askep tentang ca buli-buli.

Untuk mendapatkan file laporan pendahuluan ca buli-buli dalam format pdf serta doc, telah kami sediakan link unduhan diakhir artikel ini :

Laporan Pendahuluan Ca Buli-buli


Pengertian

Ca buli-buli adalah tumor yang didapatkan dalam buli-buli.
      
Ca buli-buli adalah tumor atau karsinoma yang didapatkan dalam buli-buli (kandung kemih). Karsinoma buli-buli merupakan tumor superficial. Tumor ini lama kelamaan dapat mengadakan infiltrasi ke lamina phopria, otot serta lemak perivesika yang lalu menyebar langsung ke jaringan sekitar (Basuki B. Purnomo, 2000).
      
Carsinoma sel skuamosa gross hematuria tanpa rasa sakit yaitu keluar air kencing warna merah secara terus menerus (ilmu keperawatan, 2007).

Ca buli-buli adalah tumor yang didapatkan dalam buli-buli atau kandung kemih (ilmu bedah, 2008).
      
Ca bulu-buli adalah tumor buli-buli yang dapat berbentuk papiler, tumor non invasif (insitur), noduler (infiltratif) atau campuran antara bentuk papiler serta infiltratif.
      
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Karsinoma / Ca buli-buli adalah tumor yang didapatkan pada buli-buli atau kandung kemih yang akan terjadi gross hematuria tanpa rasa sakit  yaitu keluar air kencing warna merah terus.


Insiden

Yang paling sering dijangkiti kanker dari alat perkemihan adalah Buli-buli. Kanker Buli-buli terjadi tiga kali lebih banyak pada pria dibandingkan pada wanita, serta tumor-tumor multipel juga lebih sering, kira-kira 25% klien memiliki lebih dari satu lesi pada satu kali dibuat diagnosa. 


Klasifikasi

1. Staging serta klasifikasi

Klasifikasi DUKE-MASINA, JEWTT dengan modifikasi STRONG-MARSHAL untuk menentukan 
operasi atau observasi :

a. T = pembesaran local tumor primer, ditentukan melalui :

Pemeriksaan klinis, uroghrafy, cystoscopy, pemeriksaan bimanual di bawah anestesi umum serta biopsy atau transurethral reseksi.
  • Tis = carcinoma insitu (pre invasive Ca)
  • Tx = cara pemeriksaan untuk menetapkan penyebaran tumor, tak dapat dilakukan
  • To = tanda-tanda tumor primer tidak ada
  • T1. pada pemeriksaan bimanual didapatkan masa yang bergerak
  • T2 = pada pemeriksaan bimanual  ada indurasi daripada dinding buli-buli.
  • T3 = pada pemeriksaan bimanual indurasi atau masa nodular yang bergerak bebeas dapat diraba di buli-buli.
  • T3a = invasi otot yang lebih dalam
  • T3b= perluasan lewat dinding buli-buli
  • T4 = Tumor sudah melewati struktur sebelahnya
  • T4a= tumor mengadakan invasi ke dalam prostate, uterus vagina
  • T4b= tumor sudah melekat pada dinding pelvis atau infiltrasi ke dalam abdomen. 

b. N = Pembesaran secara klinis untuk pemebesaran kelenjar limfe

pemeriksaan kinis, lympgraphy, urography, operative
  • Nx = minimal yang ditetapkan kel. Lymfe regional tidak dapat ditemukan
  • No = tanpa tanda-tanda pemebsaran kelenjar lymfe regional
  • N1 = pemebsaran tunggal kelenjar lymfe regional yang homolateral
  • N2 = pembesaran kontralateral atau bilateral atau kelenjar lymfe regional yang multiple
  • N3 = masa yang melekat pada dinding pelvis dengan rongga yang bebeas antaranya serta tumor
  • N4 = pemebesaran lkelenjar lymfe juxta regional

c. M = metastase jauh termasuk pemebesaran kelenjar limfe yang jauh

Pemeriksaan klinis , thorax foto, serta test biokimia
  • Mx = kebutuhan cara pemeriksaan minimal untuk menetapkan adanya metastase jauh, tak dapat dilaksanakan
  • M1 = adanya metastase jauh 
  • M1a= adanya metastase yang tersembunyi pada test-test biokimia
  • M1b= metastase tunggal dalam satu organ yang tunggal
  • M1c= metastase multiple dalam satu terdapat organ yang multiple
  • M1d= metastase dalam organ yang multiple

2. type serta lokasi

Type tumor didasarkan pada type selnya, tingkat anaplasia serta invasi.
  • efidermoid Ca, kira-kira 5% neoplasma buli-buli –squamosa cell., anaplastik, invasi yang dalam serta cepat metastasenya.
  • Adeno Ca, sangat jarang serta sering muncul pada bekas urachus
  • Rhabdomyo sarcoma, sering terjadi pada anak-anak laki-laki (adolescent), infiltasi, metastase cepat serta biasanya fatal
  • Primary Malignant lymphoma, neurofibroma serta pheochromacytoma, dapat menimbulkan serangan hipertensi selama kencing
  • Ca dari pada kulit, melanoma, lambung, paru serta mamma mungkin mengadakan metastase ke buli-buli, invasi ke buli-buli oleh endometriosis dapat terjadi.


Etiologi
  1. Pekerjaan : pekerja dipabrik kimia, laboratorium (senyawa amin aromatik)
  2. Perokok : rokok mengandung amin aromatik serta nitrosamin.
  3. Infeksi saluran kemih : Escherichia Coli serta proteus yang menghasilkan karsinogen.
  4. Kopi : pemanis buatan serta obat-obatan, untuk pemakaian jangka panjang dapat meningkatkan resiko karsinoma buli-buli.


Patifisiologi

Sel tumor transisional invasi ke dinding kandung kemih. Invasi ke lamina propia serta merusak otot sebelum masuk ke lemak perivesikal serta organ lain lainnya. Penyebaran secara hematogen atau limfatogenous menunjukkan metastasis tumor pada kelenjar limfe regional, paru, tulang serta hati.

Stadium (staging) tumor kandung kemih penting untuk menentukan program pengobatan. 

Klasifikasiny adalah sebagai berikut :
  • Ta : tumor terbatas pada epithelium.
  • Tis : karsinoma in situ
  • T1 : tumor sampai dengan lapisan subepitelium.
  • T2 : tumor sampai dengan lapisan otot superficial.
  • T3a : tumor sampai dengan otot dalam
  • T3b : tumor sampai dengan lemak perivesika.
  • T4 : tumor sampai dengan jaringan di luar kandung kemih : prostate, uterus, vagina,   dinding pelvis serta dinding abdomen.
Fathway Ca Buli-buli
Untuk mendownload Fathway Ca Buli-buli format doc, DISINI



Gejala Klinis
  • Kencing campur dara yang intermitten
  • Merasa panas waktu kencing
  • Merasa ingin kencing
  • Sering kencing terutama malam hari serta pada fase berikutnya sukar kencing
  • Nyeri suprapubik yang konstan
  • Panas badan serta merasa lemah
  • Nyeri pinggang karena tekanan saraf
  • Nyeri pda satu sisi karena hydronephrosis


Penatalaksanaan

a. Pemeriksaan penunjang

1. Laboratorium
  • Hb menurun oleh karena kehilangan darah, infeksi, uremia, gros atau micros hematuria
  • Lukositosis bila terjadi infeksi sekunder serta terdapat pus serta bakteri dalam urine
  • RFT normal
  • Lymphopenia (N = 1490-2930)

2. Radiology
  • excretory urogram biasanya normal, tapi mungkin dapat menunjukkan tumornya.
  • Retrograde cystogram dapat menunjukkan tumor
  • Fractionated cystogram adanya invasi tomor dalam dinding buli-buli
  • Angography untuk mengetahui adanya metastase lewat pembuluh lymphe

3. Cystocopy serta biopsy
  • cystoscopy hamper selalu menghasilkan tumor
  • Biopasi dari pada lesi selalu dikerjakan secara rutin.

4. cystologi

Pengecatan sieman/papanicelaou pada sediment urine terdapat transionil cel daripada tumor

b. Terapi 

1. Operasi
  • reseksi tranurethral untuk single/multiple papiloma
  • Dilakukan pada stage 0,A,B1 serta grade I-II-low grade
Total cystotomy dengan pegangkatan kel. Prostate serta urinary diversion untuk :
  • transurethral cel tumor pada grade 2 atau lebih
  • aquamosa cal Ca pada stage B-C

2. Radioterapy
  • Diberikan pada tumor yang radiosensitive seperti undifferentiated pada grade III-IV serta stage B2-C.
  • RAdiasi diberikan sebelum operasi selama 3-4 minggu, dosis 3000-4000 Rads. Penderita dievaluasi selam 2-4 minggu dengan iinterval cystoscopy, foto thoraks serta IVP, lalu 6 minggu setelah radiasi direncanakan operasi. Post operasi radiasi tambahan 2000-3000 Rads selam 2-3 minggu.

3. Chemoterapi

Obat-obat anti kanker :
  • citral, 5 fluoro urasil
  • topical chemotherapy yaitu Thic-TEPA,  Chemotherapy merupakan paliatif. 5- Fluorouracil (5-FU) serta doxorubicin (adriamycin) merupakan bahan yang paling sering dipakai. Thiotepa dapat diamsukkan ke dalam Buli-buli sebagai pengobatan topikal. Klien dibiarkan menderita dehidrasi 8 sampai 12 jam sebelum pengobatan dengan theotipa serta obat diabiarkan dalam Buli-buli selama dua jam.

Prognosis

Penemuan serta pemeriksaan dini, prognosisnya baik, tetapi bila sudah lama serta adanya metastesi ke organ lebih dalam serta lainnya prognosisnya jelek.


Komplikasi
  • Infeksi sekunder bil atumor mengalami ulserasi
  • Retensi urine bil atumor mengadakan invasi ke bladder neck
  • Hydronephrosis oleh karena ureter menglami oklusi


Konsep Asuhan Keperawatan

Pengkajian

a. Identitas

Yang paling sering dijangkiti kanker dari alat perkemihan adalah Buli-buli. Kanker Buli-buli terjadi tiga kali lebih banyak pada pria dibandingkan pada wanita, serta tumor-tumor multipel juga lebih sering, kira-kira 25% klien memiliki lebih dari satu lesi pada satu kali dibuat diagnosa. 

b. Riwayat keperawatan

Keluhan penderita yang utama adalah mengeluh kencing darah yang intermitten, merasa panas waktu kening. Merasa ingin kencing, sering kencing terutama malam hari serta pada fase berikutnya sukar kencing, nyeri suprapubik yang konstan, panas badan serta merasa lemah, nyeri pinggang karena tekanan saraf, serta nyeri pada satu sisi karena hydronephrosis

c. Pemeriksaan fisik serta klinis

Inspeksi , tampak warna kencing campur darah, pemebesaran suprapubic bil atumor sudah bear.
Palpasi, teraba tumor 9masa) suprapubic, pmeriksaan bimaual teraba tumpr pada dasar buli-buli dengan bantuan general anestesi baik waktu VT atau RT.

d. Pemeriksaan penunjang

Lihat kosep dasar.


Diagnosa Keperawatan
  1. Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran serta fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik.
  2. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping therapi kanker ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.
  3. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan klien mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, berat badan turun sampai 20% atau lebih dibawah ideal, penurunan massa otot serta lemak subkutan, konstipasi, abdominal cramping.
  4. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis serta pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti intruksi/pencegahan komplikasi.
  5. Resiko tinggi kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek samping kemotherapi serta radiasi/radiotherapi.
  6. Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake
  7. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder serta sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasif
  8. Resiko tinggi gangguan fungsi seksual berhubungan dengan deficit pengetahuan/keterampilan tentang alternatif respon terhadap transisi kesehatan, penurunan fungsi/struktur tubuh, dampak pengobatan.
  9. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi serta kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi serta anemia.


Intervensi Keperawatan

Diagnosa. 1

Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran serta fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik.

Tujuan :
  • Klien dapat mengurangi rasa cemasnya
  • Rileks serta dapat melihat dirinya secara obyektif.
  • Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan.
Intervensi / Perencanaan


INTERVENSI
RASIONAL
a.       Tentukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya.


b.      Berikan informasi tentang prognosis secara akurat.
c.       Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar serta ekspresi yang sesuai.
d.      Jelaskan pengobatan, tujuan serta efek samping. Bantu klien mempersiapkan diri dalam pengobatan.
e.       Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan dll.

f.       Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system.
g.      Berikan lingkungan yang tenang serta nyaman.
h.      Pertahankan kontak dengan klien, bicara serta sentuhlah dengan wajar.

a.       Data-data mengenai pengalaman klien sebelumnya akan memberikan dasar untuk penyuluhan serta menghindari adanya duplikasi.
b.      Pemberian informasi dapat membantu klien dalam memahami proses penyakitnya.
c.       Dapat menurunkan kecemasan klien.



d.      Membantu klien dalam memahami kebutuhan untuk pengobatan serta efek sampingnya.

e.       Mengetahui serta menggali pola koping klien serta mengatasinya/memberikan solusi dalam upaya meningkatkan kekuatan dalam mengatasi kecemasan.
f.       Agar klien memperoleh dukungan dari orang yang terdekat/keluarga.
g.      Memberikan kesempatan pada klien untuk berpikir/merenung/istirahat.
h.      Klien mendapatkan kepercayaan diri serta keyakinan bahwa dia benar-benar ditolong.


Diagnosa. 2

Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping therapi kanker ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.

Tujuan :
  • Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas
  • Melaporkan nyeri yang dialaminya
  • Mengikuti program pengobatan
  • Mendemontrasikan tehnik relaksasi serta pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang    mungkin
Intervensi / Perencanaan

        
INTERVENSI
RASIONAL
a.         Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi serta intensitas
b.         Evaluasi therapi: pembedahan, radiasi, khemotherapi, biotherapi, ajarkan klien serta keluarga tentang cara menghadapinya
c.         Berikan pengalihan seperti reposisi serta aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan musik atau nonton TV
d.        Menganjurkan tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan), gembira, serta berikan sentuhan therapeutik.

e.         Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu.




f.          Diskusikan penanganan nyeri dengan dokter serta juga dengan klien
g.         Berikan analgetik sesuai indikasi seperti morfin, methadone, narkotik dll
a.           Memberikan informasi yang diperlukan untuk merencanakan asuhan.
b.           Untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai atau tidak, atau malah menyebabkan komplikasi.

c.           Untuk meningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan perhatian klien dari rasa nyeri.

d.          Meningkatkan kontrol diri atas efek samping dengan menurunkan stress serta ansietas.


e.           Untuk mengetahui efektifitas penanganan nyeri, tingkat nyeri serta sampai sejauhmana klien mampu menahannya serta untuk mengetahui kebutuhan klien akan obat-obatan anti nyeri.
f.            Agar terapi yang diberikan tepat sasaran.

g.           Untuk mengatasi nyeri.
  

Diagnosa. 3

Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan klien mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, berat badan turun sampai 20% atau lebih dibawah ideal, penurunan massa otot serta lemak subkutan, konstipasi, abdominal cramping.

Tujuan :
  • Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal serta tidak ada tanda malnutrisi
  • Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat
  • Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya

Intervensi / Perencanaan

INTERVENSI
RASIONAL
a.         Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan kebutuhannya.
b.         Timbang serta ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat badan.
c.         Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat serta pembesaran kelenjar parotis.
d.        Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien.
e.         Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak serta pedas.

f.          Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau keluarga.
g.         Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan.
h.         Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami klien.
i.           Kolaboratif



j.           Amati studi laboraturium seperti total limposit, serum transferin serta albumin
k.         Berikan pengobatan sesuai indikasi
l.           Phenotiazine, antidopaminergic, corticosteroids, vitamins khususnya A,D,E serta B6, antacida
m.       Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara enteral, imbangi dengan infus.

a.         Memberikan informasi tentang status gizi klien.

b.         Memberikan informasi tentang penambahan serta penurunan berat badan klien.
c.         Menunjukkan keadaan gizi klien sangat buruk.

d.        Kalori merupakan sumber energi.




e.         Mencegah mual muntah, distensi berlebihan, dispepsia yang menyebabkan penurunan nafsu makan serta mengurangi stimulus berbahaya yang dapat meningkatkan ansietas.
f.          Agar klien merasa seperti berada dirumah sendiri.

g.         Untuk menimbulkan perasaan ingin makan/membangkitkan selera makan.

h.         Agar dapat diatasi secara bersama-sama (dengan ahli gizi, perawat serta klien).

i.           Untuk mengetahui/menegakkan terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat perjalanan penyakit, pengobatan serta perawatan terhadap klien.
j.           Membantu menghilangkan gejala penyakit, efek samping serta meningkatkan status kesehatan klien.
k.         Mempermudah intake makanan serta minuman dengan hasil yang maksimal serta tepat sesuai kebutuhan.


Diagnosa. 4

Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis serta pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti intruksi/pencegahan komplikasi.

Tujuan :
  • Klien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis serta pengobatan pada ting-katan siap.
  • Mengikuti prosedur dengan baik serta menjelaskan tentang alasan mengikuti prosedur  tersebut.
  • Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup serta berpartisipasi dalam pengo-  batan.
  • Bekerjasama dengan pemberi informasi.

Intervensi / Perencanaan.

INTERVENSI
RASIONAL
a.         Review pengertian klien serta keluarga tentang diagnosa, pengobatan serta akibatnya.

b.         Tentukan persepsi klien tentang kanker serta pengobatannya, ceritakan pada klien tentang pengalaman klien lain yang menderita kanker.
c.         Beri informasi yang akurat serta faktual. Jawab pertanyaan secara spesifik, hindarkan informasi yang tidak diperlukan.
d.        Berikan bimbingan kepada klien/keluarga sebelum mengikuti prosedur pengobatan, therapy yang lama, komplikasi. Jujurlah pada klien.
e.         Anjurkan klien untuk memberikan umpan balik verbal serta mengkoreksi miskonsepsi tentang penyakitnya.
f.          Review klien /keluarga tentang pentingnya status nutrisi yang optimal.
g.         Anjurkan klien untuk mengkaji membran mukosa mulutnya secara rutin, perhatikan adanya eritema, ulcerasi.

h.         Anjurkan klien memelihara kebersihan kulit serta rambut.

a.         Menghindari adanya duplikasi serta pengulangan terhadap pengetahuan klien.

b.         Memungkinkan dilakukan pembenaran terhadap kesalahan persepsi serta konsepsi serta kesalahan pengertian.


c.         Membantu klien dalam memahami proses penyakit.


d.        Membantu klien serta keluarga dalam membuat keputusan pengobatan.



e.         Mengetahui sampai sejauhmana pemahaman klien serta keluarga mengenai penyakit klien.

f.          Meningkatkan pengetahuan klien serta keluarga mengenai nutrisi yang adekuat.

g.         Mengkaji perkembangan proses-proses penyembuhan serta tanda-tanda infeksi serta masalah dengan kesehatan mulut yang dapat mempengaruhi intake makanan serta minuman.
h.         Meningkatkan integritas kulit serta kepala.


Diagnosa. 5

Resiko tinggi kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek samping kemotherapi serta radiasi/radiotherapi.

Tujuan :
  • Membrana mukosa tidak menunjukkan kerusakan, terbebas dari inflamasi serta ulcerasi
  • Klien mengungkapkan faktor penyebab secara verbal.
  • Klien mampu mendemontrasikan tehnik mempertahankan/menjaga kebersihan rongga  mulut.

Intervensi / Perencanaan

INTERVENSI
RASIONAL
a.         Kaji kesehatan gigi serta mulut pada saat pertemuan dengan klien serta secara periodik.

b.         Kaji rongga mulut setiap hari, amati perubahan mukosa membran. Amati tanda terbakar di mulut, perubahan suara, rasa kecap, kekentalan ludah.
c.         Diskusikan dengan klien tentang metode pemeliharan oral hygine.
d.        Intruksikan perubahan pola diet misalnya hindari makanan panas, pedas, asam, hindarkan makanan yang keras.
e.         Amati serta jelaskan pada klien tentang tanda superinfeksi oral.


f.          Kolaboratif.

g.         Konsultasi dengan dokter gigi sebelum kemotherapi.

h.         Berikan obat sesuai indikasi, analgetik, topikal lidocaine,  antimikrobial mouthwash
i.           preparation.
j.           Kultur lesi oral.

a.         Mengkaji perkembangan proses penyembuhan serta tanda-tanda infeksi memberikan informasi penting untuk mengembangkan rencana keperawatan.
b.         Masalah dengan kesehatan mulut dapat mempengaruhi pemasukan makanan serta minuman.


c.         Mencari alternatif lain mengenai pemeliharaan mulut serta gigi.
d.        Mencegah rasa tidak nyaman serta iritasi lanjut pada membran mukosa.


e.         Agar klien mengetahui serta segera memberitahu bila ada tanda-tanda tersebut.

f.           Meningkatkan kebersihan serta kesehatan gigi serta gusi.
g.         Tindakan/terapi yang dapat menghilangkan nyeri, menangani infeksi dalam rongga mulut/infeksi sistemik.
h.         Untuk mengetahui jenis kuman sesampai dapat diberikan terapi antibiotik yang tepat.


Diagnosa. 6

Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake

Tujuan :
  • Klien menunjukkan keseimbangan cairan dengan tanda vital normal, membran mukosa normal, turgor kulit bagus, capilarry ferill normal, urine output normal.

Intervensi / Perencanaan

INTERVENSI
RASIONAL
a.         Monitor intake serta output termasuk keluaran yang tidak  normal seperti emesis, diare, drainase luka. Hitung keseimbangan selama 24 jam.
b.         Timbang berat badan bila diperlukan.

c.         Monitor vital signs. Evaluasi pulse peripheral, capilarry refil.


d.        Kaji turgor kulit serta keadaan membran mukosa. Catat keadaan kehausan pada klien.

e.         Anjurkan intake cairan samapi 3000 ml per hari sesuai kebutuhan individu.
f.          Observasi kemungkinan perdarahan seperti perlukaan pada membran mukosa, luka bedah, adanya ekimosis serta pethekie.
g.         Hindarkan trauma serta tekanan yang berlebihan pada luka bedah.

h.         Kolaboratif

i.           Berikan cairan IV bila diperlukan.
j.           Berikan therapy antiemetik.
k.         Monitor hasil laboratorium : Hb, elektrolit, albumin

a.         Pemasukan oral yang tidak adekuat dapat menyebabkan hipovolemia.



b.         Dengan memonitor berat badan dapat diketahui bila ada ketidakseimbangan cairan.
c.         Tanda-tanda hipovolemia segera diketahui dengan adanya takikardi, hipotensi serta suhu tubuh yang meningkat berhubungan dengan dehidrasi.
d.        Dengan mengetahui tanda-tanda dehidrasi dapat mencegah terjadinya hipovolemia.

e.         Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.

f.          Segera diketahui adanya perubahan keseimbangan volume cairan.



g.         Mencegah terjadinya perdarahan.


h.         Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.
i.           Mencegah/menghilangkan mual muntah.
j.           Mengetahui perubahan yang terjadi.


Diagnosa. 7

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder serta sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasif

Tujuan :
  • Klien mampu mengidentifikasi serta berpartisipasi dalam tindakan pecegahan infeksi
  • Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi serta penyembuhan luka berlangsung normal

Intervensi / Perencanaan

INTERVENSI
RASIONAL
a.         Cuci tangan sebelum melakukan tindakan. Pengunjung juga dianjurkan melakukan hal yang sama.
b.         Jaga personal hygine klien dengan baik.
c.         Monitor temperatur.

d.        Kaji semua sistem untuk melihat tanda-tanda infeksi.
e.         Hindarkan/batasi prosedur invasif serta jaga aseptik prosedur.
f.          Kolaboratif.

g.         Monitor CBC, WBC, granulosit, platelets.
h.         Berikan antibiotik bila diindikasikan.

a.         Mencegah terjadinya infeksi silang.



b.         Menurunkan/mengurangi adanya organisme hidup.
c.         Peningkatan suhu merupakan tanda terjadinya infeksi.
d.        Mencegah/mengurangi terjadinya resiko infeksi.
e.         Mencegah terjadinya infeksi.

f.          Segera dapat diketahui apabila terjadi infeksi.
g.         Adanya indikasi yang jelas sesampai antibiotik yang diberikan dapat mengatasi organisme penyebab infeksi.

Diagnosa. 8

Resiko tinggi gangguan fungsi seksual berhubungan dengan deficit pengetahuan/keterampilan tentang alternatif respon terhadap transisi kesehatan, penurunan fungsi/struktur tubuh, dampak pengobatan.

Tujuan :
  • Klien dapat mengungkapkan pengertiannya terhadap efek kanker serta therapi terhadap  seksualitas
  • Mempertahankan aktivitas seksual dalam batas kemampuan

Intervensi / Perencanaan

INTERVENSI
RASIONAL
a.         Diskusikan dengan klien serta keluarga tentang proses seksualitas serta reaksi serta hubungannya dengan penyakitnya.
b.         Berikan advise tentang akibat pengobatan terhadap seksualitasnya.
c.         Berikan privacy kepada klien serta pasangannya.  Ketuk pintu sebelum masuk.

a.         Meningkatkan ekspresi seksual serta meningkatkan komunikasi terbuka antara klien dengan pasangannya.

b.         Membantu klien dalam mengatasi masalah seksual  yang dihadapinya.

c.         Memberikan kesempatan bagi klien serta pasangannya untuk mengekspresikan perasaan serta keinginan secara wajar.


Diagnosa. 9

Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi serta kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi serta anemia.

Tujuan :
  • Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik
  • Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi serta percepatan penyembuhan

Intervensi / Perencanaan.

INTERVENSI
RASIONAL
a.         Kaji integritas kulit untuk melihat adanya efek samping therapi kanker, amati penyembuhan luka.

b.         Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal.
c.         Ubah posisi klien secara teratur.

d.        Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa rekomendasi dokter.
a.         Memberikan informasi untuk perencanaan asuhan serta mengembangkan identifikasi awal terhadap perubahan integritas kulit.
b.         Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi.
c.         Menghindari penekanan yang terus menerus pada suatu daerah tertentu.
d.        Mencegah trauma berlanjut pada kulit serta produk yang kontra indikatif


Daftar Pustaka

  • Black, Joyce M & Esther Matassarin-Jacobs.  1997. Medical Surgical Nursing : Clinical Management for Continuity of Care, Edisi 5, W.B. Saunders Company, Philadelphia
  • Carpenito, Lynda Juall.  2001.  Buku Saku Diagnosa Keperawatan.  EGC.  Jakarta.
  • Doenges, Marilyn E, et all.  1993.  Nursing Care Plans : Guidelines for Planning and Documenting Patient Care, Edition 3, F.A. Davis Company, Philadelphia. 
  • Gale, sertaielle & Charette, Jane.  2000.  Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi.  EGC.  Jakarta.
  • Long, Barbara C.  1996.   Perawatan Medikal Bedah. Alih Bahasa: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran Bandung, Edisi 1, Yayasan IAPK Pajajaran, Bandung.
Untuk mendownload laporan pendahuluan ca buli-buli diatas dalam format pdf serta doc, silahkan gunakan link unduhan dibawah ini :
Link Alternatif
Demikian laporan pendahuluan ca buli-buli lengkap, download pdf serta doc kami bagikan, semoga bermanfaat serta terima kasih.

0 Response to "Laporan Pendahuan Ca (Karsinoma) Buli-buli / Tumor Buli-buli Lengkap, Download Pdf serta Doc"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel