Laporan Pendahuluan Fraktur / LP Patah Tulang Pdf serta Doc

Kami bagikan laporan pendahuluan fraktur pdf serta doc.

Masih dalam ranah laporan pendahuluan, kalau sebelumnya telah kami bagikan laporan pendahuluan lainnya dalam format doc serta pdf, pada postingan kali ini kami coba posting laporan pendahuluan fraktur yaitu sebuah tinjauan teori sampai konsep asuhan keperawatan tentang sebuah keadaan terputusnya kontinuitas struktur tulang. 

Laporan pendahuluan ini telah kami susun dengan selengkap mungkin,berdasarkan beberapa referensi, untuk mempermudah teman perawat sekalian dalam pembuatan tugas disini sengaja kami sediakan dalam dua format doc serta pdf, sesampai memudah kan teman perawat sekalian, tinggal ambil serta edit sesuai dengan kebutuhan selesai.

Untuk mendownload laporan pendahuluan fraktur pdf serta doc, telah kami sediakan link unduhan diakhir artikel yang dapat digunakan.

Laporan Pendahuluan Fraktur


Pengertian 
      
Definisi yang paling sederhana menurut Tucker, et. al (1999: 434) fraktur adalah patahnya kontinuitas tulang. 

Sedangkan menurut Syamsuhidajat serta Jong (1997: 1138) fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. 

Senada dengan definisi yang dinyatakan oleh  para ahli diatas Doenges, et. al (2000: 761) juga mendefinisikan fraktur sebagai pemisahan atau patahnya tulang.
      
Dari beberapa definisi fraktur diatas dapat disimpulkan bahwa fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas struktur tulang yang disebabkan oleh beberapa mekanisme. Penyebab yang paling lazim adalah karena trauma.


Anatomi Fisiologi
      
Menurut Price serta Wilson (1995: 1776) bagian-bagian tulang panjang yaitu diafisis atau batang, adalah bagian tengah tulang yang berbentuk silinder. Bagian ini tersusun dari tulang kortikal yang  memiliki kekuatan yang besar. Metafisis adalah bagian tulang yang melebar didekat ujung akhir batang. Daerah ini terutama tersusun oleh tulang trabekular atau tulang spongiosa yang mengandung sumsum merah. Sumsum merah juga terdapat dibagian epifisis serta diafisis tulang. Metafisis juga menopang sendi serta menyediakan daerah yang cukup luas untuk perlekatan tendon serta ligamen pada epifisis. Lempeng epifisis adalah daerah pertumbuhan longitudinal pada anak-anak serta akan menghilang pada tulang dewasa.


Klafisikasi Fraktur

Klasifikasi fraktur secara umum :

1. Berdasarkan tempat (Fraktur humerus, tibia, clavicula, ulna, radius serta cruris dst).
2. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur:
  • Fraktur komplit (garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang).
  • Fraktur tidak komplit (bila garis patah tidak melalui seluruh garis penampang tulang).
3. Berdasarkan bentuk serta jumlah garis patah :
  • Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu serta saling berhubungan.
  • Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
  • Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.
4. Berdasarkan posisi fragmen :
  • Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak bergeser serta periosteum masih utuh.
  • Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen
5. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).
  • Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
a. Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak sekitarnya.
b. Tingkat 1: fraktur dengan abrasi sertagkal atau memar kulit serta jaringan subkutan.
c. Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam serta pembengkakan.
d. Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan ancaman sindroma kompartement.
  • Fraktur Terbuka (Open/Compound),  bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
Fraktur terbuka dibedakan menjadi beberapa grade yaitu :

a. Grade I : luka bersih, panjangnya kurang dari 1 cm.
b. Grade II : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.
c. Grade III : sangat terkontaminasi, serta mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif.

6. Berdasar bentuk garis fraktur serta hubungan dengan mekanisme trauma :
  • Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang serta merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
  • Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang serta meruakan akibat trauma angulasijuga.
  • Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi.
  • Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.
  • Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang..
7. Berdasarkan kedudukan tulangnya :
  • Tidak adanya dislokasi.
  • Adanya dislokasi
a. At axim : membentuk sudut.
b. At lotus : fragmen tulang berjauhan.
c. At longitudinal : berjauhan memanjang.
d. At lotus cum contractiosnum : berjauhan serta memendek.

8. Berdasarkan posisi frakur

Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian :
  • 1/3 proksimal
  • 1/3 medial
  • 1/3 distal
9. Fraktur Kelelahan       : Fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.

10. Fraktur Patologis         : Fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.


Etiologi / Penyebab Fraktur
      
Umumnya fraktur disebabkan oleh trauma tetapi dapat juga disebabkan oleh kondisi lain menurut Appley serta Salomon (1995: 238) fraktur dapat terjadi karena:

a. Fraktur akibat peristiwa trauma
      
Sebagian besar disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba serta berlebihan yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan, pemuntiran atau penarikan.
  • Terkena kekuatan langsung
Tulang dapat patah serta dapat  mengenai jaringan lunak. Karena pemukulan (pukulan sementara) biasanya menyebabkan fraktur melintang serta kerusakan pada kulit diatasnya. Penghancuran kemungkinan dapat menyebabkan fraktur kominutif disertai kerusakan jaringan  lunak  yang luas.
  • Terkena kekuatan tak langsung
Tulang mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu. Kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada.

b. Fraktur kelelahan atau tekanan

Retak dapat terjadi pada tulang, seperti pada logam serta benda lain akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering ditemukan pada tibia serta fibula atau  metatarsal, terutama pada atlet, penari serta calon tentara yang jalan berbaris dengan jarak jauh.

c. Fraktur patalogik  

Fraktur dapat terjadi oleh kekuatan tulang yang  berkurang atau rapuh oleh karena adanya proses patologis. Proses patologis tersebut antara lain adanya tumor, infeksi atau osteoporosis pada tulang.


Gambaran  klinis
      
Manifestasi klinis fraktur tergantung pada tingkat keparahan  trauma serta lokasi fraktur. Menurut Smeltzer serta Bare (2002: 2358-2359) manifestasi klinis fraktur antara lain:

a. Nyeri.

Nyeri terus menerus serta bertambah berat sampai fragmen diimmobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.

b. Deformitas serta kehilangan fungsi.

Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tak dapat digunakan akan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan  deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas, yang dapat diketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada intregitas tulang tempat melengketnya otot.

c. Pemendekan tulang.

Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas serta bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain antara 2,5 sampai 5 cm (1 sampai 2 inci).

d. Krepitus. 

Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat.

e. Edema.

Pembengkakan  serta perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma serta pendarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini dapat baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera
      
Tidak semua tanda serta gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur. Kebanyakan justru tidak ada pada fraktur linear, fisur atau fraktur impaksi (permukaan patahan saling terdesak satu sama lain). Diagnosis fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik serta pemeriksaan sinar-x pasien. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut. 


Patofisiologi
      
Sabiston (1997: 370) menyatakan bahwa pola fraktur ditentukan dalam tingkat tertentu oleh sifat tenaga yang diberikan. Hal lain yang menentukan adalah sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri serta jaringan lunak disekitar tulang (Price serta Wilson, 1995: 1183). Ketiga hal tersebut dapat mentukan apakah fraktur yang terjadi lengkap artinya mengenai seluruh penampang tulang atau sebagian saja. Menurut Underwood (1999: 811) sifat serta arah garis fraktur juga tergantung dari usia penderita serta jenis tulang yang terkena fraktur. Faktor-faktor ini bukan hanya dapat menentukan sifat serta arah garis fraktur saja karena usia penderita, jenis tulang yang fraktur serta pola tempat cedera mempengaruhi juga dalam kecepatan prose penyembuhan.
      
Pola terjadinya fraktur pada tulang sangat berperan dalam menentukan klasifikasinya. Klasifikasi fraktur menurut FKUI (2000: 346-347) dideskripsikan sebagai berikut:

a. Komplit atau tidak komplit.

1. Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang.
2. Fraktur tidak komplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang, seperti:
  • Hairline fracture  (patah retak rambut).
  • Buckle fracture atau torus fracture, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya, biasanya pada distal radius anak-anak.
  • Greenstick fracture, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak.
b. Bentuk garis patah serta hubunganya dengan mekanisme trauma.
  • Garis patah melintang : trauma angulasi atau langsung.
  • Garis patah oblik : trauma angulasi.
  • Garis patah spiral : trauma rotasi.
  • Fraktur kompresi : trauma aksial fleksi pada tulang spongiosa.
  • Fraktur avulsi : trauma tarikan / traksi otot pada insersinya di tulang, misalnya fraktur patella.
c. Jumlah garis patah.
  • Fraktur kominutif : garis patah lebih dari satu serta saling berhubungan.
  • Fraktur segmental : garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan. Bila dua garis patah disebut pula fraktur bifokal.
  • Faktur multipel : garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya misalnya fraktur femur, fraktur kruris serta fraktur tulang belakang.

d. Bergeser atau tidak bergeser.

1. Fraktur undisplaced (tidak bergeser), garis patah komplit tapi kedua fragmen tidak bergeser, periosteum masih utuh.
2. Fraktur displaced (bergeser), terjadi pergeseran fragmen-fragmen frakt ur yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi menjadi:
  • Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu serta overlapping).
  • Dislokasi ad axim (pegeseran membentuk sudut).
  • Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi).
e. Komplikasi atau tanpa komplikasi. Komplikasi dapat berupa komplikasi dini atau lambat, lokal atau sistemik, oleh trauma atau akibat pergerakan.

f. Terbuka atau tertutup.

1. Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.
2. Fraktur terbuka (open atau compound), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat, yaitu 

Derajat I.
  • Luka kurang dari 1 cm.
  • Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk 
  • Fraktur sederhana, tranversal, oblik atau kominutif ringan.
  • Kontaminasi ringan.
Derajat II.
  • Laserasi lebih dari 1 cm.
  • Kerusakan jaringan lunak tidak luas, flap atau avulsi.
  • Fraktur kominutif sedang.
  • Kontaminasi sedang.
Derajat III.

Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, serta neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat III terbagi atas:
  • Jaringan lunak yang menutupi fraktur adekuat, meskipun terdapat laserasi luas, flap atau avulsi atau fraktur segmental / sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka.
  • Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi.
  • Luka pada pembuluh arteri atau saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.
Pathway Fraktur
Untuk mendownload pathway fraktur format doc, DISINI


Tahapan penyembuhan Fraktur
      
Bila terjadi patah tulang maka proses penyembuhannya berbeda dengan jaringan lain. Ketika tulang mengalami cedera, fragmen tulang tidak hanya ditambal dengan jaringan parut seperti jaringan lain pada umumnya tetapi mengalami regenerasi sendiri. Syamsuhidajat serta Jong (1997: 1146) menyatakan bahwa proses penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan terjadi pada setiap patah tulang.
      
Tahapan-tahapan penyembuhan tulang menurut Smeltzer serta Bare (2002: 2266-2268) adalah sebagai berikut:

a. Inflamasi. 
      
Dengan adanya patah tulang, tubuh mengalami respon yang sama dengan bila ada cedera di lain tempat dalam tubuh. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera serta terjadi pembentukan hematoma pada tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cedera lalu akan diinvasi oleh makrofag, yang akan membersihkan daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan serta nyeri. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari serta hilang dengan berkurangnya pembengkakan serta nyeri.

b. Proliferasi sel.
      
Kurang lebih 5 hari, hematoma akan mengalami organisasi. Terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi, serta invasi fibroblast serta osteoblast. Fibroblast serta osteobalast (berkembang dari osteosit, sel endostel serta periosteum) akan menghasilkan kolagen serta proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrus serta tulang rawan (osteosit). Dari periosteum, tampak pertumbuhan melingkar. Kalus tulang rawan tersebut dirangsang oleh gerakan mikro pada tempat patah tulang. Tetapi gerakan yang berlebihan akan merusak struktur kalus.

c. Pembentukan kalus.
      
Pertumbuhan jaringan berlanjut serta lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi yang lain sampai celah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan sampai tulang serat imatur. Bentuk kalus serta volume yang dibutuhkan untuk menghubungkan defek secara langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan serta pergeseran tulang. Agar fragmen tulang rawan atau jaringan fibrus diperlukan waktu 3 sampai 4 minggu. Secara klinis, fragmen tulang tak dapat lagi digerakkan.

d. Osifikasi.
      
Pembentukan kalus mulai mengalami penurunan dalam 2 sampai 3 minggu patah tulang melalui proses penulangan endokondrial. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dengan keras. Pada patah tulang panjang orang dewasa, penulangan memerlukan waktu 3 sampai 4 bulan.

e. Remodeling.
      
Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati serta reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun tergantung beratnya tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang serta pada kasus yang melibatkan tulang kompak serta kanselus, stress funsional pada tulang. Tulang kanselus mengalami penyembuhan serta remodeling lebih cepat daripada tulang kortikal kompak khususnya pada titik kontak langsung.
      
Proses penyembuhan tulang tersebut dapat terganggu karena beberapa hal, sesampai akan memperlambat pertautan dua fragmen. Menurut Long (1996: 359) penyebab gangguan penyembuhan tulang atara lain sebagai berikut:
  • Kalus putus atau remuk karena aktivitas berlebihan. 
  • Edema pada lokasi fraktur, menahan penyaluran nutrisi ke lokasi.
  • Immobilisasi yang tidak efisien.
  • Infeksi terjadi pada lokasi.
  • Kondisi gizi klien buruk.
Sedangkan menurut Smeltzer serta Bare (2002: 2361) faktor yang menghambat penyembuhan tulang adalah:
  • Trauma lokal ekstensif.
  • Kehilangan tulang.
  • Immobilisasi tidak memadai.
  • Rongga atau jaringan diantara fragmen tulang.
  • Infeksi.
  • Keganasan lokal.
  • Penyakit tulang metabolik ( misalnya penyakit Paget).
  • Radiasi tulang (nekrosis radiasi). 
  • Nekrosis avaskuler.
  • Fraktur intraartikuler (cairan sinovial mengandung fibrilisin, yang akan melisis bekuan darah awal serta memperlambat pembentukan jendalan).
  • Usia (lansia sembuh lebih lama).
  • Kortikosteroid (menghambat kecepatan perbaikan).
Pemeriksaan Penunjang
  • X.Ray dilakukan untuk melihat bentuk patahan atau keadaan tulang yang cedera.
  • Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans
  • Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
  • CCT kalau banyak kerusakan otot.
  • Pemeriksaan Darah Lengkap

Lekosit turun/meningkat, Eritrosit serta Albumin turun, Hb, hematokrit sering rendah akibat perdarahan, Laju Endap Darah (LED) meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas, Pada masa penyembuhan Ca meningkat di dalam darah, traumaa otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal. Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multiple, atau cederah hati.


Komplikasi

1. Komplikasi Awal

a. Kerusakan Arteri

Pecahnya arteri karena trauma dapat ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, serta dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, serta pembedahan.

b. Kompartement Syndrom

Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam ruang tertutup di otot, yang sering berhubungan dengan akumulasi cairan sesampai menyebabkan hambatan aliran darah yang berat serta berikutnya menyebabkan kerusakan pada otot. Gejala – gejalanya mencakup rasa sakit karena ketidakseimbangan pada luka, rasa sakit yang berhubungan dengan tekanan yang berlebihan pada kompartemen, rasa sakit dengan perenggangan pasif pada otot yang terlibat, serta paresthesia. Komplikasi ini terjadi lebih sering pada fraktur tulang kering (tibia) serta tulang hasta (radius atau ulna).

c. Fat Embolism Syndrom

Merupakan keadaan pulmonari akut serta dapat menyebabkan kondisi fatal. Hal ini terjadi ketika gelembung – gelembung lemak terlepas dari sumsum tulang serta mengelilingi jaringan yang rusak. Gelombang lemak ini akan melewati sirkulasi serta dapat menyebabkan oklusi pada pembuluh – pembuluh darah pulmonary yang menyebabkan sukar bernafas. Gejala dari sindrom emboli lemak mencakup dyspnea, perubahan dalam status mental (gaduh, gelisah, marah, bingung, stupor), tachycardia, demam, ruam kulit ptechie.

d. Infeksi

System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) serta masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi dapat juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin serta plat.

e. Avaskuler Nekrosis

Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang dapat menyebabkan  nekrosis tulang serta diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia. Nekrosis avaskular dapat terjadi saat suplai darah ke tulang kurang baik. Hal ini paling sering mengenai fraktur intrascapular femur (yaitu kepala serta leher), saat kepala femur berputar atau keluar dari sendi serta menghalangi suplai darah. Karena nekrosis avaskular mencakup proses yang terjadi dalam periode waktu yang lama, pasien mungkin tidak akan merasakan gejalanya sampai dia keluar dari rumah sakit. Oleh karena itu, edukasi pada pasien merupakan hal yang penting. Perawat harus menyuruh pasien supaya melaporkan nyeri yang bersifat intermiten atau nyeri yang menetap pada saat menahan beban

f. Shock

Shock terjadi karena kehilangan banyak darah serta meningkatnya permeabilitas kapiler yang dapat menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.

g. Osteomyelitis

Adalah infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum serta korteks tulang dapat berupa exogenous (infeksi masuk dari luar tubuh) atau hematogenous (infeksi yang berasal dari dalam tubuh). Patogen dapat masuk melalui luka fraktur terbuka, luka tembus, atau selama operasi. Luka tembak, fraktur tulang panjang, fraktur terbuka yang terlihat tulangnya, luka amputasi karena trauma serta fraktur – fraktur dengan sindrom kompartemen atau luka vaskular memiliki risiko osteomyelitis yang lebih besar

2. Komplikasi Dalam Waktu Lama

a. Delayed Union (Penyatuan tertunda)

Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang.

b. Non union (tak menyatu)

Penyatuan tulang tidak terjadi,  cacat diisi  oleh  jaringan  fibrosa. Kadang –
kadang dapat terbentuk sendi palsu pada tempat ini. Faktor – faktor yang dapat menyebabkan non union adalah tidak adanya imobilisasi, interposisi jaringan lunak, pemisahan lebar dari fragmen contohnya patella serta fraktur yang bersifat patologis..

c. Malunion

Kelainan penyatuan tulang karena penyerasian yang buruk menimbulkan deformitas, angulasi atau pergeseran.


Penatalaksanaan Medis

Empat tujuan utama dari penanganan fraktur adalah :

1. Untuk menghilangkan rasa nyeri.

Nyeri yang timbul pada fraktur bukan karena frakturnya sendiri, tetapi karena terluka jaringan disekitar tulang yang patah tersebut. Untuk mengurangi nyeri tersebut, dapat diberikan obat penghilang rasa nyeri serta juga dengan tehnik imobilisasi (tidak menggerakkan daerah yang fraktur). 

Tehnik imobilisasi dapat dicapai dengan cara pemasangan bidai atau gips.
  • Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.
Pemasangan gips

Merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang yang patah. Gips yang ideal adalah yang membungkus tubuh sesuai dengan bentuk tubuh. Indikasi dilakukan pemasangan gips adalah :
  • Immobilisasi serta penyangga fraktur
  • Istirahatkan serta stabilisasi
  • Koreksi deformitas
  • Mengurangi aktifitas
  • Membuat cetakan tubuh orthotik
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips adalah :
  • Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan
  • Gips patah tidak dapat digunakan
  • Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat membahayakan klien
  • Jangan merusak / menekan gips
  • Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips / menggaruk
  • Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama
Untuk menghasilkan serta mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur.
Bidai serta gips tidak dapat mempertahankan posisi dalam waktu yang lama. Untuk itu diperlukan lagi tehnik yang lebih mantap seperti pemasangan traksi kontinyu, fiksasi eksternal, atau fiksasi internal tergantung dari jenis frakturnya sendiri.

a. Penarikan (traksi) :

Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali pada ekstermitas pasien. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian rupa sesampai arah tarikan segaris dengan sumbu panjang tulang yang patah. Metode pemasangan traksi antara lain

Traksi manual

Tujuannya adalah perbaikan dislokasi, mengurangi fraktur, serta pada keadaan emergenci

Traksi mekanik, ada 2 macam :
  • Traksi kulit (skin traction)
Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk sturktur yang lain misal otot. Digunakan dalam waktu 4 minggu serta beban < 5 kg.
  • Traksi skeletal
Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal / penjepit melalui tulang / jaringan metal.
Kegunaan pemasangan traksi, antara lain :
  • Mengurangi nyeri akibat spasme otot
  • Memperbaiki & mencegah deformitas
  • Immobilisasi
  • Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi)
  • Mengencangkan pada perlekatannya
Prinsip pemasangan traksi
  • Tali utama dipasang di pin rangka sesampai menimbulkan gaya tarik
  • Berat ekstremitas dengan alat penyokong harus seimbang dengan pemberat supaya reduksi dapat dipertahankan
  • Pada tulang-tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus
  • Traksi dapat bergerak bebas dengan katrol
  • Pemberat harus cukup tinggi di atas permukaan lantai
Dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang.

Pada saat ini metode penatalaksanaan yang paling banyak keunggulannya mungkin adalah pembedahan. Metode perawatan ini disebut fiksasi interna serta reduksi terbuka. Pada umumnya insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera serta diteruskan sepanjang bidang anatomik menuju tempat yang mengalami fraktur. Hematoma fraktur serta fragmen-fragmen tulang yang telah mati diirigasi dari luka. Fraktur lalu direposisi dengan tangan supaya menghasilkan posisi yang normal kembali. Sesudah direduksi, fragmen-fragmen tulang ini dipertahankan dengan alat-alat ortopedik berupa pen, sekrup, pelat, serta paku.

Keuntungan perawatan fraktur dengan pembedahan antara lain :
  • Ketelitian reposisi fragmen tulang yang patah
  • Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah serta saraf yang berada didekatnya
  • Dapat mencapai stabilitas fiksasi yang cukup memadai
  • Tidak perlu memasang gips serta alat-alat stabilisasi yang lain
  • Perawatan di RS dapat ditekan seminimal mungkin, terutama pada kasus-kasus yang tanpa komplikasi serta dengan kemampuan mempertahankan fungsi sendi serta fungsi otot hampir normal selama penatalaksanaan dijalankan

Fiksasi Interna

Intramedullary nail ideal untuk fraktur transversal, tetapi untuk fraktur lainnya kurang cocok. Fraktur dapat dipertahankan lurus serta terhadap panjangnya dengan nail, tetapi fiksasi mungkin tidak cukup kuat untuk mengontrol rotasi. Nailing diindikasikan bila hasil pemeriksaan radiologi memberi kesan bahwa jaringan lunak mengalami interposisi di antara ujung tulang karena hal ini hampir selalu menyebabkan non-union.

Keuntungan intramedullary nailing adalah dapat memberikan stabilitas longitudinal serta kesejajaran (alignment) serta membuat penderita dápat dimobilisasi cukup cepat untuk meninggalkan rumah sakit dalam waktu 2 minggu setelah fraktur. Kerugian meliput anestesi, trauma bedah tambahan serta risiko infeksi.

Closed nailing memungkinkan mobilisasi yang tercepat dengan trauma yang minimal, tetapi paling sesuai untuk fraktur transversal tanpa pemendekan. Comminuted fracture paling baik dirawat dengan locking nail yang dapat mempertahankan panjang serta rotasi

Fiksasi Eksterna

Bila fraktur yang dirawat dengan traksi stabil serta massa kalus terlihat pada pemeriksaan radiologis, yang biasanya pada minggu ke enam, cast brace dapat dipasang. Fraktur dengan intramedullary nail yang tidak memberi fiksasi yang rigid juga cocok untuk tindakan ini.

Agar terjadi penyatuan tulang kembali

Biasanya tulang yang patah akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu serta akan menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan. Namun terkadang terdapat gangguan dalam penyatuan tulang, sesampai dibutuhkan graft tulang.

Untuk mengembalikan fungsi seperti semula

Imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan mengecilnya otot serta kakunya sendi. Maka dari itu diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin.


Konsep Asuhan Keperawatan

Fokus Pengkajian
      
Fokus pengkajian pada klien dengan fraktur menurut Doenges, et. al (2000: 761) adalah sebagai berikut:

1. Aktivitas istirahat.
  • Tanda : Keterbatasan atau fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder serta pembengkakan jaringan, nyeri).
2. Sirkulasi.
  • Tanda : Hipertensi atau tidak ada nadi pada bagian distal yang cedera, pengisian kapiler lambat. Pucat pada bagian yang terkena pembengkakan jariangan atau massa hematoma pada sisi cedera.
3. Neurosensori.
  • Gejala: Hilang gerakan atau sensasi, spasme otot, kebas atau kesemutan (parestesis).
  • Tanda : Deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi (bunyi berderit), spasme otot, terlihat kelemahan atau hilang fungsi. Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri ansietas atau trauma lain).
4. Nyeri / kenyamanan.
  • Gejala : Nyeri hebat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan atau kerusakan tulang, dapat berkurang pada immobilisasi). Tak ada nyeri akibat kerusakan saraf. Spasme atau kram otot (setelah imobilisasi).
5. Keamanan.
  • Tanda : Laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna, pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).
6. Penyuluhan serta pembelajaran.
  • Gejala : Lingkungan cedera.

Diagnosa Keperawatan
  1. Nyeri berhubungan dengan gerakan fragmen, edema serta cedera pada jaringan lunak.
  2. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan kehilangan integritas tulang.
  3. Risiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler berhubungan dengan penurunan atau interupsi aliran darah.
  4. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuro muskuler.
  5. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer skunder akibat trauma jaringan.

Intervensi
      
Menurut Doenges, et. al (2000: 763-774) fokus intervensi pada klien fraktur adalah sebagai berikut:
Diagnosa keperawatan 1

Nyeri berhubungan dengan gerakan fragmen, edema serta cedera pada jaringan lunak.

Hasil yang diharapkan:
  • Menyatakan nyeri hilang.
  • Menunjukkan tindakan santai: mampu berpartisipasi dalam aktivitas / tidur / istirahat dengan ketat.
  • Menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi serta aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individu.
Intervensi:
  • Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring , gips, pembebat, traksi. Rasional : Menghilangkan nyeri serta mencegah kesalahan posisi tulang / tegangan jaringan cedera.
  • Tinggikan serta dukung ekstremitas yang terkena fraktur. Rasional : Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema serta nyeri.
  • Hindari penggunaan sprei atau bantal plastik di bawah ekstremitas yang di gips. Rasional : Dapat meningkatkan ketidaknyamanan karena peningkatan produksi panas dalam gips yang kering.
  • Evaluasi keluhan nyeri atau ketidaknyamanan, perhatikan lokasi serta karakteristik, termasuk intensitas (skala 0-10). Perhatikan petunjuk nyeri non verbal. Rasional : Mempengaruhi pilihan serta pengawasan keefektifan intervensi. 
  • Berikan alternatif tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, perubahan posisi. Rasional : Meningkatkan sirkulasi umum, menurunkan area tekanan serta kelelahan otot.
  • Dorong pasien menggunakan teknik manajemen stress, contoh relaksasi progresif atau latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi. Rasional : Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol serta meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri.
  • Selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa / tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif atau buruk tidak hilang dengan analgetik. Rasional : Dapat menandakan terjadinya komplikasi seperti infeksi, iskemia jaringan atau sindrom kompartemen.
  • Lakukan kompres dingin (es) pada 24-48 jam pertama serta sesuai keperluan. Rasional : Menurunkan edema atau pembentukan hematoma serta menurunkan nyeri.
  • Berikan analgetik sesuai indikasi. Rasional : Diberikan untuk menurunkan nyeri serta spasme otot.

Diagnosa Keperawatan. 2. 

Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan kehilangan integritas tulang.

Hasil yang diharapkan:
  • Mempertahankan stabilisasi dari posisi fraktur.
  • Menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas pada sisi fraktur.
  • Menunjukkan pembentukan kalus / mulai penyatuan fraktur dengan tepat.
Intervensi:
  • Pertahankan tirah baring / ekstremitas sesuai indikasi. Berikan sokongan sendi diatas serta dibawah fraktur bila bergerak / membalik. Rasional : Meningkatkan stabilitas, menurunkan kemungkinan gangguan posisi / penyembuhan.
  • Letakkan papan dibawah tempat tidur atau tempatkan pasien pada tempat tidur ortopedik. Rasional : Tempat tidur lembut atau lentur dapat membuat deformasi gips yang masih basah, mematahkan gips yang sudah kering atau mempengaruhi penarikan traksi.
  • Sokong fraktur dengan bantal / gulungan selimut. Pertahankan posisi netral pada bagian yang sakit dengan bantal pasir, pembebat, papan kaki. Rasional : Mencegah gerakan yang tak perlu serta perubahan posisi. Posisi yang tepat dari bantal juga dapat mencegah tekanan deformitas yang di gips kering.
  • Evaluasi pembebat ekstremitas terhadap resolusi edema. Rasional : Seiring dengan berkurangnya edema, penilaian kembali pembebat atau penggunaan gips plester mungkin diperlukan untuk mempertahankan kesejajaran fraktur.

Diagnosa Keperawatan. 3

Risiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler berhubungan dengan penurunan atau interupsi aliran darah.

Hasil yang diharapkan:
  • Mempertahankan perfusi jaringan dibuktikan oleh terabanya nadi, kulit hangat atau kering, sensasi normal, sensori biasa, tanda vital stabil, serta haluaran urin adekuat untuk situasi individu.
Intervensi:
  • Lepaskan perhiasan dari ekstremitas yang sakit. Rasional : Dapat membendung sirkulasi bila terjadi edema.
  • Evaluasi adanya (kualitas) nadi perifer distal terhadap cedera melalui palpasi. Rasiona : Penurunan atau tak adanya nadi dapat menggambarkan cedera vaskuler.
  • Kaji aliran kapiler, warna kulit serta kehangatan distal pada fraktur. Rasional  : Kembalinya warna kulit harus cepat (3-5 detik). Warna kulit putih, menunjukkan gangguan arterial, sianosis diduga adanya gangguan vena.
  • Lakukan pengkajian neuromuskuler. Perhatikan perubahan fungsi motor atau sensasi. Minta pasien untuk melokalisasi nyeri. Rasional : Gangguan perasaan kebas, kesemutan, peningkatan atau penyebaran nyeri bila sirkulasi pada saraf tidak adekuat atau saraf rusak.
  • Tes sensasi saraf perifer dengan menusuk pada kedua selaput antara ibu jari serta jari kedua serta kaji kemampuan dorsofleksi ibu jari bila di indikasikan. Rasional : Panjang serta posisi saraf perineal meningkatkan risiko cedera pada fraktur kaki, edema / sindrom kompartemen, malposisi alat traksi.
  • Kaji jaringan disekitar akhir gips, selidiki keluhan rasa terbakar di bawah gips. Rasional : Faktor ini disebabkan atau mengindikasikan jaringan iskemia, menimbulkan kerusakan / nekrosis.
  • Pertahankan peninggian ekstremitas yang cedera kecuali dikontraindikasikan. Rasional : Meningkatkan drainase vena / menurunkan edema.
  • Kaji keseluruhan panjang ekstremitas untuk pembengkakan / pembentukan edema. Rasional : Peningkatan lingkar ekstremitas yang cedera menandakan edema jaringan tetapi dapat juga perdarahan.
  • Selidiki tanda iskemia ekstremitas tiba-tiba (contoh penurunan suhu kulit serta peningkatan nyeri). Rasional : Dislokasi fraktur sendi (terutama lutut) dapat menyebabkan kerusakan arteri yang berdekatan serta berakibat hilangnya aliran darah ke distal.
  • Awasi tanda vital. Perhatikan tanda pucat / sianosis umum, kulit dingin, perubahan mental. Rasional : Ketidakadekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem perfusi jaringan.
  • Awasi hemoglobin / hematokrit, pemeriksaan faktor koagulasi darah (contoh protrombin). Rasional : Membantu dalam kalkulasi kehilangan darah serta membutuhkan keektifan terapi penggantian.

Diagnosa Keperawatan. 4. 

Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuro muskuler.

Hasil yang diharapkan:
  • Meningkatkan / mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin.
  • Mempertahankan posisi fungsional.
  • Meningkatkan kekuatan / fungsi yang sakit serta mengkompensasi bagian tubuh.
  • Menunjukkan teknik yang memampukan melakukan aktifitas.
Intervensi:
  • Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh pengobatan (terapi restriktif) serta perhatikan persepsi klien terhadap imobilisasi. Rasional : Pasien mungkin dibatasi oleh persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi / intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan.
  • Dorong partisipasi dalam akatifitas terapeutik / rekreasi. Pertahankan rangsang lingkungan seperti koran, TV, radio, barang pribadi, kalender dll. Rasional : Memberi kesempatan untuk mengeluarkan energi, memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol diri serta membantu menurunkan isolasi sosial.
  • Instruksikan pasien untuk / bantu dalam rentang gerak pasien, pasif untuk ekstremitas yang sakit serta aktif untuk ekstremitas yang sehat. Rasional : Meningkatkan aliran darah ke otot serta tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi, mencegah kontraktur / atrofi serta resorbsi kalsium karena tak digunakan.
  • Dorong penggunaan latihan isometrik mulai dari tungkai yang tidak sakit.Rasional : Kontraksi otot isometrik tanpa menekuk sendi atau menggerakkan tungkai serta membantu mempertahankan kekuatan serta massa otot.Dorong / bantu perawatan diri / kebersihan. Rasional : Meningkatkan kekuatan serta sirkulasi, meningkatkan kontrol pasien dalam situasi serta meningkatkan kesehatan diri langsung.
  • Ubah posisi secara periodik serta dorong untuk latihan batuk serta nafas dalam. Rasional : Mencegah / menurunkan insiden komplikasi kulit / pernafasan.
  • Konsul ahli terapi fisik / okupasi serta / atau rehabilitasi spesialis. Rasional : Berguna dalam membuat aktivitas iindividual / program latihan.

Diagnosa Keperawatan. 5

Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer skunder akibat trauma jaringan.

Hasil yang diharapkan:
  • Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase purulen atau eritema serta demam.
Intervensi:
  • Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontinuitas. Rasional : Pen atau kawat tidak dimasukkan melalui kulit yang terinfeksi, kemerahan atau abrasi.
  • Kaji kulit, perhatikan keluhan peningkatan nyeri / rasa terbakar atau adanya edema, eritema, drainase serta bau tak enak. Rasional : Dapat mengindikasikan timbulnya infeksi lokal /nekrosis jaringan yang dapat menimbulkan osteomielitis.
  • Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi, perubahan warna kulit kecoklatan, bau drainase yang tak enak / asam. Rasional : Tanda perkiraan gas gangren.
  • Kaji tonus otot, refleks tendon dalam serta kemampuan untuk berbicara. Rasional:Kekakuan otot, spasme tonik otot rahang, serta disfagia menunjukkan terjadinya tetanus.
  • Berikan obat-obatan sesuai indikasi: antibiotik serta tetanus toksoid. Rasional : Dapat diberikan sebagai profilaksis.

Daftar Pustaka
  • Tucker,Susan Martin (1993). Standar Perawatan Pasien, Edisi V, Vol 3. Jakarta. EGC
  • Donges Marilynn, E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta. EGC
  • Smeltzer Suzanne, C (1997). Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart.  Edisi 8. Vol  3. Jakarta. EGC
  • Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4. Jakarta. EGC.
Untuk mendownload laporan fraktur lengkap, pdf serta doc silahkan dibawah :
Link Alternatif
Demikan Postingan laporan pendahuluan fraktur, pdf serta doc kami bagikan, semoga dapat membantu teman - teman sejawat dalam pembuatan tugas keperawatan seperti makalah, askep serta laporan pendahuluan. semoga bermanfaat, terima kasih.

0 Response to "Laporan Pendahuluan Fraktur / LP Patah Tulang Pdf serta Doc"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel