Laporan Pendahuluan / LP Hemofilia, Download Pdf serta Doc

Kami bagikan laporan pendahuluan hemofilia pdf serta doc.

Seakan tak pernah lelah kami selalu menyabilan ilmu keperawatan serta laporan pendahulua dengan berbagai judul, termasuk postingan kali ini, kami juga akan menshare laporan pendahuluan dengan diagnosa hemofilia.

Bertujuan untuk memudahkan teman sekalian dalam pembuatan tugas laporan pendahuluan hemofilia, disini kami sediakan file LP hemofilia dalam bentuk format pdf serta doc, sesampai memudahkan teman sejawat dalam mengedit sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Untuk mendownload laporan pendahuluan hemofilia pdf serta doc, telah kami sediakan link unduhan diakhir artikel ini yang dapat teman sejawat sekalian gunakan.

Laporan Pendahuluan Hemofilia


Pengertian

Hemofilia adalah kelainan koagulasi darah bawaan yang paling sering serta serius, berhubungan dengan defisiensi  faktor VII, IX atau XI. Biasanya hanya terdapat pada pada anak laki-laki, terpaut kromosom X serta bersifat resesif.(Perkapita Selekta Jilid 2)

Hemofilia adalah kelainan perdarahan herediter terikat seksi yang dikarakteristikkan oleh defisiensi faktor pembekuan esensial.(Barbara Engram Vol. 2)

Hemofilia adalah penyakit koagulasi darah congenital karena anak kekurangan factor pembekuan VIII (hemofilia A) atau factor IX (Hemofilia B atau penyakit chritmas).
(Cacily L. Betz & Linda A. Sowden)

Hemofilia adalah kelainan pembekuan yang diturunkan, baik hemofilia A (kurang factor VIII) maupun hemofilia B sebagai penyakit Christmas (kekurangan factor IX) adalah turunan yang merupakan kelainan menerima rantai sek serta hampir terbatas pada kaum pria saja.(Barbara E. Long Vol. 2)


Klasifikasi
  • Hemofilia A
Merupakan hemofili klasil terjadi karena defisiensi factor VIII.
  • Hemofilia B
Terjadi karena defisiensi factor IX. Faktor IX diproduksi hati serta merupakan salah satu factor pembekuan dependen vitamin K.
  • Penyakit van willebrand

Etiologi

1. Faktor Kongenital. Bersifat resesif autosomal herediter,kelainan timbul akibat sintesis faktor pembekuan darah menurun. Gejalanya berupa mudahnya timbul kebiruan pada kulit / perdarahan spontan atau perdarahan yang berlebihan setelah suatu trauma.

2. Faktor Didapat. Biasanya disebabkan oleh defisiensi factor II (protrombin)  yang terdapat pada keadaan berikut:

Hemofilia berdasarkan etiologinya di bagi menjadi dua jenis:

a. Hemofilia A. Hemofilia A dikenal juga dengan nama Hemofilia Klasik : karena jenis hemofilia ini adalah yang paling banyak kekurangan faktor pembekuan pada darah. Kekurangan faktor VIII protein pada darah yang menyebabkan masalah pada proses pembekuan darah.

b. Hemofilia B. Hemofilia B dikenal juga dengan nama Chrismas disease : karena ditemukan untuk pertama kalinya pada seorang bernama Steven Chrismas asal kanada.

Hemofilia ini di sebabkan karena kurangnya faktor pembekuan IX . dapat muncul dengan bentuk yang sama dengan tipe A. Gejala ke dua tipe hemofilia adalah sama, tetapi yang membedakan tipe A / B adalah dari pengukuran waktu tromboplastin partial deferensial.

Hemophilia A atau Hemofilia B adalah suatu penyakit yang jarang ditemukan, hemophilia A terjadi sekurang – kurangnya 1 di antara 10.000 orang, Hemofilia B lebih jarang ditemukan , yaitu 1 di antara 50.000 orang. Dapat muncul dengan bentuk ringan, berat, serta sedang.
  • Berat (kadar faktor VIII atau IX kurang dari 1%)
  • Sedang (faktor VIII/IX antara 1%-5%) serta
  • Ringan (faktor VIII/X antara 5%-30%).

Patofisiologi
      
Keadaan ini adalah penyakit congenital yang diturunka oleh gen resesif X-linked dari pihak ibu. Factor VIII serta factor IX adalah protein plasma yang merupakan komponen yang diperlukan untuk pembekuan darah. Fakto-faktor tersebut diperlukan untuk pembentukan untuk pembekuan fibrin pada tempat pembuluh cedera. Hemofilia berat terjadi bila konsentrasi factor VIII serta IX plasma antara 1% serta 5% serta hemofilia ringan terjadi bila konsentrasi plasma antara 5% serta 25% dari kadar normal. Manifestasi klinisnya bergantung pada umur anak serta hebatnya defisiensi factor VIII serta IX. Hemofilia berat ditandai perdarahan kambuhan, timbul spontan atau setelah trauma yang relatif ringan. Tempat perdarahan paling umum adalah di dalam persendian lutut, siku, pergelangan kaki, bahu serta pangkal paha. Otot yang paling sering terkena adalah heksor lengan bawah, gastroknemius serta iliopsoas.
      
Karena kemajuan dalam bidang pengobatan, hampir semua pasien hemofilia diperkirakan dapat hidup normal.

Untuk mendownload pathway hemofilia doc, DISINI


Tanda serta Gejala

Masa bayi (untuk diagnosis)
  • Perdarahan berkepanjangan setelah sirkumsisi
  • Ekimosis subkutan diatas tonjolan-tonjolan tulang (saat berumur 3-4 bulan)
  • Hematoma besar setelah infeksi
  • Perdarahan dari mukosa oral
  • Perdarahan jaringan lunak

Episode perdarahan (selama rentang hidup)
  • Gejala awal, yaitu nyeri
  • Setelah nyeri, yaitu bengkak, hangat serta penurunan mobilitas

Sekuela jangka panjang

Perdarahan berkepanjangan dalam otot dapat menyebabkan kompresi saraf serta fibrosis otot.

Secara umum hemophilia ditandai dengan gejala klinis sebagai berikut.
  • Perdarahan terjadi pada periode neonatal (karena factor VIII tidak melewati plasenta)
  • Kelainan diketahui setelah tindakan sirkumsisi atau suntikan.
  • Pada usia anak-anak sering terjadi memar atau hematom.
  • Laserasi kecil (luka di lidah atau bibir)
  • Gejala khasnya : hematrosis (perdarahan sendi) yang nyeri serta menimbulkan keterbatasan gerak.
  • Persendian yang bengkak, nyeri atau pembengkakan pada tungkai atau lengan (terutama lutut atau siku) bila perdarahan terjadi.
  • Perdarahan hebat karena luka potong yang kecil.
  • Darah dalam urin (kadang-kadang).
      
Komplikasi

Beberapa Komplikasi yang dapat ditimbulkan hemofilia :
  • Atropati progresif, melumpuhkan.
  • Kontraktur otot.
  • Paralisis.
  • Perdarahan intrakranial.
  • Hipertensi
  • Kerusakan ginjal.
  • Splenomegali.
  • Hepatitis.
  • HIV (karena terpajan produk darah yang terkontaminasi).
  • Antibodi terbentuk sebagai antagonis terhadap factor VIII serta IX.
  • Reaksi tranfusi alergi terhadap produk darah.
  • Anemia hematolik
  • Thrombosis atau thromboembolisme

Penatalaksanaan
  • Pada hemofilia A 
pengobatan dilakukan dengan meningkatkan kadar factor anti hemofili sesampai perdarahan berhanti. Factor anti hemofili terdapat di dalam plasma orang sehat tetapi mudah rusak bila disimpan di dalam bangk darah sesampai untuk menghentikan perdarahan pada hemofili A perlu ditranfusikan plasma segar.

Penatalaksanaan secara umumperlu dihindari trauma, pada masa bayi lapisi tempat tidur serta bermain dengan busa. Awasi anak dengan ketat saat belajar berjalan. Saat anak semakin besar perkenalkan denga aktivitas fisik yang tidak beresiko trauma. Hindari obat yang mempengaruhi fungsi platelet serta dapat mencetuskan perdarahan (seperti : aspirin). Therapy pengganti dilakukan dengan memberikan kriopresipitat atau konsentrat factor VIII melalui infus.
  • Pada hemofili B 
perlu ditingkatkan kadar factor IX atau thromboplastin. Thromboplastin tahan disimpan dalam bank darah sesampai untuk menolong hemofilia B tidak perlu tranfusi plasma segar.

Bila ada perdarahan dalam sendi harus istirahat di tempat tidur serta dikompres dengan es. Untuk menghilangkan rasa sakit diberi aspirin (biasanya 3-5 hari perdarahan dapat dihentikan) lalu diadakan latihan gerakan sendi bila otot sendi sudah kuat dilatih berjalan.

Penatalaksanaannya sama dengan hemofilia A. Therapy pengganti dilakukan dengan memberikan Fresh Frozen Plasma (FFP) atau konsentrat factor IX. Cara lain yang dapt dipakai adalah pemberian Desmopresin (DD AVP) untuk pengobatan non tranfusi untuk pasien dengan hemofili ringan atau sedang.

Pemeriksaan Laboratorium serta Diagnostik
Untuk menentukan diagnosa hemofilia biasanya dilakukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut

a. Uji skrinning untuk koagulasi darah.
  • Jumlah thrombosit (normal)
  • Masa protrombin (normal)
  • Masa thromboplastin parsial (meningkat, mengukur keadekuatan factor koagulasi intrinsic)
  • Masa perdarahan (normal, mengkaji pembentukan sumbatan thrombosit dalam kapiler)
  • Assys fungsional terhadap factor VIII serta IX (memastikan diagnosis)
  • Masa pembekuan thrombin
b. Biopsi hati (kadang-kadang) digunakan untuk memperoleh jaringan untuk pemeriksaan patologi serta kultur.

c. Uji fungsi hati (kadang-kadang) digunakan untuk mendeteksi adanya penyakit hati penyakit hati. Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT), Serum Glutamic Oxaloacetic Tansaminase (SGOT), Fosfatase alkali, bilirubin.

d. Venogram (menunjukkan sisi actual dari thrombus)

e. Ultrasonograph Dopples / Pletismografi (menandakan aliran darah lambat melalui pembuluh darah)


Konsep Asuhan keperawatan

Pengkajian

a. TTV
  • Nadi
  • Pernafasan
b. Tampilan Umum
  • Tanda-tanda gagal jantung kongesti
  • Gelisah
c. Kulit
  • Warna pucat, ikterus
  • Petekia
  • Memar / hematom
  • Perdarahan dari membran mukosa / dari luar suntikan / pungsi vena.
d. Abdomen
  • Pembesaran hati
  • Pembesaran limpa
e. Kaji anak terhadap perilaku verbal serta non verbal yang mengindikasikan nyeri.

f. Kaji tempat tempat terkait untuk menilai luasnya perdarahan serta luasnya kerusakan sensori, saraf serta motoris.

g. Kaji kemampuan anak untuk melakukan aktivitas perawatan diri (missal : menyikat gigi).

h. Kaji tingkat perkembangan anak.

i. Kaji kesiapan anak serta keluarga untuk pemulangan serta kemampuan penatalaksanaan program pengobatan di rumah.

j. Tanyakan riwayat keluarga mengenai kelaina perdarahan.

k. Tanyakan perdarahan yang tak biasanya.

l. Pemeriksaan fisik selama periode eksaserbasi :
  • Pembentukan hematoma (subkutan / intramuskular)
  • Neuropati perifer.
  • Hemorragi intrakranial : sakit kepala, gangguan penglihatan, perubahan tingkat kesadaran, peningkatan TD, nadi lemah, ketidaksamaan pupil.
  • Hemrthrosis : perdarahan pada sendi
  • Hematuria
  • Epistaksis.
m. kaji kemampuan pasien serta keluarga tentang kondisi serta tindakan.

n. Kaji dampak kondisi pada gaya hidup baru.


Diagnosa keperawatan
  1. Perubahan proteksi berhubungan dengan resiko perdarahan sekunder terhadap defisiensi factor pembekuan.
  2. Resiko terhadap kerusakan integritas kulit serta kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan sirkulasi darah jaringan sekunder terhadap perdarahan.
  3. Nyeri berhubungan dengan hematosis (sendi bengkak)
  4. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan factor : perdarahan faktor kontrol sekunder terhadap hemofilia.

Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan. 1

Perubahan proteksi berhubungan dengan resiko perdarahan sekunder terhadap defisiensi factor pembekuan.

Tujuan / Hasil yang diperkirakan :

Pasien bebas dari perdarahan ditandai dengan TD systole ? 90 mmHg. RR : 12-20 x / menit, sejresi and ekskresi negatif terhadap darah.

Intervensi :
  • Pantau TTV terhadap tanda perdarahan termasuk hipotensi.
  • Pantau pasien terhadap adanya perdarahan (sendi bengkak, nyeri abdomen, hematuria, hematemesis, melena serta epitaksis)
  • Jika perdarahan terjadi elevasikan area yang sakit bila mungkin serta beri kompres dingin serta tekanan lembut pada sisi tersebut.
  • Bila diindikasikan lakukan tindakan untuk meminimalkan resiko perdarahan akibat trauma.
  • Anjurkan pasien untuk menggunakan pencukur listrik serta sikat gigi berbulu halus.
  • Beri factor pembekuan sesuai program
  • Ajarkan pasien pentingnya tindak lanjut medis serta tranfusi factor reguler seumur hidup

Diagnosa keperawatan. 2. 

Resiko terhadap kerusakan integritas kulit serta kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan sirkulasi darah jaringan sekunder terhadap perdarahan.

Tujuan :

Kulit serta jaringan pasien tetap utuh serta tidak menunjukan memar serta bengkak.

Intervensi :
  • Inspeksi kulit pasien sedikitnya 4 jam, waspadai memar, area tertekan serta bengkak.
  • Berikan es atau tekanan di atas sisis perdarahan intradermal untuk meningkatkan vasokontriksi.
  • Tangani pasien dengan perlahan untuk meminimlkan resiko trauma jaringan.
  • Bantu pasien untuk melekukan latihan rentang gerak setiap hari untuk meningkatkan mobilitas sendi serta perfusi ke jaringan.
  • Bantu pasien ambulasi bila ditoleransi untuk meningkatkan sirkulasi ke jaringan.

Diagnosa Keperawatan. 3

Nyeri berhubungan dengan hematosis (sendi bengkak)

Tujuan :

Nyeri berkurang / hilang.

Intervensi :
  • Pantau pasien terhadap ketidak nyamanan sendi (skala nyeri ?)
  • Pasang bebar atau alat penyokong lain pada sendi, imobilisasikan sendi pada sedikit fleksi.
  • Elevasikan atau tempatkan bantal di bawah sendi yang sakit untuk meningkatkan kenyamanan.
  • Berikan analgesik sesuai program.
  • Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan. 

Diagnosa keperawatan. 4

Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan factor : perdarahan faktor kontrol sekunder terhadap hemofilia.

Tujuan :

Mobilitas sendi normal, tidak ada memar, tidak ada defisit neurologis permanen.

Intervensi :

1. Untuk cedera kepala :
  • Pantau status neurologis terdeteksi, misalnya : sakit kepala, mual, muntah, ketidaktepatan afek, kerusakan memori, perubahan tingkat kesadaran.
  • Beri factor pembekuan yang ditentukan serta elevasi keefektifannya.
  • Pertahankan tirah baring pada posisi semi fowler atau fowler.
2. Untuk hemartrosis :
  • Pantau status neurovaskuler dari ekstremitas yang sakit.
  • Beri tahu dokter bila pembengkakan sendi berlanjut, atau nutrisi menetap atau kebas serta kesemutan terjadi pada saat tindakan telah dimulai selama 24 jam.
  • Pertahankan tirah baring pada sendi yang sakit ditinggikan.
  • Beri kompres es sesuai pesanan.
  • Berikan factor pembekuan yang diresepkan serta dievaluasi keefektifannya.
  • Mulai latihan rentang gerak gerak pasif bila pembengkakan telah berkurang.
  • Beri alat Bantu untuk ambulasi.
  • Berikan analgesik yang diresepkan untuk mengontrol nyeri sendi serta evaluasi keefektifannya.

Evaluasi

Evaluasi dilakukan pada pasien hemofilia dengan melihat tujuan serta kriteria hasil yang telah ditentukan sebelumnya.


Daftar Pustaka
  • Engram Barbara  1998. ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH VOL. 2, Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
  • L. Betz Ceciely, A. Sowden Linda. 2002. BUKU SAKU KEPERAWATAN PEDIATRI, Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
  • KAPITA SELEKTA  Edisi 3 Jilid 2, 2000. Media Aesculapius. Fakultas Kedokteran UI. Jakarta.
  • H. Winter Griffith M. D. 1994. BUKU PINTAR KESEHATAN 769 GEJALA 520 PENYAKIT 160 PENGOBATAN, Arcana
  • PENYAKIT & PENANGGULANGANNYA, PT. Gramedia. Jakarta.
  • Swearing. 2000. KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH EDISI 2. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Untuk mendownload laporan pendahuluan hemofilia pdf serta doc, dibawah:
Link Alternatif
Demikian laporan pendahuluan / LP hemofilia, download pdf serta doc, kami bagikan, semoga dapat membantu teman - teman perawat sekalian dalam pembuatan tugas askep, makalah serta laporan pendahuluan itu sendiri. Terima Kasih.

0 Response to "Laporan Pendahuluan / LP Hemofilia, Download Pdf serta Doc"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel