Mekanisme Persalinan Normal (Rangkaian Gerakan Janin Untuk Melewati Jalan Lahir)

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin serta uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan  melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Normalnya persalinan terjadi pada kelahiran aterm (bukan prematur atau post matur), memiliki onset yang spontan (tidak diinduksi), selesai setelah 4 jam serta sebelum 24 jam sejak awitannya, memiliki janin tunggal dengan presentasi verteks serta oksiput pada bagian anterior pelvis, terlaksana tanpa bantuan artifisial (seperti forsep), tidak mencakup komplikasi serta mencakup pelahiran plasenta yang normal (Farrer. 1999). Pada persalinan normal, janin akan melakukan serangkaian gerakan yang disebut dengan mekanisme persalinan normal supaya dapat menyesuaikan diri untuk melewati jalan lahir atau panggul ibu.


Adapun gerakan janin atau mekanisme persalinan menurut (Harry, william. 1986) adalah sebagai berikut :

1. Penurunan

Penurunan yang meliputi engagement pada diameter obliqua kanan panggul, berlangsung terus selama persalinan normal pada waktu janin melalui jalan lahir. Gerakan-gerakan lainnya menyertai penurunan ini. pada primigravida sebelum persalinan mulai sudah harus terjadi penurunan kepala yang jelas dalam proses engagement. Penurunan disebabkan oleh tekanan kontraksi uterus ke bawah serta pada kala II dibantu oleh daya mengejan dari pasien serta sedikit oleh gaya berat.

2. Fleksi

Sebelum persalinan mulai sudah terjadi fleksi sebagian oleh karena ini merupakan sikap alamiah janin dalam uterus. Tahanan terhadap penurunan kepala menyebabkan bertambahnya fleksi. Occiput turun mendahului sinciput, UUK lebih rendah daripada bregma serta dagu janin mendekati dadanya. biasanya ini terjadi di PAP, tetapi mungkin pula baru sempurna setelah bagian terendah mencapai dasar panggul. Efek  dari fleksi adalah untuk merubah diameter terendah dari occipitofrontalis (11,0 cm) menjadi suboccipito bregmatika (9,5 cm) yang lebih kecil serta lebih bulat. oleh karena persesuaian antara kepala janin dengan panggul ibu mungkin ketat, pengurangan 1,5 cm dalam diameter terendah adalah penting

3. Putar paksi dalam

Sebagian besar panggul memiliki PAP berbentuk oval melintang. diameter anteroposterior PTP sedikit lebih panjang dari pada diameter transversal. PBP berbentuk oval anteroposterior seperti kepala janin. Sumbu panjang kepala janin harus sesuai dengan sumbu panjang panggul ibu. karenanya  kepala janin yang masuk PAP pada diameter transversal atau obliqua harus berputar kediameter anteroposterior supaya dapat lahir. UUK masuk PTP tempat ia berhubungan dengan dasar panggul (musculus serta fascia levator ani). disini UUK berputar 45 ke kanan (menuju garis tengah). sutura sagitalis pindah dari diameter obliqua kanan ke diameter anterioposteror panggul : LOA ke OA. UUK mendekati sympisis pubis serta sinciput mendekati sakrum. Kepala berputar dari diameter obliqua kanan kediameter anteroposterior panggul. Tetapi bahu tetap pada diameter obliqua kiri. Dengan demikian hubungan normal antara sumbu panjang kepala dengan sumbu panjang bahu berubah, serta leher berputar 45. Keadaan ini terus berlangsung selama kepala masih berada dalam panggul. Putar paksi dalam yang awal sering terjadi pada multipara serta pada pasien dengan kontraksi uterus yang efisien. umumnya putar paksi dalam terjadi pada kala II.

4. Ekstensi

Ekstensi pada dasarnya disebabkan oleh dua kekuatan yaitu: kontraksi uterus yang menimbulkan tekanan ke bawah serta dasar panggul yang memberikan tahanan. Dinding depan panggul(pubis) panjangnya hanya 4 sampai 5 cm, sedangkan dinding belakang (sakrum) 10 sampai 15 cm. Dengan demikian sinciput harus menempuh jarak yang lebih panjang daripada occiput. Dengan semakin turunnya kepala terjadilah penonjolan perineum diikuti dengan kepala membuka pintu (crowing ). Occiput lewat melalui PAP perlahan-lahan serta tengkuk menjadi titik putar di angulus subpubicus. Kemudian dengan proses extensi yang cepat sinciput menelurus sepanjang sakrum serta berturut-turut lahirlah bregma, dahi, hidung, mulut, serta dagu melalui perineum. 

5. Restitusi

Pada waktu kepala mencapai dasar panggul, maka bahu memasuki panggul. Oleh karena panggul tetap berada pada diameter obliqua sedangkan kepala berputar ke depan, maka leher ikut berputar. Begitu kepela dilahirkan serta bebas dari panggul maka leher berputar kembali serta kepala mengadakan restitusi kembali 45 (OA menjadi LOA) sesampai hubungannya dengan bahu serta kedudukannya dalam panggul menjadi normal kembali.

6. Putar paksi luar

Putar paksi luar kepala sebenarnya merupakan manifestasi putar paksi dalam daripada bahu. Pada waktu bahu mencapai dasar panggul bahu depan yang lebih rendah berputar ke depan di bawah simpisis serta diameter dapatcromialis berputar dari diameter obliqua kiri menjadi diameter anteroposterior panggul. Dengan begini maka diameter memanjang bahu dapat sesuai dengan diameter memanjang PBP. Kepala yang telah berputar kembali 45 untuk mengembalikan hubungan normal dengan bahu, sekarang berputar 45 lagi untuk mempertahankannya: LOA menjadi LOT.

0 Response to "Mekanisme Persalinan Normal (Rangkaian Gerakan Janin Untuk Melewati Jalan Lahir)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel