Laporan Pendahuluan / LP Plasenta Previa Lengkap, Download Pdf serta Doc

Kami bagikan laporan pendahuluan / LP plasenta previa pdf serta doc.

Menyediakan laporan pendahuluan dengan berbagai judul supaya dapat membantu teman sejawat sekalian adalah misi kami, pada postingan kali ini kami coba posting laporan pendahuluan / LP plasenta previa yang telah kami susun secara lengkap berdasarkan beberapa referensi terpercaya.

Perawat yang sedang melakukan praktik khususnya teman-teman yang sedag mengambil profesi ners sedang dalam stase maternitas pasti sangat membutuhkan laporan pendahuluan / LP plasenta previa ini.

Laporan pendahuluan / LP plasenta previa ini kami bagikan dalam bentuk dua format yaitu pdf serta doc, dengan tujuan mempermudah teman - teman sejawat dalam pembuatan tugas askep, makalah ataupun LP itu sendiri, tinggal didownload serta edit sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Untuk mendownload laporan pendahuluan / LP plasenta previa pdf serta doc telah kami sediakan link unduhan diakhir artikel ini.

Laporan Pendahuluan Plasenta Previa


Pengertian
    
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim yaitu di atas serta dekat tulang cerviks dalam serta menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. Angka kejadian plasenta previa adalah 0,4 – 0,6 % dari keseluruhan persalinan.
    
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sesampai dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir.
    
Menurut Prawiroharjo, plasenta previa adalah plasenta yang ada didepan jalan lahir (prae = di depan ; vias = jalan). Jadi yang dimaksud plasenta previa ialah plasenta yang implantasinya tidak normal, rendah sekali sampai menutupi seluruh atau sebagian ostium internum.
    
Menurut Cunningham, plasenta previa merupakan implantasi plasenta di bagian bawah sesampai menutupi ostium uteri internum, serta menimbulkan perdarahan saat pembentukan segmen bawah rahim.
    

Klasifikasi
    
Plasenta previa dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu :
  1. Marginal placenta previa yaitu Plasenta tertanam pada satu tepi segmen rahim bawah dekat dengan tulang.
  2. Incomplete / Parsial placenta previa yaitu Menyiratkan penutupan tak sempurna
  3. Total / Complete placenta previa yaitu Seluruhnya tulang dalam tertutup oleh placenta, saat cervik sepenuhnya berdilatasi
  4. Implantasi rendah / low-lying implantasi yaitu Digunakan saat placenta diposisikan pada segmen bawah rahim yang lebih rendah tapi jauh dari tulang

Etiologi 
    
Penyebab pasti dari placenta previa belum diketahui sampai saat ini. Tetapi berkurangnya vaskularisasi pada segmen bawah rahim karena bekas luka operasi uterus, kehamilan molar, atau tumor yang menyebabkan implantasi placenta jadi lebih rendah merupakan sebuah teori tentang penyebab palcenta previa yang masuk akal.
    
Selain itu, kehamilan multiple / lebih dari satu yang memerlukan permukaan yang lebih besar untuk implantasi placenta mungkin juga menjadi salah satu penyebab terjadinya placenta previa. serta juga pembuluh darah yang sebelumnya mengalami perubahan yang mungkin mengurangi suplai darah pada daerah itu, faktor predisposisi itu untuk implantasi rendah pada kehamilan berikutnya.
    

Patologi
  • Lokasi implantasi serta ukuran placenta saling terkait. Secara rinci, karena sirkulasi pada segmen bawah sdikit lebih baik daripada fundus, placenta previa mungkin butuh untuk menutupi area yang lebih besar untuk efisiensi yang adekuat. Permukaan placenta previa mungkin lebih besar setidak-tidaknya 30% lebih besar daripada placenta yang terimplantasi di fundus.
  • Segmen bagian bawah relatif tanpa kontraksi serta perdarahan pantas dipertimbangkan pada pembukaan sinus.
  • Infeksi ascending dari vagina dapat menyebabkan placentitis, terutama di daerah pajana atau di atas tulang.
  • Placenta previa dapat terdorong miring, melintang, presentasi serta mencegah perikatan pada keadaan fetal.

Patofisiologi

Menurut Chalik (2002), pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya pada trisemester ketiga serta mungkin juga lebih awal, oleh karena telah mulai terbentuknya segmen bawah rahim, tapak plasenta akan mengalami pelepasan. Sebagaimana diketahui tapak plasenta terbentuknya dari jaringan maternal yaitu bagian desidua basalis yang tumbuh menjadi bagian dari uri. Dengan melebarnya istmus uteri menjadi segmen bawah rahim, maka plasenta yang berimplantasi disitu sedikit banyak akan mengalami laserasi akibat pelepasan pada tapaknya. Demikian pula pada waktu servik mendatar serta membuka ada bagian tapak plasenta yang lepas. Pada tempat laserasi itu akan terjadi perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal yaitu ruang intervillus dari plasenta. Oleh sebab itu, perdarahan pada plasenta previa betapapun pasti akan terjadi oleh karena segmen bawah rahim senantiasa terbentuk Perdarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 20 minggu saat segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan. Pelebaran segmen bawah uterus serta servik menyebabkan sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada plasenta letak normal (Mansjoer, 2001). 

Pathway Plasenta Previa
Untuk mendownload Pathway Plasenta previa doc, DISINI


Manifestasi Klinik
  • Rasa tak sakit, perdarahan uteri, terutama pada trimester ketiga.
  • Jarang terjadi pada episode pertama kejadian yang mengancam kehidupan atau menyebabkan syok hipovolemik.
  • Kira-kira 7% dari placenta previa tanpa gejala serta merupakan suatu temuan yang kebetulan pada scan ultrasonik.
  • Beberapa adalah jelmaan untuk pertama kali, saat uteri bawah merentang serta tipis, saat sobek serta perdarahan terjadi di lokasi implantasi bawah.
  • Placenta previa mungkin tidak menyebabkan perdarahan sampai kelahiran mulai atau hinga terjadi dilatasi lengkap. Perdarahan awal terjadi serta berlebih-lebih pada total previa. Perdarahan yang merah terang mungkin terjadi secara intermitten, saat pancaran, atau lebih jarang, mungkin jugaberlanjut. Ini mungkin berawal saat wanita sedang istirahat atau di tengah-tengah aktifitas. Kebetulan kejadian ini tidak pernah terjadi kecuali bila dilakukan pengkajian vaginal atau rektal memulai perdarahan dengan kasar sebelum atau selama awal kehamilan.
  • Sikap yang tak terpengaruh oleh placenta previa adalah rasa sakit. Bagaimanapun bila perdarahan yang pertama bersamaan dengan serangan kelahiran, wanita mungkin mengalami rasa tak nyaman karena kontraksi uterus.
  • Pada pengkajian perut, bila fetus terletak longitudinal, ketinggian fundus biasanya lebih besar dari yang diharapkan untuk umur kehamilannya karena placenta previa menghalangi turunnya bagian-bagian janin.
  • Manuver leopod mungkin menampakkan fetus pada posisi miring atau melintang karena abnormalitas lokasi implantasi placenta.
  • Seperti kaidah, fetal distress atau kemayian janin terjadi hanya bila bagian penting placenta previa terlepas dari desidua basilis atau bila ibu menderita syok hipovolemik.

Komplikasi

Plasenta previa dapat menyebabkan resiko pada ibu serta janin. Menurut Manuaba (2001), adapun komplikasi – komplikasi yang terjadi yaitu: 

a. Komplikasi pada ibu, antara lain: perdarahan tambahan saat operasi menembus plasenta dengan inersio di depan, infeksi karena anemia, robekan implantasi plasenta di bagian belakang segmen bawah rahim, terjadinya ruptura uteri karena susunan jaringan rapuh serta sulit diketahui. 

b. Komplikasi pada janin, antara lain: prematuritas dengan morbiditas serta mortalitas tinggi, mudah infeksi karena anemia disertai daya tahan rendah, asfiksia intrauterine sampai dengan kematian. 

Menurut Chalik (2002), ada tiga komplikasi yang dapat terjadi pada ibu serta janin antara lain: 
  1. Terbentuknya segmen bawah rahim secara bertahap terjadilah pelepasan tapak plasenta dari insersi sesampai terjadi lah perdarahan yang tidak dapat dicegah berulang kali, penderita anemia serta syok. 
  2. Plasenta yang berimplantasi di segmen bawah rahim tipis sesampai dengan mudah jaringan trpoblas infasi menerobos ke dalam miometrium bahkan ke parametrium serta menjadi sebab dari kejadian placenta akreta serta mungkin inkerta. 
  3. Servik serta segmen bawah raim yang rapuh serta kaya akan pembuluh darah sangat potensial untuk robek disertai oleh perdarahan yang banyak menyebabkan mortalitas ibu serta perinatal.  

Pemeriksaan penunjang

1. USG (Ultrasonographi)

Dapat mengungkapkan posisi rendah berbaring placnta tapi apakah placenta melapisi cervik tidak biasa diungkapkan

2. Sinar X

Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-bagian tubuh janin.

3. Pemeriksaan laboratorium

Hemoglobin serta hematokrit menurun. Faktor pembekuan pada umumnya di dalam batas normal.

4. Pengkajian vaginal

Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya ditunda bila memungkinkan sampai kelangsungan hidup tercapai (lebih baik sesuadah 34 minggu). Pemeriksaan ini disebut pula prosedur susunan ganda (double setup procedure). Double setup adalah pemeriksaan steril pada vagina yang dilakukan di ruang operasi dengan kesiapan staf serta alat untuk efek kelahiran secara cesar.

5. Isotop Scanning

Atau lokasi penempatan placenta.

6. Amniocentesis

Jika 35 – 36 minggu kehamilan tercapai, panduan ultrasound pada amniocentesis untuk menaksir kematangan paru-paru (rasio lecithin / spingomyelin [LS] atau kehadiran phosphatidygliserol) yang dijamin. Kelahiran segera dengan operasi direkomendasikan bila paru-paru fetal sudah mature.


Penatalaksanaan

1. Terapi ekspektatif

Tujuan terapi ekspektatif adalah supaya janin tidak terlahir prematur, pasien dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melaui kanalis servisis. Upaya diagnosis dilakukan secara non invasif. Pemantauan klinis dilaksanakan secara ketat serta baik.

Syarat pemberian terapi ekspektatif :

a. Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang lalu berhenti.
b. Belum ada tanda-tanda in partu.
c. Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas normal)
d. Janin masih hidup.
  • Rawat inap, tirah baring, serta berikan antibiotik profilaksis.
  • Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi placenta, usia kehamilan, profil biofisik, letak, serta presentasi janin.
  • Berikan tokolitik bila ada kontriksi : MgSO4 4 gr IV dosis awal dilanjutkan 4 gr tiap 6 jam, Nifedipin 3 x 20 mg/hari, Betamethason 24 mg IV dosis tunggal untuk pematangan paru janin
  • Uji pematangan paru janin dengan Tes Kocok (Bubble Test) dari test amniosentesis.
  • Bila setelah usia kehamilan di atas 34 minggu placenta masih berada di sekitar ostinum uteri internum, maka dugaan plasenta previa menjadi jelas sesampai perlu dilakukan observasi serta konseling untuk menghadapi kemungkinan keadaan gawat darurat.
  • Bila perdarahan berhenti serta waktu untuk mencapai 37 mingu masih lama, pasien dapat dipulangkan untuk rawat jalan (kecuali apabila rumah pasien di luar kota serta jarak untuk mencapai RS lebih dari 2 jam) dengan pesan segera kembali ke RS apabila terjadi perdarahan ulang.

2. Terapi aktif (tindakan segera)
  • Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif serta banyak harus segera ditatalaksana secara aktif tanpa memandang maturitas janin.
  • Untuk diagnosis placenta previa serta menentukan cara menyelesaikan persalinan, setelah semua persyaratan dipenuhi, lakukan PDOM bila : Infus / tranfusi telah terpasang, kamar serta tim operasi telah siap, Kehamilan ? 37 minggu (BB ? 2500 gram) serta in partu, Janin telah meninggal atau terdapat anomali kongenital mayor (misal : anensefali), Perdarahan dengan bagian terbawah jsnin telah jauh melewati PAP (2/5 atau 3/5 pada palpasi luar)
Cara menyelesaikan persalinan dengan placenta previa adalah :

1. Seksio Cesaria (SC)
  • Prinsip utama dalam melakukan SC adalah untuk menyelamatkan ibu, sesampai meskipun janin meninggal atau tak punya harapan hidup tindakan ini tetap dilakukan.
  • Tempat implantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularisasi sesampai cervik uteri serta segmen bawah rahim menjadi tipis serta mudah robek. Selain itu, bekas tempat implantasi placenta sering menjadi sumber perdarahan karena adanya perbedaan vaskularisasi serta susunan serabut otot dengan  korpus uteri.
  • Siapkan darah pengganti untuk stabilisasi serta pemulihan kondisi ibu
  • Lakukan perawatan lanjut pascabedah termasuk pemantauan perdarahan, infeksi, serta keseimbangan cairan serta elektrolit.

2. Melahirkan pervaginam

Perdarahan akan berhenti bila ada penekanan pada placenta. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
  • Amniotomi serta akselerasi
Umumnya dilakukan pada placenta previa lateralis / marginalis dengan pembukaan > 3cm serta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban, placent akan mengikuti segmen bawah rahim serta ditekan oleh kepala janin. Jika kontraksi uterus belum ada atau masih lemah akselerasi dengan infus oksitosin.
  • Versi Braxton Hicks
Tujuan melakukan versi Braxton Hicks adalah mengadakan tamponade placenta dengan bokong (dan kaki) janin. Versi Braxton Hicks tidak dilakukan pada janin yang masih hidup.
  • Traksi dengan Cunam Willet
Kulit kepala janin dijepit dengan Cunam Willet, lalu diberi beban secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif untuk menekan placentadan seringkali menyebabkan perdarahan pada kulit kepala. Tindakan ini biasanya dikerjakan pada janin yang telah meninggal serta perdarahan yang tidak aktif.


Konsep Asuhan Keperawatan

Pengkajian

a. Pengumpulan data

Anamnesa

1. Identitas klien: Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat, medicalrecord dll.
2. Keluhan utama : Gejala pertama; perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu/trimester III.
  • Sifat perdarahan; tanpa sebab, tanpa nyeri, berulang
  • Sebab perdarahan; placenta serta pembuluh darah yang robek; terbentuknya SBR, terbukanya osteum/ manspulasi intravaginal/rectal.
  • Sedikit banyaknya perdarahan; tergantung besar atau kecilnya robekan pembuluh darah serta placenta.
3. Inspeksi
  • Dapat dilihat perdarahan pervaginam banyak atau sedikit.
  • Jika perdarahan lebih banyak; ibu tampak anemia.
4. Palpasi abdomen
  • Janin sering belum cukup bulan; TFU masih rendah.
  • Sering dijumpai kesalahan letak 
  • Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala biasanya kepala masih goyang/floating

b. Riwayat Kesehatan

Riwayat Obstetri

Memberikan imformasi yang penting mengenai kehamilan sebelumnyasupaya  perawat dapat menentukan kemungkinan masalah pada kehamilansekarang. Riwayat obstetri meliputi:
  • Gravida, para abortus, serta anak hidup (GPAH)
  • Berat badan bayi waktu lahir serta usia gestasi
  • Pengalaman persalinan, jenis persalinan, tempat persalinan, serta penolong persalinan
  • Jenis anetesi serta kesulitan persalinan
  • Komplikasi maternal seperti diabetes, hipertensi, infeksi, serta perdarahan.
  • Komplikasi pada bayi
  • Rencana menyusui bayi
Riwayat mensturasi

Riwayat yang lengkap di perlukan untuk menetukan taksiran persalinan(TP). TP ditentukan berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT). Untuk menentukan TP berdasarkan HPHt dapat digunakan rumus naegle, yaitu hari ditambah tujuh, bulan dikurangi tiga, tahun disesuaikan.

Riwayat Kontrasepsi

Beberapa bentuk kontrasepsi dapat berakibat buruk pada janin, ibu, ataukeduanya. Riwayat kontrasepsi yang lengkap harus didapatkan pada saat kunjungan pertama. Penggunaan kontrasepsi oral sebelum kelahiran serta berlanjut pada kehamilan yang tidak diketahui dapat berakibat buruk pada pembentukan organ seksual pada janin.

Riwayat penyakit serta operasi:

Kondisi kronis seperti dibetes melitus, hipertensi, serta penyakit ginjal dapat berefek buruk pada kehamilan. Oleh karena itu, adanya riwayat infeksi, prosedur operasi, serta trauma pada persalinan sebelumnya harus di dokumentasikan

c. Pemeriksaan fisik

Umum

Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil:

1. Rambut serta kulit
  • Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu serta linea nigra.
  • Striae atau tanda guratan dapat terjadi di daerah abdomen serta paha.
  • Laju pertumbuhan rambut berkurang.Wajah
2. Mata : pucat, anemis
3. Hidung
4. Gigi serta mulut
5. Leher
6. Buah dada / payudara
  • Peningkatan pigmentasi areola putting susu
  • Bertambahnya ukuran serta noduler
7. Jantung serta paru
  • Volume darah meningkat
  • Peningkatan frekuensi nadi
  • Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik serta pembulu darah pulmonal.
  • Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
  • Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.
  • Diafragma meninggi
  • Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
8. Abdomen
  • Menentukan letak janin
  • Menentukan tinggi fundus uteri
9. Vagina
  • Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick)
  • Hipertropi epithelium
10. System musculoskeletal
  • Persendian tulang pinggul yang mengendur
  • Gaya berjalan yang canggung
  • Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal
Khusus
  1. Tinggi fundus uteri
  2. Posisi serta persentasi janin
  3. Panggul serta janin lahir
  4. Denyut jantung janin

Diagnosa Keperawatan
  1. Nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan
  2. Resti infeksi b.d insisi luka operasi
  3. Gangguan keseimbangan cairan serta elektrolit b.d syok hipovolemik
  4. Resti fetal distress b.d terlepasnya placenta
  5. Ansietas b.d kurangnya pengetahuan terhadap tindakan yang akan dilakukan
  6. Resti konstipasi b.d penurunan peristaltik usus
  7. Perubahan pola peran b.d adanya anggota keluarga baru

Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan. 1

Nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan

Tujuan : Rasa nyeri pasien berkurang atau hilang

Kriteria Hasil : Klien tidak gelisah, skala nyeri 1 – 2, tanda vital normal.

Intervensi :
  • Kaji karakristik, skala, lokasi, intensitas, serta frekuensi nyeri.
  • Monitor tanda vital pasien.
  • Ajarkan teknik relaksasi serta distraksi.
  • Anjurkan tirah baring dengan posisi datar berbaring.
  • Lakukan latihan nafas dalam
  • Ciptakan lingkungan yang nyaman.
  • Kolaborasi dengan dokter pemberian analgesik

Diagnosa Keperawatan. 2

Resti infeksi b.d insisi luka operasi

Tujuan : Tidak terjadi infeksi.

Kriteria Hasil: Limfosit dalam batas normal, tanda vital normal serta tidak ditemukan tanda infeksi.

Intervensi :
  • Kaji lokasi serta luas luka.
  • Pantau bila terdapat tanda infeksi (rubor, dolor, kolor, serta perubahan fungsi).
  • Pantau tanda vital klien.
  • Kolaborasi pemberian antibiotik.
  • Ganti balut dengan prinsip steril.
  • Awasi pemeriksaan laboratorium (lekosit)

Diagnosa Keperawatan. 3

Gangguan keseimbangan cairan serta elektrolit b.d syok hipovolemik

Tujuan : Membaiknya keseimbangan cairan serta elektrolit.

Kriteria Hasil : Cairan serta elektrolit seimbang

Intervensi :
  • Monitor tanda vital.
  • Monitor urin meliputi warna hemates sesuai indikasi.
  • Pertahankan pencatatan komulatif jumlah serta tipe pemasukan cairan.
  • Monitor berat badan tiap hari.
  • Awasi pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, serta natrium urin).
  • Kolaborasi pemberian diuretik.

Diagnosa Keperawatan. 4

Resti fetal distress b.d terlepasnya placenta

Tujuan : Tidak terjadi distress janin

Intervensi :
  • Kaji DJJ, perhatikan frekuensi serta regularitas. Biarkan pasien memantau gerakan janin.
  • Kaji adanya kontraksi uterus preterm, yang mungkin ataupun tidak disertai dengan dilatasi cervik
  • Pantau kemajuan persalinan serta kecepatan turunnya janin
  • Siapkan klien atau tinjau ulang seri tes USG
  • Siapkan serta bantu dengan terminasi kehamilan dengan pervaginam atau SC sesuai dengan indikasi

Diagnosa keperawatan. 5

Ansietas b.d kurangnya pengetahuan terhadap tindakan yang akan dilakukan

Tujuan : Ansietas berkurang serta dapat diatasi

Intervensi :
  • Jelaskan prosedur, intervensi serta tindakan yang dilakukan pada pasien.
  • Pertahankan komunikasi terbuka, diskusikan kemungkinan efek samping serta hasil, pertahankan sikap optimis.
  • Anjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaannya.
  • Libatkan pasangan / keluarga untuk mendampingi pasien.
  • Kolaborasi dengan dokter pemberian sedatif bila tindakan lain tidak berhasil.

Daftar Pustaka
  • Smeltzer, Suzanne. C, Bare, Brenda. G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol. 2. Jakarta: EGC.
  • Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal serta Neonatal. Editor : Abdul Bari Saifudin, George Adriaansz, Gulardi Hanifa Wiknjosastro, Djoko Waspodo. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. 2000.
  • Doenges. 2001. Rencana Perawatan Maternal / Bayi : Pedoman Untuk Perencanaan serta Dokumentasi Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.
Untuk mendownload laporan pendahuluan / LP Placenta Previa, Download Pdf serta Doc, dibawah
Link Alternatif
Demikian laporan pendahuluan / LP plasenta previa pdf serta doc kami bagikan, semoga dapat membantu teman-teman sejawat sekalian dalam pembuatan tugas keperawatan. terima kasih.

0 Response to "Laporan Pendahuluan / LP Plasenta Previa Lengkap, Download Pdf serta Doc"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel