Laporan Pendahuluan / LP Empiema Lengkap Dengan Askep, Download Format Doc serta Pdf

Berbagi laporan pendahuluan / lp empiema doc serta pdf.

Teman-teman perawat sekalian pada postingan kali ini kami share laporan pendahuluan / lp empiema lengkap mulai dari tinjauan teori sampai konsep asuhan keperawatan, yang telah kami susun berdasarkan beberapa refferensi terpercaya.

laporan pendahuluan / lp empiema ini kami bagikan dengan tujuan dapat membantu teman-teman sejawat sekalian dalam pembuatan tugas keperawatan, seperti askep, makalah serta lp itu sendiri. Adapun isi dari laporan pendahuluan / lp empiema ini terdiri dari pengertian, klasifikasi, etiologi / penyebab, patofisiologi, pathway, tanda serta gejala, komplikasi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan sampai konsep asuhan keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa, intervensi serta dilengkapi juga dengan daftar pustaka.

Untuk mendownload laporan pendahuluan empiema lengkap dalam format doc serta pdf telah kami sediakan link unduhan diakhir artikel yang dapat teman-teman sekalian gunakan.


Laporan Pendahuluan Empiema


Pengertian

Empiema adalah keadaan terkumpulnya nanah ( pus ) didalam ronggga pleura dapat setempat atau mengisi seluruh rongga pleura( Ngastiyah,1997).

Empiema adalah  penumpukan cairan terinfeksi atau pus pada cavitas pleura ( Diane C. Baughman, 2000 ).

Empiema adalah penumpukan materi purulen pada areal pleural ( Hudak  & Gallo, 1997 )

Empiema adalah pengumpulan cairan purulen (pus) dalam cavitas pleural. Pada awalnya cairan pleura sedikit, dengan hitung leukosit rendah. Tetapi, sering kali cairan ini berkembang ke tahap fibropurulen serta akhirnya ke tahap dimana cairan tersebut membungkus paru dalam membrane eksudatif yang tebal. Kondisi ini dapat terjadi bila abses paru meluas sampai cavitas pleural. Meskipun empiema bukan merupakan komplikasi lazim infeksi paru, empiema dapat terjadi bila pengobatan terlambat.


Klasifikasi

Empiema dibagi menjadi dua stadium :

1. Empiema akut

Terjadi akibat infeksi sekunder dari tempat lain, bukan primer dari pleura.Bila pada
stadium ini dibiarkan beberapa minggu, maka akan timbul toksemia ,anemia, serta clubbingfinger. Jika pus tidak segera dikeluarkan akan timbul fistel bronkopleural.

2. Empiema kronis

Batas tegas antara empiema akut serta kronis sukar ditentukan.Disebut kronis bila
empiema berlangsung selama lebih dari 3 bulan.Pada stadium ini,bila klien menerima terapi antimikroba.


Etiologi / Penyebab

1. Infeksi yang berasal dari dalam paru :
  • Pneumonia
  • Abses paru
  • Bronkiektasis
  • TBC paru
  • Aktinomikosis paru
  • Fistel Bronko-Pleura
2. Infeksi yang berasal dari luar paru :
  • Trauma Thoraks
  • Pembedahan thorak
  • Torasentesi pada pleura
  • Sufrenik abses
  • Amoebic liver abses
3. Bakteriologi :
  • Staphylococcus adalah kelompok dari bakteri-bakteri, secara akrab dikenal sebagai Staph, yang dapat menyebabkan banyak penyakit-penyakit sebagai akibat dari infeksi beragam jaringan-jaringan tubuh. Bakteri-bakteri Staph dapat menyebabkan penyakit tidak hanya secara langsung oleh infeksi (seperti pada kulit), tetapi juga secara tidak langsung dengan menghasilkan racun-racun yang bertanggung jawab untuk keracunan makanan serta toxic shock syndrome. Penyakit yang berhubungan dengan Staph dapat mencakup dari ringan serta tidak memerlukan perawatan sampai berat/parah serta berpotensi fatal.
  • Pneumococcus adalah salah satu jenis bakteri yang dapat menyebabkan infeksi serius seperti radang paru-paru (pneumonia),meningitis (radang selaput otak) serta infeksi darah (sepsis).Sebenarnya ada sekitar 90 jenis kuman pneumokokus, tetapi hanya sedikit yang dapat menyebabkan penyakit gawat. Bentuk kumannya bulat-bulat serta memiliki bungkus atau kapsul. Bungkus inilah yang menentukan apakah si kuman akan berbahaya atau tidak.

Patofisiologi

Akibat invasi basil piogeneik ke pleura, maka akan timbulah peradangan  akut yang diikuti dengan pembentukan eksudat serous. Dengan sel polimorphonucleus (PMN) baik yang hidup maupun yang mati serta meningkatnya kadar protein, maka cairan menjadi keruh serta kental. Adanya endapan – endapan fibrin akan membentuk kantung–kantung yang melokalisasi nanah tersebut.

Sekresi cairan menuju celah pleura normalnya membentuk keseimbangandengan drainase oleh limfatik subpleura. Sistem limfatik pleura dapatmendrainase hampir 500 ml/hari. Bila volume cairan pleura melebihi kemampuanlimfatik untuk mengalirkannya maka, efusi akan terbentuk.

Efusi parapnemonia merupakan sebab umum empiema. Pneumonia mencetuskan respon inflamasi. Inflamasi yang terjadi dekat dengan pleura dapat meningkatkan permeabilitas sel mesotelial, yang merupakan lapisan sel terluardari pleura. Sel mesotelial yang terkena meningkat permeabilitasnya terhadap albumin serta protein lainnya. Hal ini mengapa suatu efusi pleura karena infeksi kaya akan protein. Mediator kimia dari proses inflamasi menstimulasi mesotelial untuk melepas kemokin, yang merekrut sel inflamasi lain. Sel mesotelial memegang peranan penting untuk menarik neutrofil ke celah pleura. Pada kondisi normal, neutrofil tidak ditemukan pada cairan pleura. Neutrofil ditemukan pada cairan pleura hanya bila direkrut sebagai bagian dari suau proses inflamasi. Netrofil, fagosit, mononuklear, serta limfosit meningkatkan respon inflamasi serta mengeleluarkanmediator untuk menarik sel-sel inflamator lainya ke dalam pleura.

Efusi pleura parapneumoni dibagi menjadi 3 tahap berdasarkan patogenesisnya, yaitu efusi parapneumoni tanpa komplikasi, dengan komplikasi serta empiema torakis. Efusi parapneumoni tanpa komplikasi merupakan efusi eksudat predominanneutrofil yang terjadi saat cairan interstisiil paru meningkat selama pneumonia.Efusi ini sembuh dengan pengobatan antibiotik yang tepat untuk pneumonia. Efusi parapneumonikomplikasi merupakan invasi bakteri pada celah pleura yang mengakibatkan peningkatan jumlah neutrofil, asidosis cairan pleura serta peningkatan konsentrasi LDH. Efusi ini sering bersifat steril karena bakteri biasanya dibersihkan secara cepat dari celah pleura.

Pembentukan empiema terjadi dalam 3 tahap, yaitu :
  1. Fase eksudatif : Selama fase eksudatif, cairan pleura steril berakumulasisecara cepat ke dalam celah pleura. Cairan pleura memiliki kadar WBC serta LDH yang rendah, glukosa serta pH dalam batas normal. Efusi ini sembuh dengan terapi antibiotik, penggunaan chest tube tidak diperlukan.
  2. Fase fibropurulen : invasi bakteri terjadi pada celah pleura, dengan akumulasi leukosit PMN, bakteri serta debris. Terjadi kecendrungan untuk lokulasi, pH serta kadar glukosa menurun, sedangkan kadar LDH menngkat.
  3. Fase organisasi : Bentuk lokulasi. Aktivitas fibroblas menyebabkan pelekatan pleura visceral serta parietal. Aktivitas ini berkembang dengan pembentukan perlengketan dimana lapisan pleura tidak dapat dipisahkan. Pus, yang kaya akan protein dengan sel inflamasi serta debris berada pada celah pleura. Intervensi bedah diperlukan pada tahap ini.
Gambaran bakteriologis efusi parapneumoni dengan kultur positif berubah seiring berjalannya waktu. Sebelum era antibiotik, bakteri yang umumnya didapatkan adalah Streptococcus pneumoniae sertastreptococci hemolitik. Saat ini, organisme aerob lebih sering diisolasi dibandingkan organisme anaerob. Staphylococcus aureus serta S pneumoniae tumbuh pada 70 % kultur bakteri gram positif aerob. Bakteriologi suatu efusi parapneumoni berhubungan erat dengan bakteriologi pada proses pneumoni. Organisme aerob gram positif dua kali lebih sering diisolasi dibandingkan organisme aerob gram negatif. Klebsiela, Pseudomonas, serta Haemophilus merupakan 3 jenis organisme aerob gram negatif yang paling sering diisolasi.
       
Bacteroides sertaPeptostreptococcus merupakan organisme anaerob yang paling sering diisolasi. Campuran bakteri aerob serta anaerob lebih sering menghasilkan suatu empiema dibandingkan infeksi satu jenis organisme. Bakteri anaerob telah dikultur 36 sampai 76 % dari empiema. Sekitar 70 % empiema merupakan suatu komplikasi dari pneumoni. Pasien dapat mengeluh menggigil, demam tinggi, berkeringat, penurunan nafsu makan, malaise, serta batuk. Sesak napas juga dapat dikeluhkan oleh pasien.

Pathway Empiema

Tanda serta Gejala

Secara umum tanda serta gejala empiema hampir sama dengan penderita pneumonia bakteria, gejalanya antara lain adalah panas akut, nyeri dada (pleuritic chest pain), batuk, sesak, serta dapa juga sianosis. Inflamasi pada ruang pleura dapat menyebabkan nyeri abdomen serta muntah. Gejala dapat terlihat tidak jelas serta panas mungkin tidak dialami penderita dengan sistem imun yang tertekan. Juga terdapat batuk pekak pada perkusi dada, dispneu, menurunnya suara pernapasan, demam pleural rub (pada fase awal) ortopneu, menurunnya vokal fremitus, nyeri dada.

Tanda gejala empiema berdasarkan klasifikasi empiema akut serta empiema kronis

1. Emphiema akut:
  • Panas tinggi serta nyeri pleuritik.
  • Adanya tanda-tanda cairan dalam rongga pleura.
  • Bila dibiarkan sampai beberapa minggu akan menimbulkan toksemia, anemia, serta clubbing finger .
  • Nanah yang tidak segera dikeluarkan akan menimbulkan fistel bronco-pleural.
  • Gejala adanya fistel ditandai dengan batuk produktif bercampur dengan darah serta nanah banyak sekali.
2. Emphiema kronis:
  • Disebut kronis karena lebih dari 3 bulan.
  • Badan lemah, kesehatan semakin menurun.
  • Pucat, clubbing finger.
  • Dada datar karena adanya tanda-tanda cairan pleura.
  • Terjadi fibrothorak trakea serta jantung tertarik kearah yang sakit.
  • Pemeriksaan radiologi menunjukkan cairan.

Komplikasi

Kemungkinan komplikasi yang terjadi adalah pengentalan pada pleura. Jika inflamasi telah berlangsung lama, eksudat dapat terjadi di atas paru yang menganggu ekspansi normal paru. Dalam keadaan ini diperlukan pembuangan eksudat melalui tindakan bedah (dekortasi). Selang drainase dibiarkan ditempatnya sampai pus yang mengisi ruang pleural dipantau melalui rontgen dada serta pasien harus diberitahu bahwa pengobatan ini dapat membutuhkan waktu lama.


Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan Radiologi
  • Foto thoraks PA serta lateral didapatkan gambaran opacity yang menunjukan adanya cairan dengan atau tanpa kelaina paru. Bila terjadi fibrothoraks , trakhea di mediastinum tertarik ke sisi yang sakit serta juga tampak adanya penebalan.
  • Cairan pleura bebas dapat terlihat sebagai gambaran tumpul di sudut kostofrenikus pada posisi posteroanterior atau lateral.
  • Dijumpai gambaran yang homogen pada daerah posterolateral dengan gambaran opak yang konveks pada bagian anterior yang disebut dengan D-shaped shadow yang mungkin disebabkan oleh obliterasi sudut kostofrenikus ipsilateral pada gambaran posteroanterior.
  • Organ-organ mediastinum terlihat terdorong ke sisi yang berlawanan dengan efusi.
  • Air-fluid level dapat dijumpai bila disertai dengan pneumotoraks, fistula bronkopleural.
2. Pemeriksaan pus

Aspirasi pleura akan menunjukan adanya pus  di dalam rongga  dada(pleura). Pus dipakai sebagai bahan pemeriksaan sitologi , bakteriologi, jamur serta amoeba. Untuk berikutnya, dilakukan jkultur (pembiakan) terhadap kepekaan antobiotik.

3. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) :
  • Pemeriksaan dapat menunjukkan adanya septa atau sekat pada suatu empiema yang terlokalisir.
  • Pemeriksaan ini juga dapat membantu untuk menentukan letak empiema yang perlu dilakukan aspirasi atau pemasangan pipa drain.
4. Pemeriksaan CT scan :
  • Pemeriksaan CT scan dapat menunjukkan adanya suatu penebalan dari pleura.
  • Kadang dijumpai limfadenopati inflamatori intratoraks pada CT scan
5. Sinar x.
  • Mengidentifikasi distribusi stuktural, menyatakan absesluas/infiltrate, empiema(strafilokokus). infiltrat menyebar atau terlokalisasi(bacterial).
6. GDA /nadi oksimetri.
  • Tidak normal mungkin terjadi,tergantung pada luas paru yang terlibat serta penyakit paru yang ada.
7. Tes fungsi paru.

Dilakukan untuk menentukan penyebab dipsnea, untuk menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi,untuk memperkirakan derajat disfungsi.

8. Pemeriksaan Gram/kultur sputum serta darah

Dapat diambil dengan biopsy jarum,aspirasi transtrakeal,bronkoskopi fiberoptik atau biopsy pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab.Lebih dari satu tipe organisme ada: bakteri yang umum meliputi diplokokus pneumonia,strafilokokus aureus,A-hemolitik streptokokus, haemophilus influenza:CMV. Catatan: kultur sputum dapat tak mengidentifikasi semua organisme yang ada,kultur darah dapat menunjukkan bakterimia sementara.

9. EKG latihan,tes stress

Membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru perencanaan/ evaluasi program latihan.


Penatalaksanaan

1. Pengosongan Nanah

Prinsip ini seperti umumnya yang dilakukan pada abses, untuk mencegah efek toksisnya.

2. Closed drainage – toracostomy water sealed drainage dengan indikasi :
  • Nanah sangat kental serta sukar diaspirasi
  • Nanah terus terbentuk setelah dua minggu
  • Terjadinya piopneumotoraks
  • Upaya WSD juga dapat dibantu dengan pengisapan negative sebesar 10-20 cmH2O. Jika setelah 3-4 minggu tidak ada kemajuan, harus ditempuh cara lain seperti pada empiema kronis.
3. Drainase terbuka (open drainage)

Karena menggunakan kateter karet yang besar, maka perlu disertai juga dengan reseksi tulang iga. Open drainage ini dikerjakan pada empiema kronis, hal ini dapat terjadi akibat pengobatan yang terlambat atau tidak adekuat misalnya aspirasi yang terlambat atau tidak adekuat, drainase tidak adekuat sesampai harus seing mengganti atau membersihkan drain.

4. Antibiotic

Mengingat kematian sebagai akibat utama dari sepsis, maka antibiotic memegang peranan penting. Antibiotic harus segera diberikan begitu diagnosis ditegakkan serta dosisnya harus tepat. Pemilihan antibiotic didasarkan  pada hasil pengecatan gram serta apusan nanah. Pengobatan berikutnya tergantung pada hasil kultur serta sensitivitasnya. Antibiotic dapat diberikan secara sistematik atau tropical. Biasanya diberikan penisilin.

5. Penutupan Rongga Empiema
  • Pada empiema menahun sering kali rongga empiema tidak menutup karena penebalan serta kekakuan pleura. Pada keadaan demikian dilkukan pembedahan (dekortikasi) atau torakoplasti.
6. Dekortikasi, Tindakan ini termasuk operasi besar, dengan indikasi :
  • Drain tidak berjalan baik karena banyak kantung-kantung.
  • Letak empiema sukar dicapai oleh drain.
  • Empiema totalis yang mengalami organisasi pada pleura visceralis.
7. Torakoplast

Jika empiema tidak mau sembuh karena adanya fistel bronkopleura atau tidak mungkin dilakukan dekortikasi. Pada pembedahan ini, segmen dari tulang iga dipotong subperiosteal, dengan demikian dinding toraks jatuh ke dalam rongga pleura karena tekanan atmosfer.

8. Pengobatan Kausal

Misalnya subfrenik abses dengan drainase subdiafragmatika, terapi spesifik pada amoeboiasis, serta sebagainya.

9. Pengobatan Tambahan

Perbaiki keadaan umum lalu fisioterapi untuk membebaskan jalan napas.

Asuhan keperawatan pada pasien dengan empiema

Dasar data pengkajian.

a. Aktivitas  / istirahat.
  • Gejala ; keletihan, kelemahan, malaise.
  • Ketidakmampuan melakukan  ADL karena sulit bernapas.
  • Ketidakmampuan untuk tidur.
  • Dispneu pada saat istirahat.
b. Sirkulasi ;    pembengkakan pada ekstremitas bawah.

c. Integritas ego;    peningkatan factor resiko, perubahan pola hidup.

d. Makanan/cairan ;   mual muntah  nafsu makan menurun .

e. Higiene ;   penurunan kemampuan melakukan ADL.

f. Pernafasan ;  nafas pendek batuk menetap dengan produksi sputum, riwayat pneumoni berulang ,  
episode batuk hilang timbul.

g. Keamanan. ;   riwayat reaksi alergi atau sensitive terhadap zat / factor lingkungan.

h. Seksualitas. ; penurunan libido.

i. Interaksi social ; hubungan ketergantungan,  kurang sistem pendukung,  penyakit lama.


Prioritas Keperawatan.
  1. Mempertahankan patensi jalan nafas
  2. Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas.
  3. Meningkatkan masukan nutrisi
  4. Mencegah komplikasi, memperlambat memburuknya kondisi
  5. Memberikan informasi tentang proses penyakit / prognosis serta program pengobatan.

Diagnosa Keperawatan

  1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronchus spsame, peningkatan produksi secret, kelemahan
  2. Pertukaran gas, kerusakan berhubungan dengan gangguan  suplai oksigen , kerusakan alveoli .
  3. Nutrisi, perubahan, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan  dispneu, kelemahan, anoreksia, mual muntah.
  4. Resiko infeksi
  5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakitnya.


Intervensi Keperawatan

Diagnosa keperawatan. 1

Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronchus spsame, peningkatan produksi secret, kelemahan

Kriteria hasil :
  • Pertahankan jalan nafasa paten dengan bunyi nafas bersih 
  • Menunjukkan perilaku batuk efektif serta mengeluarkan secret
Intervensi
  • Auskultasi bunyi nafas catat adanya bunyi nafas, kaji serta pantau suara pernafasan. Rasional : Untuk mengetahui adanya obstruksi jalan nafas, tachipneu merupakan derajat yan ditemukan  adanya proses infeksi akut.
  • Catat adanya atau derajat dispneu, gelisah ,ansietas serta distress pernafasan. Rasional : Disfungsi pernafasan merupakan tahap proses kronis yang yang dapat menimbulkan infeksi atau reaksi alergi.
  • Kaji pasien untuk posisi yang nyaman , misalnya peninggian kepala tempat tidur. Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi.
  • Bantu latihan nafas abdomen atau bibir. Rasional : Memberikan pasien berbagao cara untuk mengatasi  serta mengontrol dispneu serta menurunkan jebakan udara.
  • Observasi karakteristik batuk. Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif khususnya bila pasien lansia, sakit akut, atau kelemahan. 
  • Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml per hari sesuai toleransi  jantung. Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret , mempermudah pengeluaran
  • Memberikan obata sesaui indikasi. Rasional : Merilekskan otot halus  serta menurunkan kongesti lokal, menurunkan spasme jalan nafas, mengi, serta produksi mukosa.

Diagnosa Keperawatan. 2

Pertukaran gas, kerusakan berhubungan dengan gangguan  suplai oksigen , kerusakan alveoli .

Kriteria hasil
  • Menunjukkan perbaikan ventilasi serta oksigenisasi jaringan adekuat,berpartisipasi dalam program pengobatan.
Intervensi
  • Kaji frekwensi,kedalaman pernapasan. Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan serta atau kronisnya penyakit.
  • Tinggikan kepala tempat tidur. Rasional   ; Pengiriman oksigen  dapat diperbaiki dengan posisi tinggi serta latihan napas untuk menurunkan kolap jalan napas.
  • Auskultasi bunyi nafas  catat area penurunan aliran udara ,bunyi tambahan. Rasional : Bunyi nafas redup karena penurunan aliran udara ,mengi ;  indikasi spasme bronchus / tertahannya sekret, Krekels basah menyebar menujukkan cairan pada dekompensasi jantung.
  • Palpasi primitus. Rasional : Penurunan getarn fibrasi  diduga adanya pengumpulan cairan atau udara terjebak. 
  • Awasi tanda vital serta irama jantung. Rasional : Tachikardia ,disritmia, perubahan tekanan darah dapat menujukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.


Diagnosa keperawatan. 3

Nutrisi, perubahan, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan  dispneu, kelemahan, anoreksia, mual muntah.

Kriteria hasil :
  • Menunjukkan peningkatan berat badan  mempertahankan berat badan 
Intervensi :
  • Kaji kebiasaan diit ,catat derajat kesulitan makan. Rasional : Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dispneu, produksi sputum. 
  • Auskultasi bunyi usus. Rasional : Penurunan atau hipoaktif bising usus  menunjukkan motilitas gaster serta kostipasi yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan, pilihan makanan buruk, penurunan aktivitas serta hipoksemia.
  • Hindari makan yang mengandung gas.dan minuman karbonat. Rasional : Dapat menghasilakan distensi abdomen yang menganggu nafas abdomen serta gerakan diagframa yang dapat meningkatan dispnea.
  • Hindari makan yang sangat panas serta dingin. Rasional : Suhu ekstrim dapat mencetuskan / meningkatkan spasme batuk.
  • Timbang berat badan sesuai indikasi. Rasional : Berguna untuk menetukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan berat badan serta evaluasi  keadekuatan rencana nutrisi.
  • Kolaborasi   dengan ahli gizi / nutrisi. Rasional : Metode makan serta kebutuhan dengan upaya kalori didasarkan pada kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal  dengan upaya minimal pasien  /penggunaan  energi 

Diagnosa keperawatan. 4

Resiko infeksi

Kriteria hasil :
  • Mengidentifikasi  intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi
  • Menunjukkan teknik, perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman.
Intervensi :
  • Awasi suhu. Rasional : Demam dapat terjadi karena infeksi serta atau dehidrasi.
  • Observasi warna ,bau sputum. Rasional : Sekret berbau, kuning atau kehijauan menujukkan adanya infeksi    paru. 
  • Dorong kesimbangan antara aktivitas serta istirahat. Rasional : Menurunkan konsumsi / kebutuhan kesimbangan oksigen serta      memperbaiki pertahan pasien terhadapa infeksi, peningkatan penyembuhan .
  • Diskusi masukan nutrisi adekuat. Rasional : Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum serta menurunkan tahanan terhadap infeksi.
  • Kolaborasi pemeriksaan sputum. Rasional : Dilakukan untuk mengidentifikasi organisme penyebab  serta   kerentanan terhadap anti microbial


Diagnosa keperawatan. 5

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakitnya.
       
Kriteria hasil :
  • Nyatakan atau pemahaman kondisi atau proses penyakit.
Intervensi :
  • Jelaskan proses penyakit individu. Rasional : Menurunkan ansietas serta dapat menimbulkan perbaikan. 
  • Berikan latihan atau batuk efektif. Rasional : Pernafasan bibir serta nafas abdomen / diagframatik menguatkan otot pernafasan, membantu meminimalkan  kolaps jalan nafas.
  • Kaji efek bahaya merokok serta nasehatkan  untuk menghentikan rokok. Rasional : Penghentian merokok dapat menghambat kemajuan  PPOM.
  • Diskusi pentingnya mengikuti perawatan medik ( Foto Thoraks serta kultur sputum ). Rasional : Pengawasan proses penyakit untuk membuata program therapy .
  • Kaji kebutuhan / dosis oksigen untuk pasien. Rasional : Menurunkan resiko kesalahan penggunaan  oksigen  serta komplikasi lanjut.

Daftar Pustaka
  • Hudak & Gallo, ( 1997 ), Keperawatan kritis : suatu pendekatan  holistic, EGC, Jakarta
  • Diana C. Baughman, ( 2000 ), Patofisiologi, EGC, Jakarta.
  • Marilyn E. Doengoes, (2000 ), Rencana asuhan keperawatan, pendekatan untuk perencanaan serta pendokumentasian perawatan pasien., EGC, Jakarta.
  • Ngastiyah, ( 1997 ), Perawatan anak sakit , EGC, Jakarta
Untuk mendownload laporan pendahuluan empiema lengkap dengan askep doc serta pdf, dibawah.
  • Laporan pendahuluan empiema lengkap dengan askep doc, (Ambil File)
  • Laporan pendahuluan empiema lengkap dengan askep pdf, (Ambil File)
Link Alternatif
Demikian laporan pendahuluan / LP empiema lengkap dengan askep, download format doc serta pdf kami bagikan, semoga dapat membantu teman perawat sekalian dalam pembuatan tugas tentang empiema. terima kasih.

0 Response to "Laporan Pendahuluan / LP Empiema Lengkap Dengan Askep, Download Format Doc serta Pdf "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel