Laporan Pendahuluan Stroke Hemoragik, pdf serta doc

Teman Sejawat dimanapun, postingan kali ini akan kami bagikan laporan pendahuluan stroke hemoragik.

laporan pendahuluan stroke hemoragik ini kami buat dengan lengkap, supaya dapat teman sejawat gunakan untuk membuat tugas keperawatan tanpa mencari refferensi lain, karena kami rasa lp stroke hemoragik yang kami sabilan kan ini sudah cukup.

lp ini kami bagikan dalam dua jenis file yaitu doc serta pdf.

untuk mendownload silahkan dibawah ini :
Untuk isi file yang kami bagikan lihat dibawah ini


Laporan Pendahuluan Stroke Hemoragik

Pengertian Stroke Hemoragik

Stroke menurut WHO merupakan suatu gangguan disfungsi neurologi akut yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah, serta terjadi secara mendadak (dalam beberapa detik) atau setidak-tidaknya secara cepat (dalam beberapa jam) dengan gejala-gejala serta tanda-tanda yang sesuai dengan daerah fokal otak yang terganggu (WHO, 1989).

Secara umum stroke merupakan defisit neurologis yang memiliki serangan mendadak serta berlangsung 24 jam sebagai akibat dari terganggunya pembuluh darah otak (Hudak serta Gallo, 1997).

Sedangkan stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh darah pada otak. Stroke hemoragik terjadi bila pembuluh darah di dalam otak pecah. Otak sangat sensitif terhadap perdarahan serta kerusakan dapat terjadi dengan sangat cepat. Pendarahan di dalam otak dapat mengganggu jaringan otak, sehinga menyebabkan pembengkakan, mengumpul menjadi sebuah massa yang disebut hematoma. Pendarahan juga meningkatkan tekanan pada otak serta menekan tulang tengkorak.

Stroke hemoragik adalah pembuluh darah otak yang pecah sesampai menghambat aliran darah yang normal serta darah merembes ke dalam suatu daerah di otak serta lalu merusaknya (M. Adib, 2009).

Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi karena pembuluh darah di otak pecah sesampai timbul iskhemik serta hipoksia di hilir. Penyebab stroke hemoragi antara lain: hipertensi, pecahnya aneurisma, malformasi arteri venosa. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, tetapi dapat juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun (Ria Artiani, 2009).

Dari beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa stroke hemoragik adalah salah satu jenis stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah diotak, sesampai darah tidak dapat mengalirkan nutrisi serta oksigen seperti semestinya serta otak mengalami hipoksia yang mengganggu kerja otak.


Etiologi Stroke Hemoragik

Penyebab Stroke hemoragik yang paling sering adalah tekanan darah tinggi yang menekan dinding arteri sampai pecah.

Penyebab lain terjadinya stroke hemoragik adalah :
  • Aneurisma, yang membuat titik lemah dalam dinding arteri, yang akhirnya dapat pecah.
  • Hubungan abnormal antara arteri serta vena, seperti kelainan arteriovenosa.
  • Kanker, terutama kanker yang menyebar ke otak dari organ jauh seperti payudara, kulit, serta tiroid.
  • Cerebral amyloid angiopathy, yang membentuk protein amiloid dalam dinding arteri di otak, yang membuat kemungkinan terjadi stroke lebih besar.
  • Kondisi atau obat (seperti aspirin atau warfarin).
  • Overdosis narkoba, seperti kokain.

Patofisiologi Stroke Hemoragik

Gangguan pasokan aliran darah otak dapat terjadi dimana saja di dalam arteri-arteri yang membentuk sirkulus Willisi : arteria karotis interna serta sistem vertebrobasilar atau semua cabang-cabangnya. Apabila aliran darah ke jaringan otak terputus selama 15-20 menit maka akan terjadi infark atau kematian jaringan. Akan tetapi dalam hal ini tidak semua oklusi di suatu arteri menyebabkan infark di daerah otak yang diperdarahi oleh arteri tersebut. Mungkin terdapat sirkulasi kolateral yang memadai di daerah tersebut.

Dapat juga karena keadaan penyakit pada pembuluh darah itu sendiri seperti aterosklerosis serta trombosis atau robeknya dinding pembuluh darah serta terjadi peradangan, berkurangnya perfusi akibat gangguan status aliran darah misalnya syok atau hiperviskositas darah, gangguan aliran darah akibat bekuan atau infeksi pembuluh ektrakranium serta ruptur vaskular dalam jaringan otak. (Sylvia A. Price serta Wilson, 2006).

Pathway Stoke Hemoragik

Pathway Stroke Hemoragik
Tanda serta Gejala Stroke Hemoragik

Tanda serta gejala yang ditimbulkan tergantng dari pembuluh darah otak yang mengalami kerusakan / pecah.

1. Daerah a. serebri media
  • Hemiplegi kontralateral, sering disertai hemianestesi
  • Hemianopsi homonim kontralateral
  • Afasi bila mengenai hemisfer dominan
  • Apraksi bila mengenai hemisfer nondominan
2. Daerah a. Karotis interna

Tanda serta gejala yang ditimbulkan sama dengan gejala yang ditimbulkan apabila mengenai a. serebri media.

3. Daerah a. Serebri anterior
  • Hemiplegi (dan hemianestesi) kontralateral terutama di tungkai
  • Incontinentia urinae
  • Afasi atau apraksi tergantung hemisfer mana yang terkena
4. Daerah a. Posterior
  • Hemianopsi homonim kontralateral mungkin tanpa mengenai
  • daerah makula karena daerah ini juga diperdarahi oleh a. Serebri media
  • Nyeri talamik spontan
  • Hemibalisme
  • Aleksi bila mengenai hemisfer dominan
5. Daerah vertebrobasiler
  • Sering fatal karena mengenai juga pusat-pusat vital di batang otak
  • Hemiplegi alternans atau tetraplegi
  • Kelumpuhan pseudobulbar (disartri, disfagi, emosi labil)

Pemeriksaan Fisik Stroke Hemoragik

Keadaan umum
  • Kesadaran: umumnya mengalami penurunan kesadaran
  • Suara bicara: kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak dapat bicara.
  • Tanda-tanda vital: tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi.
Pemeriksaan integument
  • Kulit: bila klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat serta bila kekurangan cairan maka turgor kulit akan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien stroke harus bed rest 2-3 minggu
  • Kuku: perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis
  • Rambut: umumnya tidak ada kelainan.
Pemeriksaan kepala serta leher
  • Kepala: bentuk normocephalik
  • Muka: umumnya tidak simetris yaitu miring ke salah satu sisi
  • Leher: kaku kuduk jarang terjadi.
Pemeriksaan dada
  • Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks batuk serta menelan.
Pemeriksaan abdomen
  • Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, serta kadang terdapat kembung.
Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus
  • Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine.
Pemeriksaan ekstremitas
  • Sering didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
Pemeriksaan neurologi:

Pemeriksaan nervus cranialis
  • Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII serta XII central.
Pemeriksaan motorik
  • Hampir selalu terjadi kelumpuhan/kelemahan pada salah satu sisi tubuh.
Pemeriksaan sensorik
  • Dapat terjadi hemihipestesi.
Pemeriksaan reflex
  • Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahului dengan refleks patologis.

Pemeriksaan Penunjang Stroke Hemoragik
  1. CT Scan : Memperlihatkan adanya edema , hematoma, iskemia serta adanya infark
  2. Angiografi serebral : membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri
  3. Pungsi Lumbal : menunjukan adanya tekanan normal, tekanan meningkat serta cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan
  4. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik.
  5. EEG: Memperlihatkan daerah lesi yang spesifik
  6. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena
  7. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal.(DoengesE, Marilynn,2000 hal 292).

Penatalaksanaan Stroke Hemoragik
  • Menurunkan kerusakan iskemik cerebral, Infark cerebral terdapat kehilangan secara mantap inti central jaringan otak, sekitar daerah itu mungkin ada jaringan yang masih dapat diselematkan, tindakan awal difokuskan untuk menyelematkan sebanyak mungkin area iskemik dengan memberikan O2, glukosa serta aliran darah yang adekuat dengan mengontrol / memperbaiki disritmia (irama serta frekuensi) serta tekanan darah. 
  • Mengendalikan hipertensi serta menurunkan TIK Dengan meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi serta rotasi kepala yang berlebihan, pemberian dexamethason. 
  • Pengobatan 
  1. Anti koagulan: Heparin untuk menurunkan kecederungan perdarahan pada fase akut. 
  2. Obat anti trombotik: Pemberian ini diharapkan mencegah peristiwa trombolitik/emobolik. 
  3. Diuretika : untuk menurunkan edema serebral 
  • Penatalaksanaan Pembedahan 
Endarterektomi karotis dilakukan untuk memeperbaiki peredaran darahotak. Penderita yang menjalani tindakan ini seringkali juga menderita beberapa penyulit seperti hipertensi, diabetes serta penyakit kardiovaskular yang luas. Tindakan ini dilakukan dengan anestesi umum sesampai saluran pernafasan serta kontrol ventilasi yang baik dapat dipertahankan.


Konplikasi Stroke Hemoragik
  • Hipoksia Serebral
  • Penurunan darah serebral
  • Luasnya area cedera, (Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131)

Konsep Asuhan Keperawatan Stroke Hemoragik

Pengkajian

1. Aktivitas serta istirahat

Data Subyektif:
  • kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis.
  • mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot )
Data obyektif:
  • Perubahan tingkat kesadaran
  • Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ) , kelemahan umum.
  • gangguan penglihatan
2. Sirkulasi

Data Subyektif:
  • Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung , endokarditis bacterial ), polisitemia.
Data obyektif:
  • Hipertensi arterial
  • Disritmia, perubahan EKG
  • Pulsasi : kemungkinan bervariasi
  • Denyut karotis, femoral serta arteri iliaka atau aorta abdominal
3. Integritas ego

Data Subyektif:
  • Perasaan tidak berdaya, hilang harapan
Data obyektif:
  • Emosi yang labil serta marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan
  • kesulitan berekspresi diri
4. Eliminasi

Data Subyektif:
  • Inkontinensia, anuria
  • Distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara usus( ileus paralitik )
5. Makan/ minum

Data Subyektif:
  • Nafsu makan hilang
  • Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK
  • Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia
  • Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah
Data obyektif:
  • Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum serta faring )
  • besitas ( factor resiko )
6. Sensori neural

Data Subyektif:
  • Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA )
  • nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid.
  • Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati
  • Penglihatan berkurang
  • Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas serta pada muka ipsilateral ( sisi yang sama )
  • Gangguan rasa pengecapan serta penciuman
Data obyektif:
  • Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) serta gangguan fungsi kognitif
  • Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke, genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam ( kontralateral )
  • Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )
  • Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif, global / kombinasi dari keduanya.
  • Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil
  • Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik
  • Reaksi serta ukuran pupil : tidak sama dilatasi serta tak bereaksi pada sisi ipsi lateral
7. Nyeri / kenyamanan

Data Subyektif:
  • Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya
Data obyektif:
  • Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial
8. Respirasi

Data Subyektif:
  • Perokok ( factor resiko )
Tanda:
  • Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas
  • Timbulnya pernapasan yang sulit serta / atau tak teratur
  • Suara nafas terdengar ronchi /aspirasi
9.Keamanan

Data obyektif:
  • Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan
  • Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat objek, hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit
  • Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, serta wajah yang pernah dikenali
  • Gangguan berespon terhadap panas, serta dingin/gangguan regulasi suhu tubuh
  • Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, berkurang kesadaran diri
10. Interaksi social

Data obyektif:
  • Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi
11. Pengajaran / pembelajaran

Data Subjektif :
  • Riwayat hipertensi keluarga, stroke
  • penggunaan kontrasepsi oral
12. Pertimbangan rencana pulang
  • menentukan regimen medikasi / penanganan terapi
  • bantuan untuk transportasi, shoping , menyiapkan makanan , perawatan diri serta pekerjaan rumah.(DoengesE, Marilynn,2000 hal 292)

Diagnosa Keperawatan

  1. Perubahan perfusi jaringan serebral b.d terputunya aliran darah : penyakit oklusi, perdarahan, spasme pembuluh darah serebral, edema serebral.
  2. Ketidakmampuan mobilitas fisik b.d kelemahan neuromuscular, ketidakmampuan dalam persespi kognitif.
  3. Gangguan komunikasi verbal b.d gangguan sirkulasi serebral, gangguan neuromuskuler, kehilangan tonus otot fasial / mulut, kelemahan umum / letih.
  4. Perubahan persepsi sensori b.d penerimaan perubahan sensori transmisi, perpaduan ( trauma / penurunan neurology), tekanan psikologis (penyempitan lapangan persepsi disebabkan oleh kecemasan).
  5. Kurang perawatan diri b.d kerusakan neuro muskuler, penurunan kekuatan serta ketahanan, kehilangan kontrol /koordinasi otot.
  6. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d kerusakan batuk, ketidakmampuan mengatasi lendir
  7. Gangguan pemenuhan nutrisi b.d reflek menelan turun,hilang rasa ujung lidah


Intervensi Keperawatan

Diagnosa. 1

Perubahan perfusi jaringan serebral b.d terputunya aliran darah : penyakit oklusi, perdarahan, spasme pembuluh darah serebral, edema serebral

Dibuktikan oleh :
  • perubahan tingkat kesadaran , kehilangan memori
  • perubahan respon sensorik / motorik, kegelisahan
  • deficit sensori , bahasa, intelektual serta emosional
  • perubahan tanda tanda vital
Tujuan Pasien / Kriteria evaluasi ;
  • terpelihara serta meningkatnya tingkat kesadaran, kognisi serta fungsi sensori / motor
  • menampakan stabilisasi tanda vital serta tidak ada PTIK
  • Peran pasien menampakan tidak adanya kemunduran / kekambuhan
Intervensi :

Independen
  • tentukan factor factor yang berhubungan dengan situasi individu/ penyebab koma / penurunan perfusi serebral serta potensial PTIK
  • monitor serta catat status neurologist secara teratur
  • monitor tanda tanda vital
  • evaluasi pupil 9 ukuran bentuk kesamaan serta reaksi terhadap cahaya 0
  • Bantu untuk mengubah pandangan , misalnay pandangan kabur, perubahan lapang pandang / persepsi lapang pandang
  • Bantu meningkatakan fungsi, termasuk bicara bila pasien mengalami gangguan fungsi
  • Kepala dielevasikan perlahan lahan pada posisi netral .
  • Pertahankan tirah baring , sediakan lingkungan yang tenang , atur kunjungan sesuai indikasi
Kolaborasi
  • berikan suplemen oksigen sesuai indikasi
  • berikan medikasi sesuai indikasi : Antifibrolitik, missal aminocaproic acid ( amicar), Antihipertensi, Vasodilator perifer, missal cyclandelate, isoxsuprine, Manitol

Diagnosa. 2

Ketidakmampuan mobilitas fisik b.d kelemahan neuromuscular, ketidakmampuan dalam persespi kognitif

Dibuktikan oleh :
  • Ketidakmampuan dalam bergerak pada lingkungan fisik : kelemahan, koordinasi, keterbatasan rentang gerak sendi, penurunan kekuatan otot.
Tujuan Pasien / criteria evaluasi ;
  • tidak ada kontraktur, foot drop.
  • Adanya peningkatan kemampuan fungsi perasaan atau kompensasi dari bagian tubuh
  • Menampakan kemampuan perilaku / teknik aktivitas sebagaimana permulaanya
  • Terpeliharanya integritas kulit
Intervensi

Independen
  • Rubah posisi tiap dua jam ( prone, supine, miring )
  • Mulai latihan aktif / pasif rentang gerak sendi pada semua ekstremitas
  • Topang ekstremitas pada posis fungsional , gunakan foot board pada saat selama periode paralysisi flaksid. Pertahankan kepala dalam keadaan netral
  • Evaluasi penggunaan alat bantu pengatur posisi
  • Bantu meningkatkan keseimbangan duduk
  • Bantu memanipulasi untuk mempengaruhi warna kulit edema atau menormalkan sirkulasi
  • Awasi bagian kulit diatas tonjolan tulang

Kolaboratif
  • konsul kebagian fisioterapi
  • Bantu dalam meberikan stimulasi elektrik
  • Gunakan bed air atau bed khusus sesuai indikasi

Diagnosa. 3

Gangguan komunikasi verbal b.d gangguan sirkulasi serebral, gangguan neuromuskuler, kehilangan tonus otot fasial / mulut, kelemahan umum / letih.

Ditandai :
  • Gangguan artikulasi
  • Tidak mampu berbicara / disartria
  • ketidakmampuan moduasi wicara , mengenal kata , mengidentifikasi objek
  • Ketidakmampuan berbicara atau menulis secara komprehensip
Tujuan pasien / criteria evaluasi
  • Pasien mampu memahami problem komunikasi
  • Menentukan metode komunikasi untuk berekspresi
  • Menggunakan sumber bantuan dengan tepat
Intervensi

Independen
  • Bantu menentukan derajat disfungsi
  • Bedakan antara afasia denga disartria
  • Sediakan bel khusus bila diperlukan
  • Sediakan metode komunikasi alternatif
  • Antisipasi serta sediakan kebutuhan paien
  • Bicara langsung kepada pasien dengan perlahan serta jelas
  • Bicara dengan nada normal
Kolaborasi :
  • Konsul dengan ahli terapi wicara

Diagnosa. 4

Perubahan persepsi sensori b.d penerimaan perubahan sensori transmisi, perpaduan ( trauma / penurunan neurology), tekanan psikologis (penyempitan lapangan persepsi disebabkan oleh kecemasan)

Ditandai ;
  • Disorientasi waktu, tempat , orang
  • Perubahan pla tingkah aku
  • Konsentrasi jelek, perubahan proses piker
  • Ketidakmampuan untuk mengatakan letak organ tubuh
  • Perubahan pola komunikasi
  • Ketidakmampuan mengkoordinasi kemampuan motorik.
Tujuan / Kriteria hasil :
  • Dapat mempertahakan level kesadaran serta fungsi persepsi pada level biasanya.
  • Perubahan pengetahuan serta mampu terlibat
  • Mendemonstrasikan perilaku untuk kompensasi
Intervensi

Independen
  • Kaji patologi kondisi individual
  • Evaluasi penurunan visual
  • Lakukan pendekatan dari sisi yang utuh
  • Sederhanakan lingkungan
  • Bantu pemahaman sensori
  • Beri stimulasi terhadap sisa sisa rasa sentuhan
  • Lindungi psien dari temperature yang ekstrem
  • Pertahankan kontak mata saat berhubungan
  • Validasi persepsi pasien

Diagnosa. 5

Kurang perawatan diri b.d kerusakan neuro muskuler, penurunan kekuatan serta ketahanan, kehilangan kontrol /koordinasi otot

Ditandai dengan :
  • kerusakan kemampuan melakukan AKS misalnya ketidakmampuan makan ,mandi, memasang/melepas baju, kesulitan tugas toiletng
Kriteria hasil:
  • Melakukan aktivitas perwatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri
  • Mengidentifikasi sumber pribadi /komunitas dalam memberikan bantuan sesuai kebutuhan
  • Mendemonstrasikan perubahan gaya hidup untuk memenuhi kenutuhan perawatan diri
Intervensi:
  • Kaji kemampuan sertatingkat kekurangan (dengan menggunakan skala 1-4) untuk melakukan kebutuhan ssehari-hari
  • Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasiensendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan
  • Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi tentang kebutuhannya untuk menghindari serta atau kemampuan untuk menggunakan urinal,bedpan.
  • Identifikasi kebiasaan defekasi sebelumnya serta kembalikanpada kebiasaan pola nornal tersebut. Kadar makanan yang berserat,anjurkan untuk minum banyak serta tingkatkan aktivitas.
  • Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya.
Kolaborasi;
  • Berikan supositoria serta pelunak feses
  • Konsultasikan dengan ahli fisioterapi/okupasi

Diagnosa. 6.

Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d kerusakan batuk, ketidakmampuan mengatasi lendir

kriteria hasil:
  • Pasien memperlihatkan kepatenan jalan napas
  • Ekspansi dada simetris
  • Bunyi napas bersih saaatauskultasi
  • Tidak terdapat tanda distress pernapasan
  • GDA serta tanda vital dalam batas normal
Intervensi:
  • Kaji serta pantau pernapasan, reflek batuk serta sekresi
  • Posisikan tubuh serta kepala untuk menghindari obstruksi jalan napas serta memmberikan pengeluaran sekresi yang optimal
  • Penghisapan sekresi
  • Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi jalan napas setiap 4 jam
  • Berikan oksigenasi sesuai advis
  • Pantau BGA serta Hb sesuai indikasi

Diagnosa. 7

Gangguan pemenuhan nutrisi b.d reflek menelan turun,hilang rasa ujung lidah

Ditandai dengan:
  • Keluhanmasukan makan tidak adekuat
  • Kehilangan sensasi pengecapan
  • Rongga mulut terinflamasi
Kriteria evaluasi:
  • Pasien dapat berpartisipasi dalam intervensi specifik untukmerangsang nafsu makan
  • BB stabil
  • Pasien mengungkapkan pemasukan adekuat
Intervensi;
  • Pantau masukan makanan setiap hari
  • Ukur BB setiap hari sesuai indikasi
  • Dorong pasien untukmkan diit tinggi kalori kaya nutrien sesuai program
  • Kontrol faktor lingkungan (bau, bising), hindari makanan terlalu manis,berlemak serta pedas. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan
  • Identifikasi pasien yang mengalami mual muntah
Kolaborasi:
  • Pemberian anti emetikdengan jadwal reguler
  • Vitamin A,D,E serta B6
  • Rujuk ahli diit
  • Pasang /pertahankan slang NGT untuk pemberian makanan enteral. (DoengesE, Marilynn,2000 hal 293-305)

Daftar Pustaka
  • Long C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah, Jilid 2, Bandung, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, 1996
  • Tuti Pahria, dkk, Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Ganguan Sistem Persyarafan, Jakarta, EGC, 1993
  • Pusat pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan , Jakarta, Depkes, 1996
  • Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta, EGC ,2002
  • Marilynn E, Doengoes, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta, EGC, 2000
  • Harsono, Buku Ajar : Neurologi Klinis,Yogyakarta, Gajah Mada university press, 1996

0 Response to "Laporan Pendahuluan Stroke Hemoragik, pdf serta doc"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel