Laporan Pendahuluan / LP Pneumonia Lengkap, Download pdf serta doc

Selamat datang kembali teman-teman perawat seIndonesia, terima kasih masih setia mengunjungi blog kecil kami ini, semoga selalu sehat serta sejahtera.

Pada kesenmpatan kali ini akan kami bagikan laporan pendahuluan / LP Pneumonia lengkap serta disusun berdasarkan referensi terbaru, yang bertujuan untuk membantu teman-teman sejawat sekalian dalam menyelesaikan tugas laporan pendahuluan, askep ataupun makalah dalam menjalani proses akademik keperawatan.

Laporan pendahuluan / LP pneumonia yang kami bagikan ini sangat lengkap sampai konsep asuhan keperawatan, jadi teman-teman sekalian hanya tingga mengeditnya saja sesuai dengan kebutuhan.

Laporan pendahuluan / LP pneumonia ini kami bagikan dalam dua format, yaitu doc serta pdf. Yang dapat teman-teman sejawat sekalian download diakhir artikel ini pada link tautan yang telah kami sediakan.


Laporan Pendahuluan Pneumonia

Definisi

Pneumonia adalah peradangan paru dimana asinus paru terisi cairan radang dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang kedalam dinding alveoli serta rongga interstisium. (secara anatomis dapat timbul pneumonia lobaris maupun lobularis / bronchopneumonia.

Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan yang terbanyak didapatkan serta sering merupakan penyebab kematian hampir di seluruh dunia. Di Indonesia berdasarkan survei kesehatan rumah tangga tahun 1986 yang dilakukan Departemen Kesehatan, pneumonia tergolong dalam penyakit infeksi akut saluran nafas, merupakan penyakit yang banyak dijumpai.


Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pneumonia :

Diketahui beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya pneumonia yaitu :

1. Mekanisme pertahanan paru

Paru berusaha untuk mengeluarkan berbagai organisme yang terhirup seperti partikel debu serta bahan-bahan lainnya yang terkumpul di dalam paru. Beberapa bentuk mekanisme ini antara lain: bentuk anatomis saluran pernafasan, reflek batuk, system mukosilier, juga system fagositosis yang dilakukan oleh sel-sel tertentu dengan memakan partikel-partikel yang mencapai permukaan alveoli.
Bila fungsi ini berjalan baik, maka bahan infeksi yang bersifat infeksius dapat dikeluarkan dare saluran nafas, sesampai pada orang sehat tidak akan terjadi infeksi serius. Infeksi saluran nafas berulang terjadi aakibat berbagai komponen system pertahanan paru yang tidak bekerja dengan baik.

2. Kolonisasi bakteri di saluran nafas

Di dalam saluran nafas atas banyak bakteri yang bersifat kosal. Bila jumlah mereka semakin meningkat serta mencapai suatu konsentrasi yang cukup, kuman ini lalu masuk ke saluran nafas bawah serta paru, serta akibat kegagalan mekanisme pembersihan saluran nafas keadaan ini akan bermanifestasi sebagai penyakit.

Mikroorganisme yang tidak dapat menempel pada permukaan mukosa saluran nafas akan ikut dengan sekresi saluran nafas serta terbawa bersama mekanisme pembersihan, sesampai tidak terjadi kolonisasi. Proses penempelan organisme pada permukaan mukosa saluran nafas tergantung dare system pangemalan mikroorganisme tersebut oleh sel eputel.

3. Pembersihan saluran nafas terhadap bahan infeksius

Saluran nafas bawah serta paru berulangkali dimasuki oleh berbagai mikroorganisme dare saluran nafas atas, akan tetapi tidak menimbulkan sakit, ini meninjukkan adanya suatu mekanisme pertahanan paru yang efisien sesampai dapat menyapu bersih mikroorganisme sebelum mereka bermultiplikasi serta menimbulkan penyakit.

Pertahanan paru terhadap hal-hal yang berbahaya serta infeksius berupa reflek batuk, penyempitan saluran nafas dengan kontraksi otot polos bronkus pada awal terjadinya proses peradangan, juga dibantu oleh respon imunitas humoral.


Etiologi

Sebagian besar disebabkan oleh mikroorganisme, akan tetapi dapat juga oleh bahan-bahan lain, sesampai dikenal:
  1. Lipid pneumonia : oleh karena aspirasi minyak mineral
  2. Chemical pneumonitis : inhalasi bahan-bahan organic atau uap kimia seperti berilium
  3. Extrinsik Allergik Alveolitis : inhalasi bahan-bahan debu yang mengandung allergen, seperti debu dare parik-pabrik gula yang mengandung spora dare actynomicetes thermofilik.
  4. Drug Reaction Pneumonitis : nitrofurantion, busulfan, methotrexate
  5. Pneumonia karena radiasi sinar rontgen
  6. Pneumonia yang sebabnya tidak jelas : desquamative interstitial pneumonia, eosinofilik pneumonia
  7. Microorganisme
GROUP
PENYEBAB
TYPE PNEUMONIA
Bacteri







Aktinomyctes


Fungi





Riketsia

Klamidia

Mikoplasma

Virus


Protozoa 
Streptococcos pneumonia
Streptococcus piogenes
Stafilococcus aureus
Klebsiella pneumonia
Eserikia koli
Yersinia pestis
Legionnaires bacillus

A. Israeli
Nokardia asteroids

Kokidioides imitis
Histoplasma kapsulatum
Blastomises dermatitidis
Aspergillus
Fikomisetes

Koksiella Burnetty

Chlamidia psittaci

Mikoplasma pneumonia

Infulensa virus, adenovirus respiratory syncytial
Pneumosistis karini
Pneumonia bacteri





Legionnaires disease

Aktinomikosis pulmonal
Nokardiosis pulmonal

Kokidioidomikosis
Histoplasmosis
Blastomikosis
Aspergilosis
Mukormikosis

Q  Fever

Psitakosis,Ornitosis

Pneumonia mikoplasmal

Pneumonia virus


Pneumonia pneumistis (pneumonia plasma sel)


Gambaran Klinis

Gambaran klinis biasanya didahului olek infeksi saluran nafas akut bagian atas selama beberapa hari, lalu diikuti dengan demam, suhu tubuh kadang-kadang melebihi 40 derajat C, sakit tenggorok, nyeri otot serta sendi. Juga disertai batuk, dengan sputum mukoid atau purulen, kadang-kadang berdarah.

Pada pemeriksaan fisik dada terlihat bagian sakit tertinggal waktu bernafas dengan suara nafas bronchial kadang-kadang melemah. Didapatkan ronki basah halus, yang lalu menjadi ronki basah kasar pada stadium resolusi.

  1. Community Acquired Pneumonia yaitu, pneumonia yang didapatkan di masyarakat, terjadinya infeksi di luar rumah sakit.
  2. Hospital Acquirted Pneumonia yaitu, pneumonia yang didapat selama penderita dirawat di rumah sakit. Hampir 1 % dare penderita yang dirawat di rumah sakit mendapatkan pneumonia selama dalam perawatan serta 1/3nya mungkin akan meninggal. Demikian pula halnya dengan penderita yang dirawat di ICU lebih dare 60 % menderita pneumonia.
  3. Pneumonia in the immunocompromised host yaitu, yang terjadi akibat terganggunya system kekebalan tubuh. Macula ini semakin meningkat dengan penggunaan obat-obatan sitotoksik serta imunosupresif, hal ini akibat dare merningkatnya kemajuan di bidang pengobatan penyakit keganasan serta transplantasi organ.

Gambaran Patogenesis

Dalam keadaan sehat, paru tidak akan terjadi pertumbuhan mikroorganisme, keadan ini disebabkan oleh adanya mekanismer pertahanan paru. Terdapatnya bakteri di dalam paru merupakan akibat ketidakseimbangan antara daya than tubuh, mikroorganisme, serta lingkuingan sesampai mikroorganisme dapat berkembang biak serta berakibat timbulnya sakit.

Masuknya mikroorganisme ke saluran nafas serta paru dapat melalui berbagai cara, yaitu :
  • Inhalsi langsung dare udara
  • Aspirasi dare bahan-bahan yang ada di nasofaring serta orfaring
  • Perluasan langsung dare tempat-tempat lain
  • Penyebaran secara hematogen

Gambaran patologis dalam batas-batas tertentu, tergantung pada penyebabnya. Di antaranya yaitu :

1. Pneumonia bakteri

Ditandai oleh eksudat intra alveolar supuratif disertai konsolidasi. Proses infeksi dapat diklasifikasikan berdasarkan anatomi. Terdapat konsolidasi dare seluruh lobus pada pneumonia lobaris, sedangkan pneumonia lobularis atau broncopneumonia menunjukkan penyebaran daerah infeksi yang berbecak dengan diameter sekitar 3-4 cm, mengelilingi serta mengenai broncus.

2. Pneumonia Pneumokokus

Pneumokokus mencapai alveolus-alveolus dalam bentuk percikan mucus atau saliva. Lobus paru bawah paling sering terserrang, karena pengaruh gaya tarik bumi. Bila sudah mencapai serta menetap di alveolus, maka pneumokokus menimbulkan patologis yang khas yang terdiri dare 4 stadium yang berurutan :
  • kongesti (4-12 jam pertama)eksudat serusa masuk dalam alveolus-alveolus dare pembuluh darah yang bocor serta dilatasi
  • hepatisasi merah (48 jam berikutnya) paru-paru tampak merah serta tampak bergranula karena sel darah merah, fibrin, serta leukosit polimorfonuklear mengisi alveolus-alveolus
  • hepatisasi kelabu (3-8 hari) paru-parub tampak abu-abu karena leukosit serta fibrin mengalami konsolidasi dalam alveolus yang terserang.
  • Resolusi (7-11 hari) eksudat mengalami lisis serta direabsorbsi oleh mikrofag sesampai jaringan kembali pada strukturnya semula.

Timbulnya pneumonia pneumokokus merupakan suatu kejadian yang tiba-tiba, disertai menggigil, demam, rasa sakit pleuritik, batuk serta sputum yang berwarna seperti karat. Pneumonia pneumokokus biasanya tidak disertai komplikasi serta jaringan yang rusak dapat diperbaiki kemabali. Komplikasi tentang sering terjadi adalah efusi plura ringan. Adanya bakterimia mempengaruhi prognosis pneumonia. Adanya bakterimia menduga adanya lokalisasi proses paru-paru yang tidak efektif. Akibat bakterimia mungkin berupa lesi metastatik yang dapat mengakibatkan keadaan seperti meningitis, endokariditis bacterial serta peritonitis. Sudah ada vaksin untuk merlawan pneumonia pneumokokus. Biasanya diberikan pada mereka yang memiliki resiko fatal yang tinggi, seperti anemia sickle-sell, multiple mietoma, sindroma nefrotik, atau diabetes mellitus.

3. Pneumonia Stafilokokus

Mempunyai prognosis jelek meskipun diobati dengan antibiotika. Pneumonia ini menimbulkan kerusakan parenkim paru-paru yang berat serta sering timbul komplikasi seperti abses paru-paru serta empiema. Merupakan infeksi sekunder yang sering menyerang pasien yang dirawat di rumah sakit, pasien lemah serta paling sering menyebabkan broncopneumonia.

4. Pneumonia Klebsiella / Friedlander

Penderita ini berhasil mempertahankan hidupnya, akhirnya menderita pneumonia kronik disertai obstruksi progresif paru-paru yang akhirnya menimbulkan kelumpuhan pernafasannya. Jenis ini yang khas yaitu, pembentukan sputum kental seperti sele kismis merah (red currant jelly). Kebanyakan terjadi pada lelaki usia pertengahan atau tua, pecandu alcohol kronik atau yang menderita penyakit kronik lainnya.

5. Pneumonia pseudomonas

Sering ditemukan pada orang yang sakit parah yang dirawat di rumah sakit atau yang mnenderita supresi system pertahanan tubuh (misalnya mereka yang menderita leukemia atau transplantasi ginjal yang menerima obat imunosupresif dosis tinggi). Seringkali disebabkan karena terkontaminasi peralatan ventilasi.

6. Pneumonia Virus

Ditandai dengan peradangan interstisial disertai penimbunan infiltrat dalam dinding alveolus meskipun rongga alveolar sendiri bebas dare eksudat serta tidak ada konsolidasi. Pneumonia virus 50 % dare semua pneuminia akut ditandai oleh gejala sakit kepala, demam serta rasa sakit pada otot-otot yang menyeluruh, rasa lelah sekali serta batuk kering. Kebanyakan pneumonia ini ringan serta tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit serta tidak mengakibatkan kerusakan paru-paru yang permanen. Pengobatan pneumonia virus bersifat sympomatik serta paliatif, karena antibiotik tidak efektif terhadap virus. Juga dapat mengakibatkan pneumonitis berbecak yang fatal atau pneumonitis difus.

7. Pneumonia Mikoplasma

Serupa dengan pneumonia virus influenza, disertai adanya pneumonitis interstitial. Sangat mudah menular tidak seperti pneumonia virus, dapat memberikan respon terhadap tetrasiklin atau eritromisin.

8. Pneumonia Aspirasi

Merupakan pneumonia yang disebabkan oleh aspirasi isi lambung. Pneumonia yang diakibatkannya sebagian bersifat kimia, karena diakibatkan oleh reaksi terhadap asam lambung, serta sebagian bersifat bacterial, karena disebabkan oleh organisme yang mendiami mulut atau lambung. Aspirasi paling sering terjadi selama atau sesudah anestesi (terutama pada pasien obstretik serta pembedahan darurat karena kurang persiapan pembedahan), pada anak-anak serta pada setiap pasien yang disertai penekanan reflek batuk atau reflek muntah. Inhalasi isi lambung dalam jumlah yang cukup banyak dapat menimbulkan kematian yang tiba-tiba, karena adanya obstruksi, sedangkan aspirasi isi lambung dalam jumlah yang sedikit dapat mengakibatkan oedema paru-paru yang menyebar luas serta kegagalan pernafasan. Beratnya respon peradangan lebih tergantung dare pH dare zaat yang diaspirasikan. Aspirasi pneumonia selalu terjadi apabila pH serta zat yang diaspirasi 2,5 atau kurang. Aspirasi pneumpnia sering menimbulkan kompliokasi abses, bronchiectase, serta gangrean. Muntah bukan sarat masuknya isi lambung kedalam cabang tracheobronchial, karena regurgitasi dapat juga terjadi secara diam-diam pada pasien yang diberi anestesi. Paling penting pasien harus ditempatkan pada posisi yang tepat supaya secret orofarengeal dapat keluar dare mulut.

9. Pneumonia Hypostatik

Pneumonia yang sering timbul pada dasar paru yang disebabkan oleh nafas yang sertagkal serta terus menerus dalam posisi yang sama.

Daya tarik bumi menyebabkan darah tertimbun pada bagian bawah paru serta infeksi membantu timbulnya pneumonia yang sesungguhnya

10. Pneumonia Jamur

Tidak sesering bakteri. Beberapa jamur dapat menyebabkan penyakit paru supuratif granulomentosa yang seringkali disalah tafsirkan sebagai TBC. Banyak dare infeksi jamur bersifat endemic pada daerah tertentu. Contohnya di US, hystoplasmosis (barat bagian tengah serta timur), koksibiodomikosis (barat daya) serta blastomikosis (tenggara). Spora jamur ini ditemukan dalam tanah serta terinhalasi. Spora yang terbawa masuk kebagian paru yang lebih difagositosis terjadi reaksi peradangan disertai pembentukan kaverne. Semua perubahan patologis ini mirip sekali dengan TBC sesampai perbedaan kurang dapat ditentukan dengan menemukan serta pembiakan jamur dare jaringan paru.tes serologi serta tes hypersensitifitas kulit yang lambat belum menunjukan tanda positif sampai beberapa minggu sesudah terjadi infeksi, bahkan pada penyakit yang berat tes mungkin negatif. Pneumonia jamur sering menimbulkan komplikasi pada stadium terakhir penyakit tersebut, terutama pada penyakit yang sangat berat, misalnya Ca atau leukemia, candida alicans adalah sejenis ragi yang sering ditemukan pada sputum orang yang sehat serta dapat menyerang jaringan paru. Penggunaan antibiotik yang lama juga dapat mengubah flora normal tubuh serta memungkinkan infasi candida. Amfotinsin B merupakan obat terpilih untuk infeksi jamur pada paru. 


Patofisiologi

Pneumonia bakterial menyerang baik ventilasi maupun difusi. Suatu reaksi inflamasi yang dilakukan oleh pneumokokus terjadi pada alveoli serta menghasilkan eksudat, yang mengganggu gerakan serta difusi oksigen serta karbon dioksida. Sel-sel darah putih, kebanyakan neutrofil, juga bermigrasi ke dalam alveoli serta memenuhi ruang yang biasanya mengandung udara. Area paru tidak mendapat ventilasi yang cukup karena sekresi, edema mukosa, serta bronkospasme, menyebabkan oklusi parsial bronki atau alveoli dengan mengakibatkan penurunan tahanan oksigen alveolar. Darah vena yang memasuki paru-paru lewat melalui area yang kurang terventilasi serta keluar ke sisi kiri jantung tanpa mengalami oksigenasi. Pada pokoknya, darah terpirau dari sisi kanan ke sisi kiri jantung. Percampuran darah yang teroksigenasi serta tidak teroksigenasi ini akhirnya mengakibatkan hipoksemia arterial.

Sindrom Pneumonia Atipikal. Pneumonia yang berkaitan dengan mikoplasma, fungus, klamidia, demam-Q, penyakit Legionnaires’. Pneumocystis carinii, serta virus termasuk ke dalam sindrom pneumonia atipikal.

Pneumonia mikoplasma adalah penyebab pneumonia atipikal primer yang paling umum. Mikoplasma adalah organisme kecil yang dikelilingi oleh membran berlapis tiga tanpa dinding sel. Organisme ini tumbuh pada media kultur khusus tetapi berbeda dari virus. Pneumonia mikoplasma paling sering terjadi pada anak-anak yang sudah besar serta dewasa muda.

Pneumonia kemungkinan ditularkan oleh droplet pernapasan yang terinfeksi, melalui kontak dari individu ke individu. Pasien dapat diperiksa terhadap antibodi mikoplasma.

Inflamasi infiltrat lebih kepada interstisial ketimbang alveolar. Pneumonia ini menyebar ke seluruh saluran pernapasan, termasuk bronkiolus. Secara umum, pneumonia ini memiliki ciri-ciri bronkopneumonia. Sakit telinga serta miringitis bulous merupakan hal yang umum terjadi. Pneumonia atipikal dapat menimbulkan masalah-masalah yang sama baik dalam ventilasi maupun difusi seperti yang diuraikan dalam pneumonia bakterial.

Fathway


Untuk file fathway dalam bentuk ms word dapat edit silahkan ambil DISINI




Pemeriksaan Laboratorium


Pada pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan jumlah leucosit, biasanya > 10.000/┬Ál kadang mencapai 30.000 bila disebabkan virus atau mikoplasma jumlah leucosit dapat normal, atau menurun serta pada hitung jenis leucosit terdapat pergeseran kekiri juga terjadi peningkatan LED. Kultur darah dapat positif pada 20 – 25 pada penderita yang tidak diobatai. Kadang didapatkan peningkatan ureum darah, akan tetapi kteatinin masih dalah batas normal. Analisis gas darah menunjukan hypoksemia serta hypercardia, pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis respiratorik.




Gambaran Radiologi


Foto toraks merupakan pemeriksaan penunjang yang sangat penting. Foto toraks saja tidak dapat secara khas menentukan penyebab pneumonia, hanya merupakan petunjuk kearah diagnosis etiologi. Gambaran konsolidasi dengan air bronchogram (pneumonia lobaris), tersering disebabkan oleh streptococcus pneumonia. Gambaran radiologis pada pneumonia yang disebabkan clebsibella sering menunjukan  adanya konsolidasi yang terjadi pada lobus atas kanan, kadang dapat mengenai beberapa lobus. Gambaran lainya dapat berupa bercak daan cavitas. Kelainan radiologis lain yang khas yaitu penebalan (bulging) fisura inter lobar. Pneumonia yang disebabkan kuman pseudomonas sering memperlihatkan adanya infiltrasi bilateral atau gambaran bronchopneumonia. Firus serta mycoplasma sering menyebabkan pneumonia interstisial terutama radang sptum alveola. Pada pemeriksaan radiologis terlihat gambaran retikuler yang difus.

Penatalaksanaan
  1. Koreksi kelainan yang mendasari.
  2. Tirah baring.
  3. Obat-obat simptomatis seperti: parasetamol (pada hipereksia), morfin (pada nyeri hebat).
  4. Jaga keseimbangan cairan serta elektrolit dengan batuan infus, dekstrose 5%,normal salin atau RL.
  5. Pemilihan obat-obat anti infeksi: tergantung kuman penyebab.
  6. Pertahankan jalan nafas
  7. oksigenasi

Konsep Asuhan Keperawatan Pneumonia

Pengkajian

Aktivitas/istirahat
  • Gejala: Kelemahan, kelelahan, insomnia.
  • Tanda: Letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.

Sirkulasi
  • Gejala: Riwayat adany/GJK kronis.
  • Tanda: Takikardia, penampilan kemerahan atau pucat.

Integritas ego
  • Gejala: Banyaknya stresor, masalah finansial.

Makanan/cairan
  • Gejala: Kehilangan nafsu makan, mual/muntah, riwayat diabetes melitus.
  • Tanda: Distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan kakeksia (malnutrisi).

Neurosensori
  • Gejala: Sakit kepala daerah frontal (influenza).
  • Tanda: Perubahan mental (bingung, somnolen).

Nyeri/keamanan
  • Gejala: Sakit kepala, nyeri dada (pleuritik), meningkat oleh batuk; nyeri dada substernal (influenza), mialgia, artralgia.
  • Tanda: Melindungi area yang sakit (pasien umumnya tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan).

Pernapasan
  • Gejala: Riwayat adanya/ISK kronis, PPOM, merokok sigaret, takpnea, dispnea progresif, pernapasan sertagkal, penggunaan otot aksesori, pelebaran nasal.
  • Tanda: Sputum: merah muda, berkarat, atau purulen, perkusi: pekak di atas area yang konsolidasi, fremitus: taktil serta vokal bertahap meningkat dengan konsolidasi, gesekan friksi pleural, bunyi napas: menurun atau tak ada di atas area yang terlibat, atau napas bronkial, warna: pucat atau sianosis bibir/kuku.

Keamanan
  • Gejala: Riwayat gangguan sistem imun, mis: SLE, AIDS, penggunaan steroid atau kemoterapi, institusionalisasi, ketidakmampuan umum, demam (mis: 38, 5-39,6oC).
  • Tanda: Berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan mungkin ada pada kasus rubeola atau varisela.

Penyuluhan/pembelajaran
  • Gejala: Riwayat mengalami pembedahan; penggunaan alkohol kronis. 
  • Pertimbangan: DRG menunjukkan rerata lama dirawat: 6,8 hari. 
  • Rencana pemulangan: Bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah, oksigen mungkin diperlukan bila ada kondisi pencetus.

Diagnosa Keperawatan

  1. Bersihan jalan nafas tidak efektif  berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum. (Doenges, 1999 : 166)
  2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler, gangguan kapasitas pembawa aksigen darah, ganggguan pengiriman oksigen. (Doenges, 1999 : 166)
  3. Pola nafas tidak efektif  berhubungan dengan proses inflamasi dalam alveoli. (Doenges, 1999 :177)
  4. Gangguan keseimbangan cairan serta elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih, penurunan masukan oral. (Doenges, 1999 : 172)
  5. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam serta proses infeksi, anoreksia yang berhubungan dengan toksin bakteri bau serta rasa sputum, distensi abdomen atau gas.( Doenges, 1999 : 171)
  6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktifitas sehari-hari. (Doenges, 1999 : 170)

Intervensi

Diagnosa.1

Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum

Tujuan :
  • Jalan nafas efektif dengan bunyi nafas bersih serta jelas
  • Pasien dapat melakukan batuk efektif untuk mengeluarkan sekret
Hasil yang diharapkan :
  • Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/ jelas
  • Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas 
  • Misalnya: batuk efektif serta mengeluarkan sekret.
Intervensi :
  • Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas. Misalnya: mengi, krekels serta ronki. Rasional: Bersihan jalan nafas yang tidak efektif dapat dimanifestasikan dengan adanya bunyi nafas adventisius
  • Kaji/ pantau frekuensi pernafasan, catat rasio inspirasi/ ekspirasi. Rasional: Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat serta dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stres/ adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat melambat serta frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
  • Berikan posisi yang nyaman buat pasien, misalnya posisi semi fowler. Rasional: Posisi semi fowler akan mempermudah pasien untuk bernafas
  • Dorong/ bantu latihan nafas abdomen atau bibir. Rasional: Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi serta mengontrol dipsnea serta menurunkan jebakan udara
  • Observasi karakteristik batik, bantu tindakan untuk memoerbaiki keefektifan upaya batuk. Rasional: Batuk dapat menetap, tetapi tidak efektif. Batuk paling efektif pada posisi duduk tinggi atau kepala di bawah setelah perkusi dada.
  • Berikan air hangat sesuai toleransi jantung. Rasional: Hidrasi menurunkan kekentalan sekret serta mempermudah pengeluaran.

Diagnosa. 2

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler, gangguan kapasitas pembawa oksigen darah, gangguan pengiriman oksigen.

Tujuan :
  • Perbaikan ventilasi serta oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal serta tidak ada distres pernafasan.
Hasil yang diharapkan :
  • Menunjukkan adanya perbaikan ventilasi serta oksigenasi jaringan
  • Berpartisispasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi
Intervensi :
  • kaji frekuensi, kedalaman, serta kemudahan pernafasan. Rasional :Manifestasi distres pernafasan tergantung pada derajat keterlibatan paru serta status kesehatan umum
  • Observasi warna kulit, membran mukosa serta kuku. Catat adanya sianosis. Rasional :Sianosis menunjukkan vasokontriksi atau respon tubuh terhadap demam/ menggigil serta terjadi hipoksemia.
  • Kaji status mental. Rasional :Gelisah, mudah terangsang, bingung dapat menunjukkan hipoksemia.
  • Awsi frekuensi jantung/ irama. Rasional :Takikardi biasanya ada karena akibat adanya demam/ dehidrasi.
  • Awasi suhu tubuh. Bantu tindakan kenyamanan untuk mengurangi demam serta menggigil. Rasional :Demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan metabolik serta kebutuhan oksigen serta mengganggu oksigenasi seluler.
  • Tinggikan kepala serta dorong sering mengubah posisi, nafas dalam, serta batuk efektif. Rasional :Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan pengeluaran sekret untuk memperbaiaki ventilasi.
  • Kolaborasi pemberian oksigen dengan benar sesuai dengan indikasi. Rasional :Mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg.

Diagnosa. 3

Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi dalam alveoli

Tujuan:
  • Pola nafas efektif dengan frekuensi serta kedalaman dalam rentang normal serta paru jelas/ bersih
Intervensi :
  • Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan serta ekspansi dada. Rasional :Kecepatan biasanya meningkat, dispnea, serta terjadi peningkatan kerja nafas, kedalaman bervariasi, ekspansi dada terbatas.
  • Auskultasi bunyi nafas serta catat adanya bunyi nafas adventisius. Rasional :Bunyi nafas menurun/ tidak ada bila jalan nafas terdapat obstruksi kecil.
  • Tinggikan kepala serta bentu mengubah posisi. Rasional :Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru serta memudahkan pernafasan.
  • Observasi pola batuk serta karakter sekret. Rasional :Batuk biasanya mengeluarkan sputum serta mengindikasikan adanya kelainan.
  • Bantu pasien untuk nafas dalam serta latihan batuk efektif. Rasional :Dapat meningkatkan pengeluaran sputum.
  • Kolaborasi pemberian oksigen tambahan. Rasional :Memaksimalkan bernafas serta menurunkan kerja nafas.
  • Berikan humidifikasi tambahan. Rasional :Memberikan kelembaban pada membran mukosa serta membantu pengenceran sekret untuk memudahkan pembersihan.
  • Bantu fisioterapi dada, postural drainage. Rasional :Memudahkan upaya pernafasan serta meningkatkan drainage sekret dari segmen paru ke dalam bronkus.

Diagnosa. 4

Gangguan keseimbangan cairan serta elektrolit berhubungan dengan kehilngan cairan berlebih, penurunan masukan oral.

Tujuan : Menunjukkan keseimbangan cairan serta elektrolit

Intervensi :
  • Kaji perubahan tanda vital, contoh :peningkatan suhu, takikardi,, hipotensi. Rasional :Untuk menunjukkan adnya kekurangan cairan sisitemik
  • Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa (bibir, lidah). Rasional :Indikator langsung keadekuatan masukan cairan
  • Catat lapporan mual/ muntah. Rasional :Adanya gejala ini menurunkan masukan oral
  • Pantau masukan serta haluaran urine. Rasional :Memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan serta kebutuhan penggantian
  • Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi. Rasional :Memperbaiki ststus kesehatan

Diagnosa. 5

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam serta proses infeksi, anoreksia, distensi abdomen.

Tujuan :
  • Menunjukkan peningkatan nafsu makan
  • Mempertahankan/ meningkatkan berat badan
Intervensi :
  • Identifikasi faktor yang menimbulkan mual/ muntah. Rasional :Pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah
  • Berikan wadah tertutup untuk sputum serta buang sesering mungkin, bantu kebersihan mulut. Rasional :Menghilangkan bahaya, rasa, bau,dari lingkungan pasien serta dapat menurunkan mual.
  • Jadwalkan pengobatan pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan. Rasional :Menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini.
  • Auskultasi bunyi usus, observasi/ palpasi distensi abdomen. Rasional :Bunyi usus mungkin menurun bila proses infeksi berat, distensi abdomen terjadi sebagai akibat menelan udara serta menunjukkan pengaruh toksin bakteri pada saluran gastro intestinal
  • Berikan makan porsi kecil serta sering termasuk makanan kering atau makanan yang menarik untuk pasien. Rasional :Tindakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali
  • Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar. Rasional :Adanya kondisi kronis dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap infeksi, atau lambatnya responterhadap terapi 

Diagnosa. 6

Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktifitas hidup sehari-hari.

Tujuan : Peningkatan toleransi terhadap aktifitas.

Intervensi :
  • Evakuasi respon pasien terhadap aktivitas. Rasional :Menetapkan kemampuan/ kebutuhan pasien serta memudahkan pilihan intervensi 
  • Berikan lingkungan yang tenang serta batasi pengunjung selama fase akut. Rasional :Menurunkan stres serta rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat
  • Jelaskan pentingnya istitahat dalam rencana pengobatan serta perlunya keseimbamgan aktivitas serta istirahat. Rasional :Tirah baring dipertahankan untuk menurunkan kebutuhan metabolik
  • Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. Rasional :Meminimalkan kelelahan serta membantu keseimbangan suplai serta kebutuhan oksigen

Daftar Pustaka
  • Barbara Engram (1998), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal – Bedah Jilid I, Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
  • Barbara C. Long (1996), Perawatan Medikal Bedah: Suatu Pendekatan Proses Keperawatan, The C.V Mosby Company St. Louis, USA.
  • Hudak & Gallo (1997), Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik Volume I, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta.
  • Jan Tambayonmg (2000), Patofisiologi Unutk Keperawatan, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta.
  • Marylin E. Doenges (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan serta Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta.
  • Sylvia A. Price (1995), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 4 Buku 2, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta
  • Guyton & Hall (1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta
Silahkan download file laporan pendahuluan pneumonia lengkap format doc serta pdf melalui link dibawah :
Link Alternatif
Demikian Laporan pendahuluan Pneumonia lengkap, pdf serta doc semoga dapat membantu teman sejawat sekalian. terima kasih

0 Response to "Laporan Pendahuluan / LP Pneumonia Lengkap, Download pdf serta doc"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel