Laporan Pendahuluan / LP Kardiomiopati Lengkap, Download Doc serta Pdf

Masih tentang laporan pendahuluan, kali ini kami bagikan laporan pendahuluan / lp kardiomiopati lengkap pdf serta doc.

Laporan pendahuluan / lp kardiomiopati merupakan sebuah makalah yang berisikan tinjauan teori sampai konsep asuhan keperawatan, yang merupakan sebuah tugas mahasiswa keperawatan tentang penyakit miokard yang menyerang otot jantung.

laporan pendahuluan / lp kardiomiopati ini telah kami susun lengkap mulai dari tinjauan teori sampai konsep asuhan keperawatan yang juga telah kami sisipkan daftar pustaka serta pathway kardiomiopati berdasarkan beberapa sumber terpercaya.

Bertujuan membantu teman sejawat sekalian laporan pendahuluan / lp kardiomiopati ini kami sediakan dalam dua format berbeda yaitu pdf serta doc yang dapat didownload menggunakan link unduhan yang telah kami letakkan diakhir artikel ini.

Laporan pendahuluan kardiomiopati

Pengertian

Kardiomiopati adalah suatu penyakit miokard yang menyerang pada otot jantung (Myocard). Penyakit ini dapat ditemukan pada semua jenis kelamin pria serta wanita, pada semua golongan umur.

Menurut WHO, kardiomiopati adalah suatu kelainan akut, subakut atau kronis pada otot jantung. Kelainan ini tidak memiliki etiologi atau kaitan yang diketahui serta sering disertai dengan kelainan endokardium atau kadang dengan kelainan perikardium. Sedangkan menurut Dorland, toxic cardiomiopati adalah kardiomiopati yang disebabkan oleh suatu zat yang menyebabkan kerusakan toksik terhadap miokardium seperti alkohol, agen anti tumor tertentu, katekolamin, racun ular, serta beberapa logam.

Kardiomiopati adalah penyakit otot yang tidak diketahui sebabnya (Jota, Shanta, 1996).

Kardiomiopati adalah penyakit yang mengenai miokardium secara primer serta bukan sebagai akiba hipertensi, kelainan congenital, katup koroner, arterial serta perikardial. (Affandi Dedi, 1996 serta Winne Joshua, 2000).


Klasifikasi

Menurut Sjaifoellah Noer kardiomiopati ada 3 macam, yaitu:

1. Kardiomiopati Kongestif/Dilatasi

Kardiomiopati kongestif adalah suatu penyakit miokard yang primer atau idiopatik yang ditandai dengan dilatasi ruangan-ruangan jantung serta gagal jantung kongestif, perjalanannya biasanya progresis dengan prognosis buruk. Fungsi pompa sistolik berkurang secara progresif serta volume air diastolik serta sistolik meningkat. Tebal dining ventrikel dapat bertambah, berkurang atau normal tekanan pengisian ventrikel kiri biasanya meningkat akibat fungsi pompa ventrikel kiri yang mengurang.

2. Kardiomiopati Hipertrofik

Kardiomiopti hipertrofik ada 2 bentuk yaitu:

a. Hipertrofi yang simetris atau konsentri

b. Hipertrofi septal asimetris
  1. Hipertrofi septal asimetris Dengan left ventricular outflow tract obstruction
  2. Hipertrofi septal asimetris Tanpa left ventricular outlow tract obstruction
Kardiomiopati hipertrofik adalah hipertrof ventrikel tanpa penyakit jantung atau sistematik lain yang dapat menyebabkan hipertropi ventrikel ini. Perubahan mikroskopik ini dapat ditemukan pada daerah septum, interventrikularis. Hipertrofi asimetris pada septum ini, dapat ditemukan pada daerah distal katup aorta, di tegah-tengah septum saja, difus atau septum di daerah apeks. Hipertrofi yang simetris tidak sering ditemukan. 

Kardiomiopati hipertrofik di daerah apikal biasanya disertai dengan kelainan EKG, gelombang T negatif yang dalam. Hypertrophic obstructive cardiomiopathy (HCM) adalah bentuk kardiomiopati hipertrofik yang lokasi hipertrofi septalnya menyebabkan keterlibatan obstruktif ke aliran ventrikel kiri.

3. Kardiomiopati Restriktif

Kardiomiopati rsetriktif merupakan kelainan yang amat jarang serta sebabnya pun tidak diketahui. Tanda khas untuk kardiomiopati ini adalah adanya gangguan pada fungsi diastolik, dinding ventrikel sangat kaku serta menghalangi pengisian ventrikel ditandai dengan fungsi diastolik abnormal tetapi dengan fungsi sistolik yang normal atau hampir normal. Pada pemeriksaan patologi-anatomis ditemukan adanya fibrosis, hipertrofi atau infiltrasi pada otot jantung yang menyebabkan gangguan fungsi diastolik.


Etiologi

Penyebab atau etiologi kardiomiopati berdasarkan jenisnya

1. Kardiomiopati Dilatasi

Etiologi kardiomiopati dilatasi tidak diketahui dengan pasti, tetapi kemungkinan ada hubungannya dengan beberapa hal seperti pemakaian alkohol berlebihan, graviditas, hipertensi sistemik, infeksi virus, kelainan autoimun, bahan kimia serta fisik. Individu yang mengkonsumsi alkohol dalam jumlah besar lebih dari beberapa tahun dapat mengalami gambaran klinis yang identik dengan kardiomiopati dilatasi. Alkoholik dengan gagal jantung yang lanjut memiliki prognosis buruk, terutama bila mereka meneruskan minum alkohol. Kurang dari ¼ pasien yang dapat bertahan hidup sampai 3 tahun. Penyebab kardiomiopati dilatasi lain adalah  kardiomiopati peripatum, dilatasi jantung serta gagal jantung kongesti tanpa penyebab yang pasti serta dapat timbul selama bulan akhir kehamilan atau dalam beberapa bulan setelah melahirkan. Penyakit neuromuskuler juga merupakan penyebab kardiomiopati dilatasi. Keterlibatan jantung biasa didapatkan pada banyak penyakit distrofi muskular yang ditunjukkan dengan adanya EKG yang berbeda serta unik, ini terdiri dari gelombang R yang tinggi di daerah prekordial kanan dengan rasio R / S lebih dari 1,0 serta sering disertai dengan gelombang Q yang dalam di daerah ekstremitas serta perikardial lateral serta tidak ditemukan ada bentuk distrofi muskular lainnya. Pengobatan juga dapat mengakibatkan kardiomiopati dilatasi seperti derivat antrasiklin, khususnya doksorubisin (adriamnyan) yang diberikan dalam dosis tinggi (lebih dari 550 mg / m2 untuk doksorubisin) dapat menimbulkan gagal jantung yang fatal. Siklofosfamid dosis tinggi dapat menimbulkan gagal jantung kongestif secara akut.

2. Kardiomiopati Restriktif

Etiologi penyakit ini tidak diketahui. Kardiomiopati sering ditemukan pada amiloidosis, hemokromatis, defosit glikogen, fibrosis endomiokardial, eosinofilia, fibro-elastosis serta fibrosis miokard dengan penyebab yang berbeda. Fibrosis endomiokard merupakan penyakit progresif dengan penyebab yang tidak diketahui yang sering terjadi pada anak-anak serta orang dewasa muda, ditandai dengan lesi fibrosis endokard pada bagian aliran masuk dari ventrikel

3. Kardiomiopati hipertrofik

Etiologi kelainan ini tidak diketahui, diduga disebabkan oleh faktor genetik, familiar, rangsangan katekolamin, kelainan pembuluh darah koroner kecil. Kelainan yang menyebabkan iskemia miokard, kelainan konduksi atrioventrikuler serta kelainan kolagen.


Patofisiologi

Kardiomiopati yang sering terjadi adalah kardiomiopati kongestif. Penyakit ini ditandai dengan adanya dilatasi atau pembesaran rongga ventrikel bersama dengan penipisan dinding otot, pembesaran atrium kiri, serta statis darah dalam ventrikel. Pada pemeriksaan mikroskopis otot memperlihatkan berkurangnya jumlah elemen kontratil serat otot. Penyebab kardiomiopati jenis ini adalah konsumsi alkohol yang berlebihan.

Pathway Kardiomiopati

Manifestasi Klinis

Secara umum kardiomiopati dapat terjadi pada semua umur baik pria maupun wanita. Kebanyakan orang yang mengidap penyakit ini pertama kali datang dengan gejala serta tanda gagal jantung. Gejala yang pertama kali timbul adalah: dispneu saat beraktifitas, paroksismal nocturnal dispneu (PND), batuk serta mudah lelah. Kongesti vena sistemik, distensi vena jugularis, pitting edema pada bagian tubuh bawah, pembesaran hepar serta takikardi adalah hal-hal yang biasanya ditemukan pada pemeriksaan fisik.

Manifestasi klinis pada kardiomiopati kongestif/dilatasi yang muncul sesuai dengan gejala gagal jantung kiri diikuti gejala gagal jantung kanan. Dapat terjadi nyeri dada karena peningkatan kebutuhan oksigen. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda gagal jantung kongestif. Biasanya terdapat bunyi derap serta bising akibat regurgitasi mitral.


Komplikasi

Menurut Brunner & Suddarth, komplikasi yang mungkin terjadi meliputi
  1. Gagal jantung
  2. Syok kardiogenik.
  3. Disritmia.

Pemeriksaan Penunjang

1. Radiologi

Pada foto rontgen dada, terlihat adanya kardiomegali, terutama ventrikel kiri. Juga ditemukan adanya bendungan paru serta efusi pleura.

2. Elektrokardiografi

Pada pemeriksaan elektrokardiografi ditemukan sinus takikardia, aritmia atrial serta ventrikel, kelainan segmen ST serta gelombang T serta gangguan konduksi intraventrikular. Kadang-kadang ditemukan voltase QRS yang mudah, atau gelombang Q patologis, akibat fibrosis miokard.

3. Ekokardiografi

Pada pemeriksaan ekokardiografi terlihat ventrikel kiri membesar, disfungsi ventrikel kiri, serta kelainan pergerakan katub mitral waktu diastolic, akibat compliance serta tekanan pengisian yang abnormal.

Bila terdapat insufisiensi trikuspid, pergerakan septum menjadi paradoksal. Volume akhir diastolic serta akhir sistolik membesar serta parameter fungsi pompa ventrikel, fraksi ejeksi (EF) mengurang. Penutupan katup mitral terlambat serta panutupan katub aorta dapat terjadi lebih dini dari normal. Trombus ventrikel kiri dapat ditemukan dengan pemeriksaan 2D-ekokardiografi, juga aneurisma ventrikel kiri dapat disingkirkan dengan pemeriksaan ini.

4. Pemeriksaan Radionuklear

Pada pemeriksaan radionuklear tampak ventrikel kiri disertai fungsinya yang berkurang.

5. Sadapan Jantung

Pada sadapan jantung akan ditemukan ventrikel kiri membesar serta fungsinya berkurang, regurgitasi mitral serta atau tricuspid, curah jantung berkurang serta tekanan intraventrikular meninggi serta tekanan atrium kiri meningkat.

Bila terdapat pula gagal ventrikel kanan, tekanan akhir diastolic ventrikel kanan, atrium kanan serta desakan vena sentralis akan tinggi.Dengan angiografi ventrikel kiri dapat disingkirkan aneurisma ventrikel sebagai penyebab gagal jatung.


Penatalaksanaan

Menurut Arif Mansjoer, penatalaksanaan kardiomiopati adalah sebagai berikut:

1. Penatalaksanaan pada Kardiomiopati Dilatasi/Kongestif

Tidak ada pengobatan spesifik. Bila diketahui etiologinya diberikan terapi sesuai penyebab. Namun bila idiopatik, dilakukan terapi sesuai gagal jantung kongestif. Yang terbaik adalah transplantasi jantung.

2. Penatalaksanaan pada Kardiomiopati Hipertrofik

Yang utama adalah penggunaan penghambat beta adrenergik, misalnya propanolol, yang memiliki efek menurunkan kekuatan kontraksi ventrikel serta mencegah aritmia. Golongan antagonis kalsium, seperti verapamil, dapat pula dipakai meski harus berhati – hati pada pasien gagal jantung kongestif.

Dapat pula dilakukan miomektomi, penggantian katup mitral, serta pemasangan peace-maker.
Digitalis, diuretic, nitrat, serta agonis beta adrenergik harus dihindari pemakaiannya, terutama pada pasien dengan perbedaan tekanan alur keluar ventrikel kiri karena dapat meningkatkan obstruksi alur keluar.

3. Penatalaksanaan pada Kardiomiopati Restriktif

Sulit diobati, tergantung pada penyakit yang mendasarinya. Dapat diberikan obat sistematik berupa diuretik untuk mengurangi kongesti. Bila terdapat gangguan irama diberikan obat anti aritmia.


Konsep Asuhan Keperawatan

Pengkajian

a. Data Biografi
  • Riwayat kesehatan masa lalu: Hipertensi, DM, GJK, Anemia, Kelainan katub.
  • Pola kebiasaan /Gaya hidup: Merokok, Mengkomsumsi alkohol, Konsumsi lemak yang mengandung kolesterol tinggi.
  • Keturunan, umur, jenis kelamin.
b. Aktivitas / istirahat : Mungkin akan kita dapatkan data : insomnia, kelemahan / kecapaian menurun , nyeri dada saat aktivitas, sesak nafas saat istirahat, perubahan status mental, kelelahan, perubahan vital sign saat aktivitas.

c. Cirkulasi : adanya riwayat hipertensi, IMA, IMK, Irama ; disritmia, Edema, PVJ meningkat, pembedahan jantung, endocarditis, anemia, SLE, shock septic, , penggunaan obat beta bloker.

d. Eliminasi : penurunan pola, nocturia, warna kencing gelap, konstipasi, diare.

e. Makanan / cairan : anorexia, mual, muntah, pertambahan berat badan yang mencolok, pembengkakan extremitas bawah, penggunaan deuretika, diet garam, distensi perut, oedema anasarca, setempat, pitting udema. Diet tinggi garam, makanan olahan (diproses), lemak, gula protein.

f. Kebersihan diri : indikasi penurunan kebersihan diri, kelelahan , menurunnya  self care.

g. Nyaman / nyeri : Nyeri dada, menarik diri, perilaku melindungi diri, tidak tenang, gelisah, sakit pada otot, nyeri abdomen ke atas, takut, mudah tersinggung.

h. Respirasi : sesak nafas , tidur setengah duduk, penggunaan banyak bantal, batuk dengan tanpa sputum, nafas Crekles, Ronky (+), riwayat penyakit paru kronis, penggunaan alat bantu nafas. 

i. Neuro sensori : kelemahan, pening, pingsan, disorientasi, perubahan perilaku, mudah tersinggung.

j. Interaksi social : penurunan keikut sertaan dalam aktivitas social.


Diagnosa Keperawatan 
  1. Penurunan cardiac output berhubungan dengan kerusakan otot miokard.
  2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan cardiac out put.
  3. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
  4. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongestif polmunal.

Intervensi / Rencana Keperawatan

Diagnosa Keperawatan 1.



Penurunan cardiac output berhubungan dengan kerusakan otot miokard.

Tujuan :Menurunkan beban jantung.

Kriteria hasil : Vital sign dalam batas normal, bebas dari gejala gagal jantung, dyspnoe menurun.

Intervensi
Rasional.
1.         Auskultasi nadi apical, kaji frekwensi, irama jantung.
2.         Catat bunyi jantung, palpasi nadi perifer, pantau tekanan darah.
3.         Kaji kulit terhadap pucat, serta sianosis.

4.         Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.
5.         Tinggikan kaki, hindari tekanan pada bawah kulit lutut.
6.         Berikaan obat sesuai insruksi / kolaborasi.: deuretika, Morphin, Vasodilator
1.         Kondisi ini tachikardia.

2.         Penurunan cardiac output tampak pada nadi, serta tekakan darah.
3.         Pucat indikasi penurunan perfusi ferifer, cyanosis karena kongseti vena.
4.         Meningkatkan sediaan oksigen untuk miokard.
5.         Menurunkan statis vena, serta insiden thrombus.
6.         Menurunkan preload, afterload .

Diagnosa Keperawatan 2.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan cardiac out put

Tujuan : Pasien dapat melakukan kegiatan sehari hari.

Kriteria hasil : Dapat berpartisipasi dalam aktivitas, dapat memenuhi kebutuhan sendiri, vital sign normal selama aktivitas.

Intervensi
Rasional.
1.         Periksa vital sign sebelum serta segera setalah latihan.
2.         Catat respon cardiopolmunal terhadap aktivitas.

3.         Kaji penyebab kelemahan.

4.         Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas.
5.         Berikan bantuan dalam aktivitas, selingi aktivitas dengan istirahat.

6.         Kolaborasi program rehabilitasii jantung / aktivitas.
1.         Hypotensi ortostatik dapat terjadi karena aktivitas.
2.         Penurunan miokard untuk meningkatkan secuncum selama aktivitas.
3.         Kelemahan dapat terjadi karena efek obat.
4.         kelebihan aktivitas meningkatkan decompensasi jantung.
5.         Aktivitas tanpa mempengaruhi stress miokard/ kebutuhan oksigen berlebihan.
6.         Peningkatan aktivitas bertahab menghindari kerja jantung berlebihan.

Diagnosa Keperawatan 3.

Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Tujuan :Pasien serta keluarga tahu pencegahan terulangnya gagal jantung Kongestif.

Kriteria Hasil : pasien serta keluarga mentaati program therapy, dapat menyebutkan tanda serta gejala untuk intervensi cepat, merubah pola hidup yang dapat menimbulkan stress.

Intervensi
Rasional.
1.         Diskusikan fungsi jantung normal serta perbedaan kelainan pada jantung.
2.         Kuatkan rasional pengobatan.

3.         Diskusikan pentingnya menjadi seaktiv mungkin, tanpa menjadi kelelahan serta istirahat diantara aktivitas.
4.         Diskusikan pentingnya pembatasan natrium, berikan daftar kandungan natrium pada makanan umum yang harus dibatasi.
5.         Dskusikan obat, tujuan serta efek sampingnya, berikan instruksi secara verbal serta tertulis.
6.         Anjurkan pasien makan makanan sesuai dengan diet yang diberikan.
1.         Pengatahuan meningkatan ketaatan pada program pengobatan.

2.         Pemahanan tentang obat dapat membantu mengontrol gejala.
3.         Aktivitas fisik berlebihan dapat berlanjut menjadi kelemahan jantung.

4.         Pemasukan diet natrium diatas 3 gr / hari menghasilkan efek deuretik.


5.         Pemahaman pasien dapat mencegah terjadinya komplikasi.

6.         Diat yang ditetapkan membatasi masuknya natrium secara berlebihan.

Diagnosa Keperawatan 4.

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongestif polmunal.

Tujuan : Pertukaran gas adekwat serta pasien dapat bebas dari sesak.

Kriteria Hasil : Pasien tidak sesak, nilai GDA dalam batas normal.

Intervensi
Rasional.
1.         Auskultasi bunyi nafas, catat bunyi nafas, ronki, mengi,
2.         Anjurkan pasien batuk efektif serta nafas dalam.
3.         Dorong perubahan posisi sesering mungkin / setiap 2 – 3 jam .
4.         Pertahankan tirah baring dengan dengan kepala tempat tidur 20 – 30 derajat, posisi semi fowler serta sokong tangan dengan bantal.
5.         Pantau GDA secara serial.

6.         Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.

7.         Berikan obat sesuai indikasi.  Deuretika: Furosemid, bronkodilator. Aminophilin,
1.         Indikasi kongesti paru / pengumpulan sekret.
2.         Membersihkan jalan nafas serta, memudahkan aliran oksigen.
3.         Mencegah atelektasis serta pneumonia.
4.         Menurunkan konsumsi oksigen, meningkatkan ekspansi paru maksimal.

5.         Hipoksemia dapat memberat selama edema paru.
6.         Meningkatkan konsentrasi oksigen alveolar, mencegah hipoxemia jaringan.
7.         Menurunkan kongesti alveolr, meningkatkan pertukaran gas,


Daftar Pustaka 
  • Barbara C long. (1996). Perawatan Medical Bedah. Pajajaran Bandung.
  • Carpenito J.L. (1997). Nursing Diagnosis. J.B Lippincott. Philadelpia.
  • Carpenito J.L. (1998.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8 EGC. Jakarta.
  • Doengoes, Marylin E. (2000). Rencana Asuhan serta Dokumentasi Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.
  • Hudack & Galo. (1996). Perawatan Kritis. Pendekatan Holistik. Edisi VI, volume I EGC. Jakarta.
  • Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran. Media aesculapius Universitas Indonesia. Jakarta.
  • Kaplan, Norman M. (1991). Pencegahan Penyakit Jantung Koroner. EGC Jakarta.
  • Lewis T. (1993). Disease of The Heart. Macmillan. New York.
  • Marini L. Paul. (1991). ICU Book. Lea & Febriger. Philadelpia.
  • Morris D. C. et.al, The Recognation and treatment of Myocardial Infarction and It’sComplication.
  • Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. (1993). Proses Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Krdiovaskuler. Departemen Kesehatan. Jakarta.
  • Tabrani. (1998). Agenda Gawat Darurat. Pembina Ilmu. Bandung.
  • Pedoman Diagnosis serta Terapi Ilmu Penyakit Jantung (1994). Fakultas Kedokteran Unair & RSUD dr Soetomo Surabaya 
Untuk mendownload laporan pendahuluan / LP kardiomiopati lengkap pdf serta doc dibawah.
Link Alternatif
Diatas merupakan laporan pendahuluan / LP kardiomiopati lengkap, download doc serta pdf, silahkan didownload bagi teman-teman perawat yang membutuhkan sebagai refferensi pembuatan tugas kuliah seperti makalah, askep ataupun lp itu sendiri. Semoga bermanfaat.

0 Response to "Laporan Pendahuluan / LP Kardiomiopati Lengkap, Download Doc serta Pdf"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel