Laporan Pendahuluan / LP Trauma Kandung Kemih / Bladder Lengkap, Download Pdf serta Doc

Kami bagikan laporan pendahuluan trauma kandung kemih/bladder pdf serta doc.

Sahabat perawat dimanapun berada, semoga dalam keadaan sehat selalu, laporan pendahuluan merupakan tugas rutin bagi seorang perawat yang sedang menjalani proses akademik, khususnya bagi teman-teman yang sedang menjalani proses keprofesian LP merupakan tugas yang harus diibuat setiap stase bahkan ada juga yang setiap hari harus mengumpulkan LP.

Bertujuan teman-teman perawat dalam pembuatan LP disini kami coba bagikan laporan pendahuluan lengkap yang kami sediakan dalam bentuk file pdf serta doc. Untuk postingan kali ini kami coba share laporan pendahuluan trauma kandung kemih / bladder lengkap serta tentu saja dalam format pdf serta doc.

Laporan pendahuluan trauma bladder ini telah kami susun selengkap mungkin serta sesuai dengan format lp yang telah ditentukan

Laporan pendahuluan trauma bladder ini kami sabilan dalam dalam format pdf serta doc yang file nya dapat teman-teman download melalui link unduhan yang telah kami sediakan diakhir artikel ini.

Laporan pendahuluan trauma kandung kemih / Bladder


Pengertian
      
Trauma bladder adalah rusaknya kandung kencing (organ yang menampung urin dari ginjal) atau uretra (saluran yang menghubungkan kandung kencing dengan dunia luar. (H Winter Griffith M D).
      
Trauma bladder merupakan keadaan darurat bedah yang memerlukan penatalaksanaan segera. Bila tidak ditanggulangi dengan segera dapat menimbulkan komplikasi seperti peritonitis serta sepsis. (L Samsudin Wim de Jong, hal:1039).
      
Trauma kandung kemih adalah cidera yang terjadi pada kandung kemih yang diakibatkan oleh kecelakaan atau trauma iatrogenik (Salam, 2013).
                
Trauma kandung kemih adalah trauma yang terjadi pada kandung kemih (vesica urinaria) yang diakibatkan patahnya tulang panggul serta beberapa hantaman keras ke arah abdomen bagian bawah ketika kandung kemih terisi penuh (Smeltzer & Bare, 2001).
                
Cedera kandung kemih adalah cedera pada kandung kemih yang terjadi akibat trauma tumpul serta penetrasi serta bervariasi menurut isi kandung kemih sesampai bila kandung kemih penuh akan lebih mungkin untuk menjadi terluka dari pada saat kosong (Mutaqqin & Sari, 2011).
           
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa trauma kandung kemih adalah trauma yang menciderai kandung kemih yang terjadi diakibatkan oleh trauma tumpul serta trauma tajam baik itu oleh kecelakaan ataupun trauma iatrogenik (kesalahan medis).
      

Etiologi

Penyebab utama cedera kandung kemih / bladder adalah trauma penetrasi (tajam) serta trauma tumpul. Penyebab iatrogenik termasuk pasca intervensi bedah dari ginekologi, urologi, serta operasi ortopedi didekat kandung kemih. Penyebab lain melibatkan trauma obstetri pada saat melahirkan (Mutaqqin & Sari, 2011).

Trauma kandung kemih / bladder terutama terjadi akibat trauma tumpul pada panggul, tetapi dapat  juga  karena trauma tembus seperti luka tembak serta luka tusuk oleh senjata tajam. Pecahan – pecahan tulang yang berasal dari fraktura dapat menusuk kandung kemi. Tetapi ruptura kandung  kemih yang khas ialah akibat trauma tumpul panggul atas kandung kemih yang terisi penuh. Tenaga mendadak atas masa urin yang terbendung di dalam kandung kemih menyebabkan rupture. Perforasi iatrogen pada kanndung kemih tterdapat pada reseksitransurtral, sistoskopi atau karena manipulasi dengan peralatan pada kandung kemih ( Scholtmeijer & Schroder, 1996 ).

Kurang lebih 90% trauma tumpul buli-buli adalah akibat fraktur pelvis. Fiksasi buli-buli pada tulang pelvis oleh fasia endopelvik serta diafragma pelvis sangat kuat sesampai cedera deselerasi terutama bila titik fiksasi fasia bergerak pada arah berlawanan (seperti pada fraktur pelvis), dapat merobek buli-buli. Robeknya buli-buli karena fraktur pelvis dapat pula terjadi akibat fragmen tulang pelvis merobek dindingnya (Purnomo, 2007).


Klasifikasi

Menurut Purnomo, 2007 Secara klinis cedera buli-buli dibedakan menjadi kontusio buli-buli, cedera buli-buli ekstra peritoneal, serta cedera intra peritoneal. Pada kontusio buli-buli hanya terdapat memar pada dindingnya, mungkin didapatkan hematoma perivesikal, tetapi tidak didapatkan ekstravasasi urine ke luar buli-buli.

Cedera intraperitoneal merupakan 25-45% dari seluruh trauma buli-buli, sedangkan kejadian cedera buli-buli ekstraperitoneal kurang lebih 45-60% dari seluruh trauma buli-buli. Kadang-kadang cedera buli-buli intraperitoneal bersama cedera ekstraperitoneal (2-12%). Jika tidak mendapatkan perawatan dengan segera 10-20% cedera buli-buli akan berakibat kematian karena peritonitis atau sepsis.

1.    Ruptur intraperitoneal          

Peritoneum pariental, simfisis, promantorium, cedera dinding perut yang mengakibatkan rupture intraperitoneal kandung kemih yang penuh, tidak terdapat perdarahan retroperitoneal kandung kemih yang penuh, tidak terdapat perdarahan retroperitoneal kecuali bila disebabkan patah tulang pinggul.

2.    Ruptur retroperitoneal

Peritoneum parietal, simfisis, promantorium, cedera panggul yang menyebabkan patah tulang sesampai terjadi rupture buli-buli retro atau intraperitoneal. Darah serta urin dijaringan lunak diluar rongga perut, perut terbebas darah serta urin (Sjamsuhidayat, 1998).


Patofisiologi
      
Secara anatomik kandung kemih atau bladder terletak di dalam rongga pelvis dilindungi oleh tulang pelvis sesampai jarang mengalami cidera. Ruda paksa kandung kemih karena kecelakaan lau lintas atau kecelakaan kerja dapat menyebabkan fragmen patah tulang pevis sesampai mencederai buli-buli. Jika fraktur tulang panggul dapat menimbulkan kontusio atau ruptur kandung kemih, tetapi hanya terjadi memar pada dinding buli-buli dengan hematuria tanpa ekstravasasi urin. Rudapaksa tumptul juga dapat menyebabkan ruptur buli-buli terutama bia kandung kemih penuh atau terdapat kelainan patologik seperti tuberculosis, tumor atau obstruksi sesampai rudapaksa kecil menyebabkan ruptur.
      
Pathways


Untuk mendownload fathway trauma bladder format doc, DISINI


Manifestasi Klinis
  • Umumnya fraktur tulang pelvis disertai perdarahan hebat sesampai jarang penderita datang dalam keadaan anemik bahkan sampai syok.
  • Pada abdomen bagian bawah tampak jejas atau hematom serta terdapat nyeri tekan pada daerah supra pubik di tempat hematom.
  • Pada ruptur buli-buli intraperitonial urin masuk ke rongga peritonial sesampai memberi tanda cairan intra abdomen serta rangsangan peritonial.
  • Lesi ekstra peritonial memberikan gejala serta tanda infiltrat urin di rongga peritonial yang sering menyebabkan septisemia.
  • Penderita mengeluh tidak dapat buang air kecil, kadang keluar darah dari uretra.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang berguna untuk konfirmasi diagnosis serta menyingkirkan diagnosis banding. Berikut adalah pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada trauma kandung kemih :

1.    Uroflowmetri

Uroflowmetri adalah alat untuk mengetahui pancaran urin secara obyektif. Derasnya pancaran diukur dengan membagi volume urin saat berkemih, dibagi dengan lama proses berkemih. Kecepatan pancaran normal adalah 20 ml/detik. Jika kecepatan pancaran <10 ml/detik menandakan adanya obstruksi.

2.    Uretrigram Retrograde

Dilakukan uretrigram retrograde untuk mengevaluasi cedera uretral. Klien dilakukan kateterisasi setelah uretrogram untuk meminimalkan risiko gangguan uretral serta komplikasi jangka panjang yang luas, seperti striktur, inkontinensia (tidak dapat menahan berkemih) serta impoten.

3.    USG (Ultrasonografi)

USG cukup berguna dalam mengevaluasi striktur pada pars bulbosa. Dengan alat ini kita juga dapat mengevaluasi panjang striktur serta derajat luas jaringan parut, contohnya spongiofibrosis. Ini membantu kita memilih jenis tindakan operasi yang akan dilakukan kepada pasien. Kita dapat mengetahui jumlah residual urin serta panjang striktur secara nyata, sesampai meningkatkan keakuratan saat operasi

4.    MRI (Magneting Resonance Imaging)

MRI sebaiknya dilakukan sebelum operasi karena dapat mengukur secara pasti panjang striktur, derajat fibrosis, serta pembesaran prostat. Namun, alat ini belum tersedia secara luas serta biayanya sangat mahal sesampai jarang digunakan (Suharyanto, 2009).


Penataksanaan

Sistografi

Sistografi yaitu dengan memasukkan kontras ke dalam buli-buli sebanyak 300-400 ml secara gravitasi (tanpa tekanan) melalui kateter per-uretram. Kemudian dibuat beberapa foto, yaitu (1) foto pada saat buli-buli terisi kontras dalam posisi anterior-posterior (AP), (2) pada posisi oblik, serta (3) wash out film yaitu foto setelah kontras dikeluarkan dari buli-buli.

Jika didapatkan robekan pada buli-buli, terlihat ekstravasasi kontras di dalam rongga perivesikal yang merupakan tanda adanya robekan ekstraperitoneal. Jika terdapat kontras yang berada di sela-sela usus berarti ada robekan buli-buli intraperitoneal. Pada perforasi yang kecil seringkali tidak tampak adanya ekstravasasi (negatif palsu) terutama bila kontras yang dimasukkan kurang dari 250 ml (Purnomo, 2007).

Penanganan ruptur traumatik kandung kemih meliputi:
  1. Bedah eksplorasi serta perbaikan laserasi
  2. Drainase suprapublik dari kandung kemih
  3. Memasang kateter urin
  4. Perawatan umum pasca bedah dipantau dengan ketat untuk menjamin drainase yang adekuat sampai terjadi penyembuhan. Pasien ruptur kandung kemih mungkin mengalami perdarahan hebat untuk beberapa hari setelah perbaikan (Suharyanto, 2009).

Konsep Asuhan Keperawatan

Pengkajian

 Anamnesa

1. Data demografi

Dapat meliputi nama, umur, agama, jenis kelamin, status pekerjaan, status perkawinan, pendidikan.

2. Keluhan Utama

Sering didapatkan adanya tanda serta gejala sepsis peritonitis akibat massuknya urine kedalam peritoneum.

Tanda-tanda klinis cedera kendung kemih relatife spesifik, trias gejala (gross hematuria, nyeri suprapubik, kesulitan atau ketidak mampuan untuk miksi).

3.      Riwayat Kesehatan keluarga

4.      Riwayat kesehatan sekarang
  • Hematuria,perubahan warna atau volume urine.
  • Adanya rasa nyeri: lokasi, kateter, durasi, serta faktor yang memicu.
  • Syok hipovolemik

Pemeriksaan fisik

1. Keadaan umum (GCS)
  • Ciri tubuh           : Kulit, rambut, postur tubuh.
  • Tanda vital         : Nadi, suhu tubuh, tekanan darah serta pernafasan.
2.        Head to toe
a. Kepala
  • Inspeksi : kesimetrisan kepala, trauma kepala.
  • Palpasi : Nyeri tekan di kepala.
b. Wajah
  • Inspeksi : Kesimetrisan bentuk wajah, edema, ketegangan, ketegangan.
  • Palpasi     : Nyeri tekan di wajah.
c. Mata
  • Inspeksi : kelopak mata edema, konjungtiva,  sklera.
d. Palpasi : Nyeri tekan pada bola mata Hidung
  • Inspeksi : Pernafasan cuping hidung, sekret, polip.
  • Palpasi    : Nyeri tekan.
e. Telinga
  • Inspeksi       : Bentuk telinga, serumen pada telinga, sekret.
  • Palpasi         : Nyeri tekan pada telinga.
f. Mulut
  • Inspeksi       : sianosis.
g. Leher
  • Inspeksi       : Bentuk leher, kesimetrisan, pembesaran kelenjar tiroid
  • Palpasi         : Nyeri tekan pada leher.
h. Dada
  • Inspeksi : Bentuk dada, pengembangan dada, frekuensi pernafasan.
  • Palpasi : Pengembangan paru pada inspirasi serta ekspirasi.
  • Perkusi : Ada/tidak penumpukan sekret, batas jantung serta paru.
  • Auskultasi : Bunyi parutambahan.
i. Payudara serta ketiak
  • Inspeksi : Bentuk, ada/tidak ada nyeri benjolan, gynecomasti.
  • Palpasi : Ada/tidak ada nyeri tekan, benjolan.
j. Adomen
  • Inspeksi : Distensi, iritasi peritoneal, warna kulit abdomen, penonjolan kandung kemih pada supra pubik,
  • Auskultasi : Penurunan bising usus.
  • Palpasi : nyeri supra simfisis, nyeri supra simfisis.
  • Perkusi : Ada/tidak ada distensi kandung kemih serta saluran cerna.
k. Genitalia
  • Inspeksi : hematoma perivesik, pembengakan, gross hematuria, anuria, sepsis peritonitis.
  • Palpasi : posisi prostat yang melayang  atau tidak, adanya ruptur pada uretra, nyeri suprapubik, kandung kemih terasa penuh
l. Integumen
  • Inspeksi : Warna kulit, turgor kulit.
  • Palpasi : Nyeri tekan pada kulit.
m. Ekstremitas

1. Atas :
  • Inspeksi : Warna kulit,pembengkakan,
  • Palpasi : Nyeri tekan, kekuatan otot, capilary refil.
2. Bawah :
  • Inspeksi : Warna kulit, bentuk kaki, pembengkakan.
  • Palpasi : Nyeri tekan, kekuatan otot.
n. Pemeriksaan Neurologis
  • Status mental serta emosi : Kesadaran, perilaku, mood, ekspresi wajah, bahasa, daya ingat jangka panjang, daya ingat jangka pendek, persepsi, orientasi terhadap orang, tempat, waktu, emosi (Muttaqin & Sari, 2011).

Diagnosa Keperawatan
  1. Inkontinensia berhubungan dengan obstruksi saluran kemih
  2. Resiko komplikasi infeksi berhubungan dengan tindakan kateterisasi
  3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan obstruksi kandung kemih

Rencana tindakan

Diagnosa keperawatan. 1 

Inkontinensia berhubungan dengan obstruksi saluran kemih

Intervensi:
  • pantau haluaran urin setiap 4 jam
  • berikan terapi kompres dingin untuk merangasang urin keluar
  • lakukan pemasangan kateter

Diagnosa keperawatan. 2

Resiko komplikasi infeksi berhubungan dengan tindakan kateterisasi

Intervensi:
  • pantau penampilan kulit sisi pemasangan kateter.
  • ikuti tindakan kewaspadaan umum (teknik mencuci tangan yang baik sebelum serta sesudah kontak langsung dengan pasien, memakai sarung tangan bila kontakl dengan darah atau cairan tubuh yang mungkin terjadi).
  • Konsul dokter bila terjadi kemerahan, bengkak serta drainase pada insisi atau sisi pemasangan kateter, disertai demam. Ambil specimen dari drainase untuk kultur. Berikan antibiotic yang diresepkan serta evaluasi keefektifannya.

Diagnosa keperawatan 3.

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan obstruksi kandung kemih

Intervensi
  • pantau haluaran urin terhadap perubahan warna, baud an pola berkemih
  • pantau masukan serta haluaran setiap 8 jam
  • pantau hasil urinalisis ulang
  • bila frekuensi menjadi masalah, jamin akses ke kamar mandi, pispot, tempat idur, tau bedpan. Anjurkan pasien untuk berkemih kapan saja sesuai keinginan.
  • kolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai dengan kebutuhan. 

Evaluasi

Evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Terdiri atas:

S: Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.

O: Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.

A: Analisis ulang atas data subjektif serta objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan masalah yang ada. Dapat pula membandingkan hasil dengan tujuan

P: Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisis pada respons klien yang terdiri dari tindak lanjut klien, serta tindak lanjut oleh perawat.


Daftar Pustaka
  • Sjamsuhidajat R, Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta EGC.
  • Eny B, 1994. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Vol 1. Jakarta EGC.
  • Emanuel A. Friedman, M. D.,Sc, Dkk. D. 1998. Seri Skema Diagnosis serta Penatalaksanaan GINEKOLOGI. Jakarta  Binarupa Aksara.
  • Baradero, Mary dkk. 2008. Seri Asuhan Keperawatan Klien  Gangguan Ginjal. Jakarta :EGC
  • Hohenfellner, M & Santucci, R.A. 2007. Emergencies in Urology. Heidelberg: Department of Urology Heidelberg University.
  • Louhin, Kevin R. 2007. Complication of Urologic Surgery and Practice. Massachusetts: Taylor & Francis Group.
  • Mutaqqin, Arif & Sari, Kumala. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.
  • Purnomo, Basuki B. 2007. Dasar – dasar Urologi Edisi Dua. Jakarta : CV Sagung Seto.
  • Prayogo, Budhy Wirantono. 2011. Hubungan antara Faktor Risiko Sepsis Obstetri dengan Kejadian Sepsis Berat serta Syok Sepsis di Departemen Obstetri serta Ginekologi, RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Surabaya. Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga.
  • Putranto, Rudi Hendro., dkk. 2014. Cynebacterium diphtheriae Diagnosis Laboratorium Bakteriologi. Jakarta: Pustaka obor
  • Salam, M.A et al. 2013. Principles and Practice of Urology, Vol. 1. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publisher.
  • Scholtmeijer, R.J.  & Schroder, F.H. 1996. Urologi untuk praktek umum. Jakarta: EGC
  • Sjamsuhidayat. 1998. Buku Ajar Bedah. Jakarta : EGC
  • Suharyanto, Toto. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta:TIM.
  • Wistara Widya, A. A., et al. 2013.“Diagnosis and Threatment of Urethral Stricture”. 
Untuk mendownload laporan pendahuluan trauma kandung kemih / Bladder pdf serta doc, dibawah :
  • Laporan pendahuluan trauma kandung kemih / Bladdder pdf, (Ambil File)
  • Laporan pendahuluan trauma kandung kemih / Bladder doc, (Ambil File)
Link Alternatif
Demikian laporan pendahuluan trauma kandung kemih / bladder lengkap, download format pdf serta doc kami bagikan, semoga dapat  membantu teman sejawat sekalian dalam pembuatan tugas askep, makalah ataupun lp, terima kasih.

0 Response to "Laporan Pendahuluan / LP Trauma Kandung Kemih / Bladder Lengkap, Download Pdf serta Doc"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel