Laporan Pendahuluan / LP (OA) Osteoarthritis / Kelainan Sendi Generatif, Download Doc serta Pdf

Tak bosan-bosannya kami selalu membagikan laporan pendahuluan dengan berbagai judul, semoga apa yang kami posting sesuai dengan lp yang teman-teman perawat butuhkan.

Pada postingan kali ini kami bagikan laporan pendahuluan / LP dengan tema kelainan sendi generatif dengan pembahasan osteoarthritis.

Laporan pendahuluan / LP (OA) osteoarthritis / kelainan sendi generatif ini telah kami susun selengkap mungkin mulai dari tinjauan teori sampai konsep asuhan keperawatan berdasarkan beberapa refferensi terpercaya. serta dengan menggunakan format keperawatan yang sesuai.

Dengan tujuan mempermudah teman-teman perawat sekalian laporan pendahuluan / LP (OA) osteoarthritis / kelainan sendi generatif ini kami sediakan dalam format doc serta pdf sesampai teman-teman tinggal download serta edit sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Untuk mendownload laporan pendahuluan / LP (OA) osteoarthritis / kelainan sendi generatif silahkan gunakan link unduhan yang telah kami sematkan diakhir artikel ini.

Laporan pendahuluan Osteoarthritis

Pengertian 

Osteoarthritis yang dikenal sebagai penyakit sendi degeneratif atau osteoartrosis (sekalipun terdapat inflamasi ) merupakan kelainan sendi yang paling sering ditemukan serta kerapkali menimbulkan ketidakmampuan (disabilitas). (Smeltzer , C Suzanne, 2002 hal 1087)

Osteoarthritis merupakan golongan rematik sebagai penyebab kecacatan yang menduduki urutan pertama serta akan meningkat dengan meningkatnya usia, penyakit ini jarang ditemui pada usia di bawah 46 tahun tetapi lebih sering dijumpai pada usia di atas 60 tahun. Faktor umur serta jenis kelamin menunjukkan adanya perbedaan frekuensi (Sunarto, 1994, Solomon, 1997).

Sedangkan menurut Harry Isbagio & A. Zainal Efendi (1995) osteoarthritis merupakan kelainan sendi non inflamasi yang mengenai sendi yang dapat digerakkan, terutama sendi penumpu badan, dengan gambaran patologis yang karakteristik berupa buruknya tulang rawan sendi serta terbentuknya tulang-tulang baru pada sub kondrial serta tepi-tepi tulang yang membentuk sendi, sebagai hasil akhir terjadi perubahan biokimia, metabolisme, fisiologis serta patologis secara serentak pada jaringan hialin rawan, jaringan subkondrial serta jaringan tulang yang membentuk persendian.( R. Boedhi Darmojo & Martono Hadi ,1999)


Klasifikasi

Osteoarthritis diklasifikasikan menjadi :
  1. Tipe primer ( idiopatik) tanpa kejadian atau penyakit sebelumnya yang berhubungan dengan osteoartritis
  2. Tipe sekunder seperti akibat trauma, infeksi serta pernah fraktur. (Long, C Barbara, 1996  hal 336)

Etiologi / Penyebab

Beberapa penyebab serta faktor predisposisi adalah sebagai berikut:

1. Umur

Perubahan fisis serta biokimia yang terjadi sejalan dengan bertambahnya umur dengan penurunan jumlah kolagen serta kadar air, serta endapannya berbentuk pigmen yang berwarna kuning.

2. Pengausan (wear and tear)

Pemakaian sendi yang berlebihan secara teoritis dapat merusak rawan sendi melalui dua mekanisme yaitu pengikisan serta proses degenerasi karena bahan yang harus dikandungnya.

3. Kegemukan

Faktor kegemukan akan menambah beban pada sendi penopang berat badan, sebaliknya nyeri atau cacat yang disebabkan oleh osteoartritis mengakibatkan seseorang menjadi tidak aktif serta dapat menambah kegemukan. 

4. Trauma

Kegiatan fisik yang dapat menyebabkan osteoartritis adalah trauma yang menimbulkan kerusakan pada integritas struktur serta biomekanik sendi tersebut.

5. Keturunan

Heberden node merupakan salah satu bentuk osteoartritis yang biasanya ditemukan pada pria yang kedua orang tuanya terkena osteoartritis, sedangkan wanita, hanya salah satu dari orang tuanya yang terkena. 

6. Akibat penyakit radang sendi lain

Infeksi (artritis rematord; infeksi akut, infeksi kronis) menimbulkan reaksi peradangan serta pengeluaran enzim perusak matriks rawan sendi  oleh membran sinovial serta sel-sel radang.

7. Joint Mallignment 

Pada akromegali karena pengaruh hormon pertumbuhan, maka rawan sendi akan membal serta menyebabkan sendi menjadi tidak stabil/seimbang sesampai mempercepat proses degenerasi.

8. Penyakit endokrin

Pada hipertiroidisme, terjadi produksi air serta garam-garam proteglikan yang berlebihan pada seluruh jaringan penyokong sesampai merusak sifat fisik rawan sendi, ligamen, tendo, sinovia, serta kulit.
Pada diabetes melitus, glukosa akan menyebabkan produksi proteaglikan menurun. 

9. Deposit pada rawan sendi

Hemokromatosis, penyakit Wilson, akronotis, kalsium pirofosfat dapat mengendapkan hemosiderin, tembaga polimer, asam hemogentisis, kristal monosodium urat/pirofosfat dalam rawan sendi.


Patofisiologi

Penyakit sendi degeneratif merupakan suatu penyakit kronik, tidak meradang, serta progresif lambat, yang seakan-akan merupakan proses penuaan, rawan sendi mengalami kemunduran serta degenerasi disertai dengan pertumbuhan tulang baru pada bagian tepi sendi.

Proses degenerasi ini disebabkan oleh proses pemecahan kondrosit yang merupakan unsur penting rawan sendi. Pemecahan tersebut diduga diawali oleh stress biomekanik tertentu. Pengeluaran enzim lisosom menyebabkan dipecahnya polisakarida protein yang membentuk matriks di sekeliling kondrosit sesampai mengakibatkan kerusakan tulang rawan. Sendi yang paling sering terkena adalah sendi yang harus menanggung berat badan, seperti panggul lutut serta kolumna vertebralis. Sendi interfalanga distal serta proksimasi.

Osteoartritis pada beberapa kejadian akan mengakibatkan terbatasnya gerakan. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa nyeri yang dialami atau diakibatkan penyempitan ruang sendi atau kurang digunakannya sendi tersebut.  

Perubahan-perubahan degeneratif yang mengakibatkan karena peristiwa-peristiwa tertentu misalnya cedera sendi infeksi sendi deformitas congenital serta penyakit peradangan sendi lainnya akan menyebabkan trauma pada kartilago yang bersifat intrinsik serta ekstrinsik sesampai menyebabkan fraktur ada ligamen atau adanya perubahan metabolisme sendi yang pada akhirnya mengakibatkan tulang rawan mengalami erosi serta kehancuran, tulang menjadi tebal serta terjadi penyempitan rongga sendi yang menyebabkan nyeri, kaki kripitasi, deformitas, adanya hipertropi atau nodulus. ( Soeparman ,1995)

Pathway
Untuk mendownload pathway osteoatritis doc, DISINI


Manifestasi Klinis

1. Rasa nyeri pada sendi

Merupakan gambaran primer pada osteoartritis, nyeri akan bertambah apabila sedang melakukan sesuatu kegiatan fisik.  

2. Kekakuan serta keterbatasan gerak

Biasanya akan berlangsung 15 – 30 menit serta timbul setelah istirahat atau saat memulai kegiatan fisik.

3. Peradangan

Sinovitis sekunder, penurunan pH jaringan, pengumpulan cairan dalam ruang sendi akan menimbulkan pembengkakan serta peregangan simpai sendi yang semua ini akan menimbulkan rasa nyeri.  

4. Mekanik 

Nyeri biasanya akan lebih dirasakan setelah melakukan aktivitas lama serta akan berkurang pada waktu istirahat. Mungkin ada hubungannya dengan keadaan penyakit yang telah lanjut dimana rawan sendi telah rusak berat.

Nyeri biasanya berlokasi pada sendi yang terkena tetapi dapat menjalar, misalnya pada osteoartritis coxae nyeri dapat dirasakan di lutut, bokong sebelah lateril, serta tungkai atas.  
Nyeri dapat timbul pada waktu dingin, akan tetapi hal ini belum dapat diketahui penyebabnya.

5. Pembengkakan Sendi

Pembengkakan sendi merupakan reaksi peradangan karena pengumpulan cairan dalam ruang sendi biasanya teraba panas tanpa adanya pemerahan.

6. Deformitas

Disebabkan oleh distruksi lokal rawan sendi.

7. Gangguan Fungsi 

Timbul akibat Ketidakserasian antara tulang pembentuk sendi.


Komplikasi

Komplikasi yang umum adalah kekakuan sendi serta nyeri tumpul yang dalam, terutama pada pagi hari. Pemakaian sendi berulang-ulang cenderung menambah nyeri. Krepitus, suara berderak akibat permukaan yang terpajan saling bergesekan, sering terdengar pada kasus yang berat. Biasanya sendi agak bengkak, serta mungkin terjadi efusi ringan.


Pemeriksaan Penunjang
  1. Untuk OA tidak ada pemeriksaan laboratorium yang diagnostik, tetapi pemeriksan laboratorium yang spesifik dapat membantu mengetahui penyakit yang mendasari pada OA sekunder.
  2. Dengan uji serologik dengan pendeteksian di dalam cairan sinovium serta/ serum adanya makromolekul (mis, glikosaminoglikan) yang dilepas oleh tulang rawan / tulang yang mengalami degenerasi. 
  3. Sinar-X. Gambar sinar X pada engsel akan menunjukkan perubahan yang terjadi pada tulang seperti pecahnya tulang rawan.
  4. Tes darah. Tes darah akan membantu memberi informasi untuk memeriksa rematik.
  5. Analisa cairan engsel. Dokter akan mengambil contoh sampel cairan pada engsel untuk lalu diketahui apakah nyeri/ngilu tersebut disebabkan oleh encok atau infeksi.
  6. Artroskopi. Artroskopi adalah alat kecil berupa kamera yang diletakkan dalan engsel tulang. Dokter akan mengamati ketidaknormalan yang terjadi.
  7. Foto Rontgent menunjukkan penurunan progresif massa kartilago sendi sebagai penyempitan rongga sendi

Penatalaksanaan

a. Medikamentosa

Sampai sekarang belum ada obat yang spesifik yang khas untuk osteoartritis, oleh karena patogenesisnya yang belum jelas, obat yang diberikan bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, meningkatkan mobilitas serta mengurangi ketidak mampuan. Obat-obat anti inflamasinon steroid (OAINS) bekerja sebagai analgetik serta sekaligus mengurangi sinovitis, meskipun tak dapat memperbaiki atau menghentikan proses patologis osteoartritis.
  • Analgesic yang dapatdipakai adalah asetaminofen dosis 2,6-4,9 g/hari atau profoksifen HCL. Asam salisilat juga cukup efektif tetapi perhatikan efek samping pada saluran cerna serta ginjal
  • Jika tidak berpengaruh, atau tidak dapat peradangan maka OAINS, seperti fenofrofin, piroksikam,ibuprofen dapat digunakan. Dosis untuk osteoarthritis biasanya ½-1/3 dosis penuh untuk arthritis rematoid. Karena pemakaian biasanya untuk jangka panjang, efek samping utama adalahganggauan mukosa lambung serta gangguan faal ginjal.
  • Injeksi cortisone. Dokter akan menyuntikkan cortocosteroid pada engsel yang mempu mengurangi nyeri/ngilu
  • Suplementasi-visco. Tindakan ini berupa injeksi turunan asam hyluronik yang akan mengurangi nyeri pada pangkal tulang. Tindakan ini hanya dilakukan bila osteoarhtritis pada lutut.
b. Perlindungan sendi

Osteoartritis mungkin timbul atau diperkuat karena mekanisme tubuh yang kurang baik. Perlu dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi yang sakit. Pemakaian tongkat, alat-alat listrik yang dapat memperingan kerja sendi juga perlu diperhatikan. Beban pada lutut berlebihan karena kakai yang tertekuk (pronatio).

c. Diet

Diet untuk menurunkan berat badan pasien osteoartritis yang gemuk harus menjadi program utama pengobatan osteoartritis. Penurunan berat badan seringkali dapat mengurangi timbulnya keluhan serta peradangan.

d. Dukungan psikososial

Dukungan psikososial diperlukan pasien osteoartritis oleh karena sifatnya yang menahun serta ketidakmampuannya yang ditimbulkannya. Disatu pihak pasien ingin menyembunyikan ketidakmampuannya, dipihak lain dia ingin orang lain turut memikirkan penyakitnya. Pasien osteoartritis sering kali keberatan untuk memakai alat-alat pembantu karena faktor-faktor psikologis.

e. Persoalan Seksual.

Gangguan seksual dapat dijumpai pada pasien osteoartritis terutama pada tulang belakang, paha serta lutut. Sering kali diskusi karena ini harus dimulai dari dokter karena biasanya pasien enggan mengutarakannya.

f. Fisioterapi

Fisioterapi berperan penting pada penatalaksanaan osteoartritis, yang meliputi pemakaian panas serta dingin serta program latihan ynag tepat. Pemakaian panas yang sedang diberikan sebelum latihan untk mengurangi rasa nyeri serta kekakuan. Pada sendi yang masih aktif sebaiknya diberi dingin serta obat-obat gosok jangan dipakai sebelum pamanasan. Berbagai sumber panas dapat dipakai seperti Hidrokolator, bantalan elektrik, ultrasonic, inframerah, mandi paraffin serta mandi dari pancuran panas. Program latihan bertujuan untuk memperbaiki gerak sendi serta memperkuat otot yang biasanya atropik pada sekitar sendi osteoartritis. Latihan isometrik lebih baik dari pada isotonik karena mengurangi tegangan pada sendi. Atropi rawan sendi serta tulang yang timbul pada tungkai yang lumpuh timbul karena berkurangnya beban ke sendi oleh karena kontraksi otot. Oleh karena otot-otot periartikular memegang peran penting terhadap perlindungan rawan senadi dari beban, maka penguatan otot-otot tersebut adalah penting.

g. Operasi

Operasi perlu dipertimbangkan pada pasien osteoartritis dengan kerusakan sendi yang nyata dengan nyari yang menetap serta kelemahan fungsi. Tindakan yang dilakukan adalah osteotomy untuk mengoreksi ketidaklurusan atau ketidaksesuaian, debridement sendi untuk menghilangkan fragmen tulang rawan sendi, pebersihan osteofit.
  • Penggantian engsel (artroplasti). Engsel yang rusak akan diangkat serta diganti dengan alat yang terbuat dari plastik atau metal yang disebut prostesis.
  • Pembersihan sambungan (debridemen). Dokter bedah tulang akan mengangkat serpihan tulang rawan yang rusak serta mengganggu pergerakan yang menyebabkan nyeri saat tulang bergerak.
  • Penataan tulang. Opsi ini diambil untuk osteoatritis pada anak serta remaja. Penataan dilakukan supaya sambungan/engsel tidak menerima beban saat bergerak.
h. Terapi konservatif 

Terapi konservatif mencakup penggunaan kompres hangat, penurunan berat badan, upaya untuk menhistirahatkan sendi serta menghindari penggunaan sendi yang berlebihan pemakaian alat-alat ortotail. Untuk menyangga sendi yang mengalami inflamasi ( bidai penopang) serta latihan isometric serta postural. Terapi okupasioanl serta fisioterapi dapat membantu pasien untuk mengadopsi strategi penangan mandiri.


Konsep Asuhan Keperawatan

Pengkajian

1. Aktivitas/Istirahat
  • Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan memburuk dengan stress pada sendi, kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi secara bilateral serta simetris limitimasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan, keletihan, malaise.
  • Keterbatasan ruang gerak, atropi otot, kulit: kontraktor/kelainan pada sendi serta otot.
2. Kardiovaskuler
  • Fenomena Raynaud dari tangan (misalnya pucat litermiten, sianosis lalu kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal.
3. Integritas Ego
  • Faktor-faktor stress akut/kronis (misalnya finansial pekerjaan, ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan.
  • Keputusasaan serta ketidakberdayaan (situasi ketidakmampuan).
  • Ancaman pada konsep diri, gambaran tubuh, identitas pribadi, misalnya ketergantungan pada orang lain.
4. Makanan / Cairan
  • Ketidakmampuan untuk menghasilkan atau mengkonsumsi makanan atau cairan adekuat mual, anoreksia.
  • Kesulitan untuk mengunyah, penurunan berat badan, kekeringan pada membran mukosa.
5. Hygiene 
  • Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan diri, ketergantungan pada orang lain.
6. Neurosensori
  • Kesemutan pada tangan serta kaki, pembengkakan sendi
7. Nyeri/kenyamanan
  • Fase akut nyeri (kemungkinan tidak disertai dengan pembengkakan jaringan lunak pada sendi. Rasa nyeri kronis serta kekakuan (terutama pagi hari).
8. Keamanan 
  • Kulit mengkilat, tegang, nodul sub mitaneus
  • Lesi kulit, ulkas kaki
  • Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga
  • Demam ringan menetap
  • Kekeringan pada mata serta membran mukosa
9. Interaksi Sosial
  • Kerusakan interaksi dengan keluarga atau orang lain, perubahan peran: isolasi. 
10. Penyuluhan/Pembelajaran
  • Riwayat rematik pada keluarga
  • Penggunaan makanan kesehatan, vitamin, penyembuhan penyakit tanpa pengujian
  • Riwayat perikarditis, lesi tepi katup. Fibrosis pulmonal, pkeuritis.
11. Pemeriksaan Diagnostik
  • Reaksi aglutinasi: positif
  • LED meningkat pesat
  • protein C reaktif : positif pada masa inkubasi.
  • SDP: meningkat pada proses inflamasi
  • JDL: Menunjukkan ancaman sedang
  • Ig (Igm & Ig G) peningkatan besar menunjukkan proses autoimun
  • RO: menunjukkan pembengkakan jaringan lunak, erosi sendi, osteoporosis pada tulang yang berdekatan, formasi kista tulang, penyempitan ruang sendi. 

Diagnosa Keperawatan


Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan. 1

Nyeri akut/kronis berhubungan dengan distensi jaringan oleh akumulasi cairan/proses inflamasi, distruksi sendi.

Hasil yang diharapkan/Kriteria evaluasi
  • Menunjukkan nyeri berkurang atau terkontrol
  • Terlihat rileks, dapat istirahat, tidur serta berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan.
  • Mengikuti program terapi.
  • Menggunakan keterampilan relaksasi serta aktivitas hiburan ke dalam program kontrol nyeri.
Intervensi:
  • Kaji keluhan nyeri; catat lokasi serta intensitas nyeri (skala 0 – 10). Catat faktor-faktor yang mempercepat serta tanda-tanda rasa nyeri non verbal
  • Beri matras/kasur keras, bantal kecil. Tinggikan tempat tidur sesuai kebutuhan saat klien beristirahat/tidur.
  • Bantu klien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di kursi. Tingkatan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi. 
  • Pantau penggunaan bantal.
  • Dorong klien untuk sering mengubah posisi.
  • Bantu klien untuk mandi hangat pada waktu bangun tidur.
  • Bantu klien untuk mengompres hangat pada sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari.
  • Pantau suhu kompres.
  • Berikan masase yang lembut.
  • Dorong penggunaan teknik manajemen stress misalnya relaksasi progresif sentuhan terapeutik bio feedback, visualisasi, pedoman imajinasi hipnotis diri serta pengendalian nafas.
  • Libatkan dalam aktivitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu.
  • Beri obat sebelum aktivitas/latihan yang direncanakan sesuai petunjuk.
  • Bantu klien dengan terapi fisik.
Diagnosa Keperawatan. 2

Kerusakan Mobilitas Fisik Berhubungan dengan Deformitas skeletal, Nyeri, ketidaknyamanan, Penurunan kekuatan otot.

Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi
  • Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/pembatasan kontraktor
  • Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan serta fungsi dari kompensasi bagian tubuh
  • Mendemonstrasikan teknik/perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas.
Intervensi:
  • Pantau tingkat inflamasi/rasa sakit pada sendi 
  • Pertahankan tirah baring/duduk bila diperlukan 
  • Jadwal aktivitas untuk memberikan periode istirahat yang terus-menerus serta tidur malam hari tidak terganggu.
  • Bantu klien dengan rentang gerak aktif/pasif serta latihan resistif serta isometric bila memungkinkan
  • Dorongkan untuk mempertahankan posisi tegak serta duduk tinggi, berdiri, serta berjalan.
  • Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi/kloset, menggunakan pegangan tinggi serta bak serta toilet, penggunaan alat bantu mobilitas/kursi roda penyelamat
  • Kolaborasi ahli terapi fisik/okupasi serta spesialis vasional.
Diagnosa Keperawatan. 3

Gangguan Citra Tubuh/Perubahan Penampilan Peran berhubungan dengan Perubahan kemampuan melakukan tugas-tugas umum, Peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas.

Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi:
  • Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup serta kemungkinan keterbatasan.
  • Menyusun tujuan atau rencana realistis untuk masa mendatang.
Intervensi:
  • Dorong klien mengungkapkan mengenai masalah tentang proses penyakit, harapan masa depan.
  • Diskusikan dari arti kehilangan/perubahan pada seseorang. Memastikan bagaimana pandangan pribadi klien dalam memfungsikan gaya hidup sehari-hari termasuk aspek-aspek seksual
  • Akui serta terima perasaan berduka, bermusuhan, ketergantungan
  • Perhatikan perilaku menarik diri, penggunaan menyangkal atau terlalu memperhatikan tubuh/perubahan.  
  • Susun batasan pada perilaku maladaptif, bantu klien untuk mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu koping.
  • Bantu kebutuhan perawatan yang diperlukan klien.
  • Ikutsertakan klien dalam merencanakan serta membuat jadwal aktivitas.
Diagnosa Keperawatan. 4

Kurang Perawatan Diri berhubungan dengan Kerusakan Auskuloskeletal: Penurunan Kekuatan, Daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, Depresi.

Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi: 
  • Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten pada kemampuan klien.
  • Mendemonstrasikan perubahan teknik/gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
  • Mengidentifikasikan sumber-sumber pribadi/komunitas yang dapat memenuhi kebutuhan.
Intervensi:
  • Diskusikan tingkat  fungsi umum; sebelum timbul eksaserbasi penyakit serta potensial perubahan yang sekarang diantisipasi.
  • Pertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri serta program latihan.
  • Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri. Identifikasi rencana untuk memodifikasi lingkungan.
  • Kolaborasi untuk mencapai terapi okupasi.
Diagnosa Keperawatan. 5

Resiko Tinggi terhadap Kerusakan Penatalaksanaan Lingkungan berhubungan dengan Proses penyakit degeneratif jangka panjang, Sistem pendukung tidak adekuat.

Hasil yang Diharapkan/Kriteria Evaluasi :
  • Mempertahankan keamanan lingkungan yang meningkatkan perkembangan.
  • Mendemonstrasikan penggunaan sumber-sumber yang efektif serta tepat.
Intervensi:
  • Kaji tingkat fungsi fisik
  • Evaluasi lingkungan untuk mengkaji kemampuan dalam perawatan untuk diri sendiri.
  • Tentukan sumber-sumber finansial untuk memenuhi kebutuhan situasi individual.
  • Identifikasi untuk peralatan yang diperlukan misal alat bantu mobilisasi.
Diagnosa Keperawatan. 6

Kurang Pengetahuan (Kebutuhan Belajar) Mengenai Penyakit, Prognosis serta Kebutuhan Perawatan serta Pengobatan berhubungan dengan Kurangnya pemahaman/mengingat kesalahan interpretasi informasi.

Hasil yang diharapkan/Kriteria Evaluasi:
  • Menunjukkan pemahaman tentang kondisi/pragnosis serta perawatan.
  • Mengembangkan rencana untuk perawatan diri termasuk modifikasi gaya hidup  yang konsisten dengan mobilitas serta atau pembatasan aktivitas.
Intervensi :
  • Tinjau proses penyakit, prognosis serta harapan masa depan
  • Diskusikan kebiasaan pasien dalam melaksanakan proses sakit melalui diet, obat-obatan serta program diet seimbang, latihan serta istirahat.
  • Bantu dalam merencanakan jadwal aktivitas terintegrasi yang realistis, istirahat, perawatan diri, pemberian obat-obatan, terapi fisik, serta manajemen stress.
  • Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakologi terapi.
  • Identifikasi efek samping obat.
  • Diskusikan teknik menghemat energi.
  • Berikan informasi tentang alat bantu misalnya tongkat, tempat duduk, serta palang keamanan.
  • Dorong klien untuk mempertahankan posisi tubuh yang benar baik pada saat istirahat maupun pada saat melakukan aktivitas.
  • Diskusikan pentingnya pemeriksaan lanjutan misalnya LED, kadar salisilat, PT.
  • Beri konseling sesuai dengan prioritas kebutuhan klien.

Daftar Pustaka
  • Long C Barbara, Perawatan Medikal Bedah (Suatu pendekatan proses Keperawatan), Yayasan Ikatan alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, Bandung, 1996
  • Smeltzer C. Suzannne, (2002  ), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Alih Bahasa Andry Hartono, dkk., Jakarta, EGC.
  • Doenges, EM. (2000 ), Rencana Asuhan Keperawatan; Pedoman untuk Perencanaan serta Pendokumentasian Perawatan Pasien, Alih Bahasa I Made Kariasa, dkk. (2001), Jakarta, EGC.
  • Price, S.A. R. Wilson CL (1991), Pathophisiology Clinical Concept of Disease Process, Alih Bahasa Adji Dharma (1995), Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit, Jakarta, EGC.
  • Depkes, RI (1995), Penerapan Proses Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Maskuloskeletal, Jakarta, Pusdiknakes.
  • R. Boedhi Darmojo & Martono Hadi (1999), Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut, Jakarta, Balai Penerbit FK Universitas Indonesia.
  • A. Soeparman (1995), Ilmu Penyakit Dalam, Edisi Kedua, Jakarta, Balai Penerbit FKUI.
Untuk mendownload laporan pendahuluan / LP (OA) osteoarthritis / Kelainan sendi generatif doc serta pdf, dibawah
Link Alternatif
Demikian laporan pendahuluan / LP (OA) osteoarthritis / kelainan sendi generatif, download doc serta pdf kami bagikan, kami berharap semoga lp ini dapat menjadi refferensi dalam pembuatan tugas-tugas keperawatan yang berkaitan dengan penyakit kelainan sendi generatif. Terima kasih.

0 Response to "Laporan Pendahuluan / LP (OA) Osteoarthritis / Kelainan Sendi Generatif, Download Doc serta Pdf"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel